UNDIPUNDIP

Indonesian PerspectiveIndonesian Perspective

Konflik Laut China Selatan (LCS) menjadi tantangan keamanan maritim yang kompleks di Asia Tenggara, melibatkan klaim teritorial antara negara-negara ASEAN dan Tiongkok. Sebagai negara kepulauan terbesar dan pendiri ASEAN, Indonesia berperan strategis dalam mendorong diplomasi maritim untuk menjaga stabilitas kawasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor pendukung dan penghambat keberhasilan Indonesia dalam diplomasi maritim ASEAN, serta merumuskan strategi peningkatan stabilitas keamanan regional di LCS. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan NVivo 12 Plus, penelitian ini menemukan bahwa diplomasi maritim Indonesia didukung oleh posisi geografis strategis dan peran historisnya di ASEAN. Inisiatif seperti East Asia Summit Statement dan ASEAN Seaport Interdiction Task Force mencerminkan kepemimpinan regional Indonesia. Namun, upaya ini terkendala oleh lemahnya kepemimpinan kolektif ASEAN dan rivalitas Tiongkok-Amerika Serikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi Indonesia menekankan pendekatan non-konfrontatif berbasis hukum internasional dan prinsip bebas aktif, dengan peran sebagai mediator netral dalam dialog ASEAN-Tiongkok, termasuk penyusunan Code of Conduct (CoC). Diplomasi ini perlu diperluas untuk mencakup pengelolaan konflik, kerja sama ekonomi biru, dengan melakukan konvergensi kebijakan dengan negara anggota ASEAN lainnya seperti Malaysia. Pendekatan kooperatif ini diharapkan memperkuat pengaruh Indonesia sekaligus menjaga stabilitas dan sentralitas ASEAN.

Strategi diplomasi maritim Indonesia di Laut China Selatan menonjolkan pendekatan non-konfrontatif berbasis hukum internasional dan prinsip bebas aktif.Indonesia berperan sebagai mediator netral, memfasilitasi dialog ASEAN-Tiongkok, termasuk penyusunan Code of Conduct (CoC).Namun, ruang lingkup diplomasi maritim Indonesia yang terbatas pada isu perbatasan dan kerja sama konvensional perlu diperluas untuk memanfaatkan potensi strategis lebih besar, seperti pengelolaan konflik, penguatan kerja sama ekonomi biru, dan pencegahan ancaman lintas negara.Diplomasi maritim Indonesia perlu dibuat dalam kebijakan konvergensi bersama dengan Malaysia, yang dinilai memiliki strategi serupa dalam konteks LCS dengan Indonesia, guna menjaga stabilitas kawasan.

1. Penelitian lanjutan dapat mengkaji potensi ekonomi biru di Laut China Selatan sebagai alat diplomasi maritim yang berkelanjutan, dengan fokus pada kerja sama ekonomi antara ASEAN dan Tiongkok. 2. Analisis peran non-pemerintah seperti komunitas nelayan dalam pengelolaan sumber daya laut di LCS dapat menjadi arah studi baru untuk memperkuat keamanan maritim regional. 3. Studi tentang efektivitas mekanisme konsensus ASEAN dalam menangani dinamika keamanan maritim di LCS, khususnya dalam menghadapi ancaman non-tradisional seperti perburuan ikan ilegal dan kerusakan ekosistem.

  1. Naval Diplomacy: Upaya Defensif Indonesia dalam Konflik Laut Tiongkok Selatan di Era Joko Widodo | Jurnal... e-journal.unair.ac.id/JHI/article/view/14027Naval Diplomacy Upaya Defensif Indonesia dalam Konflik Laut Tiongkok Selatan di Era Joko Widodo Jurnal e journal unair ac JHI article view 14027
  2. SOUTH CHINA SEA: CONFLICT, CHALLENGE, AND SOLUTION | Lampung Journal of International Law. south china... doi.org/10.25041/lajil.v3i1.2266SOUTH CHINA SEA CONFLICT CHALLENGE AND SOLUTION Lampung Journal of International Law south china doi 10 25041 lajil v3i1 2266
Read online
File size577.35 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test