UGUG

Mediakom : Jurnal Ilmu KomunikasiMediakom : Jurnal Ilmu Komunikasi

Proses mediatisasi yang semakin mendalam telah mengubah perjumpaan antarbudaya dari interaksi yang semula didominasi hubungan interpersonal menjadi praktik komunikasi yang berlangsung dalam kolektivitas yang terhubung secara digital. Artikel ini bertujuan merekonseptualisasi kompetensi komunikasi antarbudaya dengan menempatkannya dalam konteks kolektivitas termediatisasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan konseptual yang dilakukan melalui sintesis literatur mutakhir mengenai komunikasi antarbudaya, mediatisasi, praktik media, dan etnografi digital menggunakan analisis tematik dan integratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan konvensional mengenai kompetensi komunikasi antarbudaya yang berfokus pada dimensi kognitif, afektif, dan perilaku belum memadai untuk menjelaskan praktik komunikasi yang berlangsung dalam kolektivitas yang terbentuk melalui lingkungan media. Studi ini menunjukkan bahwa praktik-praktik media memiliki peran konstitutif dalam membentuk identitas kolektif, relasi sosial, dan pemaknaan bersama. Oleh karena itu, artikel ini mengusulkan kerangka konseptual kompetensi komunikasi antarbudaya yang terdiri atas dimensi kognitif, afektif, perilaku, dan kolektif sebagai landasan teoretis untuk memahami komunikasi dalam masyarakat yang semakin termediatisasi.

Artikel ini menyimpulkan bahwa kompetensi komunikasi antarbudaya pada era mediatisasi mendalam tidak lagi memadai apabila dipahami semata-mata sebagai kemampuan individual untuk berkomunikasi secara efektif dan tepat dalam menghadapi perbedaan budaya, melainkan perlu dipahami sebagai kompetensi yang tertanam dalam praktik-praktik sosial dan diwujudkan melalui partisipasi dalam kolektivitas termediatisasi.Kerangka tersebut sekaligus menjadi jembatan antara tradisi kajian komunikasi antarbudaya dan teori mediatisasi, sehingga memungkinkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kompetensi komunikasi dalam masyarakat digital kontemporer.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji bagaimana algoritma platform media sosial memengaruhi pembentukan identitas kolektif dalam konteks interaksi antarbudaya. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi peran komunitas virtual dalam mengembangkan sensitivitas budaya dan adaptasi komunikasi lintas budaya. Penelitian juga dapat meneliti bagaimana praktik etnografi digital dapat digunakan untuk memahami dinamika komunikasi dalam lingkungan pembelajaran daring yang termediatisasi. Dengan memperluas perspektif ini, peneliti dapat mengungkap cara kolektivitas termediatisasi memfasilitasi atau menghambat proses integrasi budaya di era digital. Selain itu, penting untuk mengevaluasi peran teknologi dalam memediasi konflik budaya dan membangun narasi bersama dalam konteks globalisasi. Penelitian juga dapat fokus pada pengembangan kerangka teoritis yang lebih inklusif untuk mengakomodasi keberagaman praktik komunikasi di berbagai konteks sosial yang termediatisasi. Dengan menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, peneliti dapat menghasilkan rekomendasi praktis untuk pendidikan interkultural dalam masyarakat digital. Penelitian lanjutan juga perlu mengidentifikasi tantangan unik dalam komunikasi antarbudaya di lingkungan media yang terus berkembang. Dengan demikian, studi-studi masa depan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana masyarakat mengadaptasi diri dalam era mediatisasi mendalam.

  1. Kompetensi Komunikasi Antarbudaya Dalam Kolektivitas Termediatisasi | Mediakom : Jurnal Ilmu Komunikasi.... doi.org/10.35760/mkm.2025.v9i2.449Kompetensi Komunikasi Antarbudaya Dalam Kolektivitas Termediatisasi Mediakom Jurnal Ilmu Komunikasi doi 10 35760 mkm 2025 v9i2 449
Read online
File size409.66 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test