TRANSPUBLIKATRANSPUBLIKA

ROMEOROMEO

Penelitian ini menganalisis lirik lagu “Diri oleh Tulus menggunakan pendekatan semiotik Roland Barthes untuk mengeksplorasi bagaimana lagu tersebut membangun dan menyampaikan konsep penyembuhan diri. Dirilis pada 2022 selama periode transisi emosional bagi pemuda Indonesia pasca-pandemi COVID-19, lagu ini menampilkan tema penerimaan diri, kejujuran emosional, dan ketahanan psikologis. Penelitian ini menerapkan model tiga tingkat makna Barthes—denotasi, konotasi, dan mitos—untuk mengungkap bagaimana pesan simbolik dalam lirik merepresentasikan pengalaman emosional individu dan narasi budaya yang lebih luas. Konten lirik dianalisis secara kualitatif, dengan setiap bait yang dipilih diinterpretasikan berdasarkan makna literal, emosional, dan ideologisnya. Temuan menunjukkan bahwa “Diri tidak hanya berfungsi sebagai refleksi pribadi, tetapi juga sebagai artefak budaya yang memperkuat nilai-nilai baru tentang kemandirian emosional dan kesejahteraan mental dalam masyarakat perkotaan Indonesia. Melalui bait-bait yang mendorong pengampunan, dialog internal, dan batasan emosional, lagu ini menyampaikan ideal yang selaras dengan pemuda kontemporer. Namun, lagu ini juga mencerminkan ketegangan antara tanggung jawab pribadi dan dukungan kolektif dalam proses penyembuhan. Penelitian ini menunjukkan relevansi analisis semiotik dalam menginterpretasikan diskursus psikologis dalam musik populer. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan aplikasi teori Barthes di luar konteks Barat dan memberikan wawasan tentang bagaimana musik dapat membentuk serta mencerminkan budaya emosional. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk penelitian masa depan dalam studi budaya, psikologi media, dan peran seni dalam kesadaran kesehatan mental.

Lirik lagu “Diri oleh Tulus menceritakan perjalanan emosional pribadi tentang refleksi diri dan penyembuhan.Melalui afirmasi lembut dan ekspresi introspektif, lagu ini menggambarkan proses penerimaan diri, baik kelebihan maupun kekurangan, serta keberanian untuk memaafkan kesalahan masa lalu.Setiap bait menggambarkan tahapan berbeda dari pemulihan emosional, dari pengakuan dan penerimaan hingga pengampunan dan penenangan.Urutan ini menekankan pentingnya kesadaran diri sebagai fondasi pertumbuhan dan kedewasaan emosional.Lagu ini juga mencerminkan nilai-nilai budaya yang lebih luas seputar cinta diri dan penyembuhan diri, yang semakin relevan dalam diskursus pasca-pandemi, terutama di kalangan pemuda Indonesia.Bahasa simbolik untuk mempromosikan dialog internal seperti katakan pada dirimu semuanya akan baik-baik saja dan ingat aku, arti cukup menempatkan lagu ini sebagai refleksi pribadi dan ekspresi publik tentang ketahanan emosional.Lirik ini menjangkau generasi yang mencari ketenangan dan makna di tengah ketidakpastian, stres, dan harapan-harapan modern yang berkembang.Selain itu, tindakan menyampaikan emosi dan menetapkan batasan pribadi, yang menjadi inti dari lagu ini, memperkuat nilai-nilai kemandirian emosional, penerimaan diri, dan kesejahteraan psikologis.Liriknya memberikan kosakata emosional yang sering absen dalam percakapan sehari-hari, menjadikan “Diri kontribusi bermakna terhadap kesadaran kesehatan mental dalam budaya populer.Secara teoretis, artikel ini menunjukkan kegunaan model semiotik Roland Barthes sebagai kerangka efektif untuk mendekripsi makna berlapis dalam teks budaya, terutama lirik lagu.Artikel ini memastikan bahwa lagu tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana penyampaian narasi ideologis seputar identitas, emosi, dan ideal psikologis.Pendekatan ini memberikan wawasan berharga untuk studi masa depan dalam budaya populer, psikologi media, dan analisis diskursus.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi lagu-lagu lain yang membahas tema penyembuhan diri dengan pendekatan semiotik untuk membandingkan cara budaya lokal menggambarkan konsep serupa. Selain itu, studi dapat memperluas analisis ke beberapa lagu populer sekaligus mempertimbangkan respons audiens melalui survei atau wawancara untuk memahami bagaimana makna lirik diterima dan diinterpretasikan oleh pendengar. Terakhir, penelitian bisa menggabungkan analisis semiotik dengan pendekatan psikologis untuk mengeksplorasi hubungan antara struktur lirik dan dampak emosionalnya pada pendengar, terutama dalam konteks pemulihan mental.

  1. PESAN-PESAN MOTIVASI DALAM LIRIK LAGU “DIRI” KARYA TULUS: ANALISIS SEMIOTIKA | Concept: Journal... journal-stiayappimakassar.ac.id/index.php/Concept/article/view/37PESAN PESAN MOTIVASI DALAM LIRIK LAGU AuDIRIAy KARYA TULUS ANALISIS SEMIOTIKA Concept Journal journal stiayappimakassar ac index php Concept article view 37
  2. Moral Message Of Nature's Sustainability: Semiotic Analysis Of Alam Menyapa On Audio-Visual Music... jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/GDG/article/view/41405Moral Message Of Natures Sustainability Semiotic Analysis Of Alam Menyapa On Audio Visual Music jurnal unimed ac 2012 index php GDG article view 41405
  3. From Lyric to Meaning: Self-Healing in Tulus’ “Diri” Through Barthes’ Semiotics... ojs.transpublika.com/index.php/ROMEO/article/view/1767From Lyric to Meaning Self Healing in TulusAo AuDiriAy Through BarthesAo Semiotics ojs transpublika index php ROMEO article view 1767
Read online
File size383.72 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test