UNSIAUNSIA

Jurnal Masyarakat Siber (JMS)Jurnal Masyarakat Siber (JMS)

Interaksi dalam dunia virtual dengan berbagai latar belakang yang berbeda, khususnya dalam hal agama (multireligi), perlu diiringi pemahaman holistik dalam memandang dan menyikapi perbedaan. Mengingat isu agama merupakan isu sensitif yang rentan menimbulkan konflik horizontal, literasi media menjadi upaya solutif-preventif untuk meminimalkan terbentuknya pemahaman radikal. Dengan kemampuan menyaring informasi, bijak menyikapi perbedaan identitas agama, serta memiliki manajemen komunikasi yang baik di media sosial, akan tercipta situasi yang kondusif, aman, damai, dan penuh toleransi di tengah masyarakat multikultural-multireligi. Pengabdian ini bertujuan mengedukasi masyarakat, khususnya pelajar, dalam penggunaan dan pemanfaatan media sosial sebagai ruang publik virtual yang memfasilitasi komunikasi, interaksi, dan sosialisasi. Kurangnya pengetahuan tentang penggunaan media sosial sebagai media informasi sering menimbulkan gejala sosial seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan gesekan sosial terkait isu sensitif seperti agama.

Setiap pelajar perlu dibekali kemampuan mengelola identitas komunikasi secara personal maupun komunal yang terkait dengan atribut agama.Dengan keterampilan mengelola identitas di ruang virtual, pelajar dapat melakukan filterisasi terhadap dampak buruk media sosial seperti cybercrime, termasuk penyebaran ajaran radikalisme agama.Media sosial berperan kuat dalam menanamkan paham-paham radikal yang mengubah pola pikir dan perilaku, terutama melalui isu-isu seperti aliran keagamaan menyimpang dan fanatisme yang muncul akibat keragaman latar belakang masyarakat.

Penelitian lanjutan dapat menggali bagaimana pelajar dari berbagai latar belakang agama membangun identitas digital mereka secara aktif di media sosial, bukan hanya sebagai penerima informasi tetapi sebagai agen yang membangun narasi toleransi. Selain itu, studi baru bisa mengeksplorasi efektivitas kurikulum literasi media yang terintegrasi dalam pembelajaran sekolah menengah untuk membentuk kebiasaan kritis dalam menyaring informasi agama di dunia maya. Terakhir, perlu diteliti bagaimana interaksi antara faktor budaya lokal, penggunaan bahasa daerah di media sosial, dan kecenderungan munculnya ujaran kebencian berbasis agama, agar strategi edukasi literasi media bisa disesuaikan dengan konteks regional yang spesifik. Ketiga arah penelitian ini saling melengkapi: yang pertama fokus pada agency individu, yang kedua pada sistem pendidikan, dan yang ketiga pada konteks sosio-budaya lokal, sehingga membentuk pendekatan holistik dalam menangani radikalisme digital di kalangan generasi muda.

  1. #faktor budaya lokal#faktor budaya lokal
  2. #budaya lokal#budaya lokal
Read online
File size373.47 KB
Pages5
Short Linkhttps://juris.id/p-1Ui
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test