WINDARIWINDARI

Kumaracitta : Jurnal Pendidikan Anak Usia DiniKumaracitta : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini

Perkembangan sosial anak usia dini di lingkungan posyandu masih belum optimal, ditandai dengan kecenderungan bermain individual, keterbatasan komunikasi, serta rendahnya kemampuan kerja sama dan penyelesaian konflik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan sosial anak usia dini melalui kegiatan bermain LEGO di Taman Posyandu Melati Glinggangan, dengan fokus pada aspek kerja sama, komunikasi sosial, empati, dan penyelesaian konflik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian adalah anak usia 4–5 tahun, dengan informan pendukung orang tua dan kader posyandu. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kegiatan bermain LEGO mampu menunjukkan perkembangan sosial anak, dari pola bermain individual (solitary play) menuju bermain kooperatif (cooperative play), peningkatan kemampuan komunikasi dari nonverbal menjadi verbal kompleks, berkembangnya perilaku empati seperti berbagi dan membantu, serta meningkatnya kemampuan menyelesaikan konflik melalui negosiasi dan kerja sama. Efektivitas kegiatan ini didukung oleh sifat LEGO yang open-ended dan peran kader sebagai fasilitator (scaffolding), meskipun terdapat hambatan seperti keterbatasan alat, dan lingkungan yang kurang kondusif. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan pendidikan anak usia dini berbasis komunitas dengan menegaskan bahwa bermain konstruktif dapat menjadi strategi efektif dalam menstimulasi perkembangan sosial anak.

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan bermain LEGO di Taman Posyandu Melati Glinggangan terbukti efektif dalam menstimulasi perkembangan sosial anak usia dini, khususnya pada anak usia 4–5 tahun.Peningkatan perkembangan sosial terlihat pada empat indikator utama, yaitu kerja sama, komunikasi sosial, empati, dan kemampuan penyelesaian konflik.Anak yang pada awalnya cenderung bermain secara individual (solitary play) mengalami perkembangan menuju pola bermain kooperatif (cooperative play), yang ditandai dengan kemampuan berbagi peran, bekerja sama, serta memahami tujuan bersama dalam aktivitas kelompok.Selain itu, kemampuan komunikasi sosial anak berkembang dari komunikasi nonverbal dan sederhana menjadi komunikasi verbal yang lebih kompleks melalui kemampuan menyampaikan ide, bernegosiasi, dan merespons interaksi secara aktif.Pada aspek empati, anak mulai menunjukkan perilaku prososial seperti membantu, berbagi, dan menunggu giliran, meskipun beberapa anak masih menunjukkan perilaku egosentris yang menandakan bahwa perkembangan sosial berlangsung secara bertahap.Dalam aspek penyelesaian konflik, anak mengalami perkembangan dari perilaku reaktif seperti menangis dan berebut menuju penyelesaian konflik yang lebih konstruktif melalui negosiasi, bergiliran, dan komunikasi yang lebih baik, terutama dengan adanya pendampingan kader sebagai fasilitator.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada dampak jangka panjang dari kegiatan bermain konstruktif seperti LEGO terhadap perkembangan sosial-emosional anak usia dini. Selain itu, perlu dikaji perbandingan efektivitas permainan konstruktif lainnya dalam konteks posyandu di wilayah perkotaan dan pedesaan. Terakhir, penelitian juga bisa mengeksplorasi peran keterlibatan orang tua dalam memperkuat hasil stimulasi sosial melalui aktivitas bermain bersama di lingkungan posyandu. Dengan demikian, pemanfaatan permainan konstruktif dapat diperluas sebagai strategi berkelanjutan untuk mendukung perkembangan sosial anak sejak dini. Penelitian juga dapat mengevaluasi dampak penggunaan teknologi dalam memfasilitasi interaksi kolaboratif selama bermain, seperti penggunaan aplikasi interaktif untuk memperkaya pengalaman bermain anak. Selain itu, penting untuk meneliti bagaimana variasi jenis permainan konstruktif dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan minat anak berdasarkan latar belakang budaya atau sosial ekonomi. Penelitian juga bisa mengeksplorasi pengaruh durasi dan frekuensi kegiatan bermain terhadap perkembangan keterampilan sosial anak. Dengan menggabungkan pendekatan ini, penelitian lanjutan dapat memberikan wawasan lebih dalam tentang optimalisasi stimulasi sosial melalui aktivitas bermain konstruktif di lingkungan posyandu.

  1. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.2307/1128796Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 2307 1128796
  2. KAJIAN LITERATUR: SCAFFOLDING BERBASIS MEDIA DALAM MENDUKUNG ZONE OF PROXIMAL DEVELOPMENT (ZPD) PESERTA... jurnal.citrabakti.ac.id/index.php/jcp/article/view/5402KAJIAN LITERATUR SCAFFOLDING BERBASIS MEDIA DALAM MENDUKUNG ZONE OF PROXIMAL DEVELOPMENT ZPD PESERTA jurnal citrabakti ac index php jcp article view 5402
Read online
File size436.2 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test