UNDIPUNDIP

Indonesian PerspectiveIndonesian Perspective

Proyeksi Indonesia sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar keempat di tahun 2045 menjadi salah satu diskursus yang banyak diperbincangkan, terutama pada periode kedua Pemerintahan Presiden Joko Widodo. Argumen utamanya adalah karena di tahun tersebut Indonesia akan mendapatkan apa yang disebut sebagai demographic dividend. Nyatanya, ditinjau dari kapasitas material ekonomi, sumbangsih Indonesia terhadap perekonomian global berdasarkan GDP misalnya, masih jauh tertinggal dengan major power. Jika hanya mengandalkan pada pertumbuhan GDP, eksposur pembangunan ekonomi Indonesia tidak akan terjadi secara eksponensial. GDP Indonesia di tahun 2023 bahkan setara dengan GDP Italia di tahun 2002. Artinya, Indonesia mesti menunggu lama atau setidaknya 21 tahun hingga 2045 untuk menjadi kekuatan baru ekonomi dunia. Artikel ini mencoba menawarkan gagasan konseptual mengenai upaya yang harus Indonesia tempuh lebih dulu untuk mewujudkan ambisi sebagai kekuatan baru dunia. Alih-alih hanya bersandar pada kapasitas material, Indonesia perlu mendefinisikan statusnya dalam pergaulan internasional. Apabila tidak, maka Indonesia akan semakin terjerambab dalam middle power trap yang menghambat langkahnya untuk menjadi new major relevance power.

Merumuskan kesimpulan dari penjabaran di atas, bahwa keterlibatan Indonesia dalam beragam forum multilateral didorong oleh semangat Indonesia untuk membawa semangat kekuatan menengah dalam forum global.Hanya saja semangat tersebut hanya merefleksikan posisi mediator/bridger kepentingan major power.Kecenderungan Indonesia yang hanya menjadi fasilitator ditengarai oleh pilihan Indonesia yang cenderung enggan melepaskan diri status middle power.Padahal pemaknaan dan pemahaman terhadap identitas merupakan langkah awal untuk menyandang status sebagai major relevace power.Tak ayal apabila Indonesia terperangkap dalam middle income country selama 29 tahun yang ditengarai oleh kegagalan dalam mendefinisikan peran secara jelas dalam pergaulan internasional.Interdependensi ekonomi hanyalah alat, namun signifikansi peran dalam multilateralisme harus didahului dengan identifikasi peran dalam pergaulan internasional.Pada akhirnya, penulis ingin menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia untuk menjadi major relevance power global tidak semata-mata didasarkan pada kapasitas ekonomi atau material, namun didasarkan pemaknaan akan identitas.Untuk itu, yang pertama kali harus Indonesia lakukan adalah mencitrakan ulang status sebagai bridger menjadi aktor dengan peran decider.Kedua, Indonesia perlu melakukan pemerataan aktivitas ekonomi guna melepaskan (detach) ketergantungan terhadap major power.Ketiga, perlu dilakukan pergeseran (remapping) dari yang sebelumnya cenderung balancing terhadap major power menjadi negara dengan peran sebagai pengarah (navigator) terhadap lower power.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan bagian saran penelitian lanjutan, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang baru:. . 1. Bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan keterlibatan aktifnya dalam forum internasional untuk mengejar status major power? Apakah Indonesia perlu mengubah peran dari hanya sebatas fasilitator menjadi negara dengan peran sebagai penentu dalam forum internasional?. . 2. Bagaimana Indonesia dapat melepaskan diri dari ketergantungan terhadap major power dan melakukan perimbangan kekuatan dalam forum internasional? Apakah Indonesia perlu melakukan diversifikasi pasar dan memasuk pasokan komoditas vital terhadap negara-negara lower power, terutama di kawasan Afrika?. . 3. Bagaimana Indonesia dapat melakukan pergeseran dari posisi sebagai penyeimbang menjadi pengarah terhadap lower power? Apakah Indonesia perlu memperkuat peran sebagai penghubung (bridge builder) antara kepentingan regional dan global, dan bagaimana hal ini dapat membantu Indonesia dalam mengejar status sebagai major power?.

  1. Indonesia Matters. matters system upgrade feb 12th period commerce registration users available hours... worldscientific.com/worldscibooks/10.1142/9298Indonesia Matters matters system upgrade feb 12th period commerce registration users available hours worldscientific worldscibooks 10 1142 9298
  2. 0. loading direct.mit.edu/isec/article/23/1/171-200/115970 loading direct mit edu isec article 23 1 171 200 11597
  3. Di Bawah Spirit Liberal-Institusionalisme: Kajian Komparatif Gagasan Dynamic Equilibrium dan ASEAN Outlook... doi.org/10.14710/ip.v8i1.55088Di Bawah Spirit Liberal Institusionalisme Kajian Komparatif Gagasan Dynamic Equilibrium dan ASEAN Outlook doi 10 14710 ip v8i1 55088
  4. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.2307/20031702Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 2307 20031702
Read online
File size532.12 KB
Pages24
DMCAReport

Related /

ads-block-test