IAISKJ MALANGIAISKJ MALANG

Al-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran IslamAl-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh transformasi dakwah Islam di era media sosial, khususnya melalui TikTok, yang mendorong penyampaian pesan menjadi lebih ringkas, visual, dan interaktif. Studi ini membandingkan gaya dakwah fikih Ustadz Adi Hidayat dan Ustadz Hanan Attaki serta implikasinya terhadap penerimaan generasi milenial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi pustaka dengan teknik simak bebas libat cakap terhadap konten TikTok dari akun terkait. Sumber data primer diperoleh dari video dakwah melalui akun @ustadzadihidayaatt dan @Ayah Amanah serta didukung sumber sekunder seperti buku dan jurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ustadz Adi Hidayat menggunakan pendekatan sistematis, argumentatif, dan berbasis dalil kuat, sehingga bersifat akademik dan otoritatif. Sebaliknya, Ustadz Hanan Attaki mengedepankan pendekatan naratif-emosional, komunikatif, dan kontekstual yang dekat dengan kehidupan milenial. Keduanya sama-sama memanfaatkan media digital dan menyampaikan materi aplikatif, namun berbeda dalam gaya, bahasa, landasan materi, dan segmentasi audiens. Pendekatan ilmiah lebih efektif bagi audiens yang menginginkan kedalaman dalil, sedangkan pendekatan emosional lebih mudah diterima oleh audiens yang membutuhkan kedekatan psikologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberagaman gaya dakwah di TikTok tidak bersifat kontradiktif, melainkan saling melengkapi dalam menjangkau segmentasi audiens yang berbeda. Variasi pendekatan tersebut memperkaya praktik dakwah digital dan menunjukkan bahwa efektivitas penyampaian pesan fikih sangat dipengaruhi oleh strategi komunikasi yang selaras dengan karakteristik generasi milenial. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan model dakwah Islam yang adaptif, kontekstual, dan responsif terhadap dinamika media sosial.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa Ustadz Adi Hidayat dan Ustadz Hanan Attaki memiliki perbedaan gaya dakwah yang signifikan dalam menyampaikan pesan fikih kepada generasi milenial.Ustadz Adi Hidayat dikenal dengan pendekatan sistematis, terstruktur, dan argumentatif yang berbasis rujukan kuat, sementara Ustadz Hanan Attaki menggunakan gaya naratif-emosional, komunikatif-santai, dan relevan secara kontekstual dengan motivasi yang menyentuh hati.Meskipun berbeda, keduanya memanfaatkan media digital, mendorong keterlibatan audiens, dan menyampaikan materi aplikatif, tetapi memiliki perbedaan dalam gaya penyampaian, landasan materi, bahasa, serta fokus audiens.Strategi mereka untuk membidik generasi milenial juga berbeda, dengan Ustadz Adi Hidayat menggunakan pendekatan ilmiah-rasional dan bahasa formal-komunikatif, sedangkan Ustadz Hanan Attaki memilih pendekatan santai-humoris, visual-interaktif, emosional-inspiratif, dan bahasa yang relevan dengan kaum muda.

Untuk memperkaya pemahaman kita tentang dakwah di era digital, penelitian selanjutnya bisa fokus pada beberapa aspek penting. Pertama, akan sangat menarik jika kita meneliti langsung bagaimana perasaan dan pikiran generasi milenial ketika mereka menonton dakwah dari Ustadz Adi Hidayat yang menekankan dalil kuat dan penjelasan rinci, dibandingkan dengan Ustadz Hanan Attaki yang lebih banyak bercerita dan menyentuh emosi. Kita ingin tahu apakah cara penyampaian yang berbeda ini benar-benar membuat mereka lebih paham atau lebih terinspirasi untuk menjalankan ajaran fikih dalam kehidupan sehari-hari, yang bisa dilakukan dengan wawancara mendalam atau kelompok diskusi. Kedua, penting juga untuk mengukur secara lebih pasti, seberapa efektif masing-masing gaya dakwah ini dalam meningkatkan pengetahuan dan perubahan perilaku keagamaan para milenial di berbagai kelompok usia dan latar belakang. Misalnya, bisa dengan membuat survei atau percobaan kecil untuk melihat dampak langsung dari konten dakwah terhadap pemahaman fikih mereka. Terakhir, mengingat bahwa setiap gaya punya kelebihan, ada baiknya jika kita mencoba merancang dan menguji model dakwah baru yang menggabungkan kedua pendekatan ini. Kita bisa membuat konten video yang menyajikan dalil-dalil kuat secara akademik, namun juga dibungkus dengan cerita atau sentuhan emosional yang menarik, sehingga pesan fikih menjadi lebih mudah dicerna dan diamalkan oleh kaum muda yang aktif di media sosial seperti TikTok. Penelitian semacam ini akan membantu para dai menemukan cara terbaik untuk menyampaikan ajaran agama di tengah cepatnya perubahan teknologi.

  1. Vol. 10 No. 2 (2024): Al-Aulia: Jurnal Pendidikan dan Ilmu-Ilmu Keislaman | Al-Aulia: Jurnal Pendidikan... ejournal.stai-tbh.ac.id/al-aulia/issue/view/95Vol 10 No 2 2024 Al Aulia Jurnal Pendidikan dan Ilmu Ilmu Keislaman Al Aulia Jurnal Pendidikan ejournal stai tbh ac al aulia issue view 95
Read online
File size177.27 KB
Pages25
DMCAReport

Related /

ads-block-test