UIN MATARAMUIN MATARAM

SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIASPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA

Paparan sinar matahari yang berlebihan dan berkepanjangan dapat menyebabkan pigmen, kerutan, eritem, dan meningkatkan risiko kanker kulit. Oleh karena itu, produk tabir surya diperlukan untuk melindungi kulit dari radiasi ultraviolet. Buah ara (Ficus racemosa L.) mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, steroid, saponin, dan tannin yang potensial bertindak sebagai agen tabir surya alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor perlindungan sinar matahari (SPF) dan potensi iritasi dari losion tabir surya yang mengandung ekstrak etanol buah Ficus racemosa L. Ekstrak diperoleh dengan makerasasi menggunakan etanol 96%. Nilai SPF ditentukan dengan spektrofotometri UV-Vis, dan pengujian iritasi dilakukan menggunakan Human 4-Hour Patch Test dengan 15 relawan perempuan sehat. Nilai SPF formulasi yang mengandung 0 g (F0), 0,125 g (F1), 0,250 g (F2), 0,500 g (F3), dan 1,000 g (F4) ekstrak adalah 1,3473, 1,5970, 2,4371, 4,1191, dan 4,3891, masing-masing. Berdasarkan SNI nomor 16-4399-1996, hanya F3 dan F4 yang memenuhi persyaratan SPF minimum 4. Tidak ada eritem atau edema yang diamati pada semua formulasi. Hasil ini menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak yang lebih tinggi meningkatkan aktivitas tabir surya, dan F3 dan F4 menunjukkan nilai SPF tertinggi dengan perlindungan tabir surya sedang.

Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol Ficus racemosa L.memiliki potensi sebagai bahan tabir surya alami dalam losion.Peningkatan konsentrasi ekstrak meningkatkan nilai SPF, dengan formulasi F3 dan F4 mencapai perlindungan tabir surya sedang dan memenuhi standar tabir surya.Semua formulasi juga tidak menunjukkan tanda-tanda iritasi kulit, menunjukkan keamanan topikal awal yang baik.Di antara formulasi yang diuji, F3 menunjukkan kinerja SPF yang sebanding dengan F4 tetapi memerlukan konsentrasi ekstrak yang lebih rendah.Temuan ini menekankan peluang memanfaatkan Ficus racemosa L.sebagai bahan botani lokal untuk pengembangan tabir surya.Namun, penelitian ini terbatas pada evaluasi SPF in vitro dan pengujian iritasi jangka pendek, sehingga penelitian lebih lanjut tentang stabilitas, kualitas mikrobiologis, perlindungan spektrum luas UV, dan efektivitas in vivo masih diperlukan.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk mengeksplorasi formulasi yang lebih stabil dan efektif dengan konsentrasi ekstrak yang optimal. Selain itu, perlu dilakukan evaluasi perlindungan spektrum luas UV, termasuk parameter seperti panjang gelombang kritis, rasio UVA/UVB, atau kinerja spektrum luas in vivo. Penelitian lebih lanjut juga dapat dilakukan untuk mengevaluasi potensi iritasi jangka panjang, sensitisasi, fotoalergi, dan reaksi pada individu dengan kondisi kulit sensitif. Dengan demikian, studi dermatologis yang lebih luas akan memberikan wawasan berharga sebelum komersialisasi. Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk mengoptimalkan proses ekstraksi dan mengeksplorasi potensi penggunaan ekstrak Ficus racemosa L. dalam formulasi tabir surya yang berbeda, seperti krim atau gel.

Read online
File size522.57 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test