UIN SGDUIN SGD

Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas BudayaReligious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya

Agama seharuhnya menjadi sumber tatanan masyarakat dan perdamaian batin sebagai sesuatu yang mengagungkan dan memuliakan, serta membuat manusia beradab. Implementasi dari ajaran agama harusnya menjadi pedoman bagi kehidupan manusia agar tercapainya kebahagiaan bersama. Akan tetapi, dalam melakukan kehidupan sosial masyarakat manusia dihadapkan kepada tiga permasalahan, yaitu katidakmampuan, ketidakberdayaan, dan ketidakpastian. Sehingga dewasa ini, khususnya di Kota Bandung, sering terjadi konflik sosial-keagamaan yang diperankan oleh para pemeluk agama itu sendiri. Ironisnya, ajaran agama kerap dipandang sebagai muaranya sebuah konflik. Hal inilah yang menjadi ketidakselarasan antara teori dengan fakta yang ada, sehingga menimbulkan ketidaksesuaian. Dengan demikian, peneliti hendak menganalisis terhadap permasalahan tersebut, dengan memfokuskan penelitian pada , apakah fungsi agama sebagai penyebab terjadinya konflik atau malah sebagai resolusi konflik.

Peneliti menemukan temuan bahwasanya masyarakat kota Bandung itu sangat toleran, walaupun masyarakatnya heterogen, namun dalam sejarahnya ini, bahkan sudah berpuluh-puluh tahun lebih, Kota Bandung hanya diidap oleh 4 konflik sosial keagamaan saja, yaitu.(1) Konflik antara warga muslim Karasak dengan Gereja Rehobot.(2) Konflik anatara warga muslim Cipamokolan dengan Gereja Katolik.(3) Konflik anatara warga muslim Kawaluyaan dengan Gereja Karo Protestan.dan (4) Konflik anatara warga muslim Cisaranten Baru I dengan Ahmadiyah.Keempat konflik ini pun sifatnya masih soft (lembut/tidak keras) seperti konflik sosial keagamaan yang terjadi di Papua, Poso, Maluku, ataupun daerah lainnya.Selanjutnya, seperti yang kita ketahui bahwa agama tentunya mempunya dua fungsi yang berkontradiksi, yaitu menurut Talcott Parsons sebagai resolusi dalam menyelesaikan sebuah konflik dan menurut Karl Marx adalah sebagai pemicu atau penyebab konflik.Fungsi agama di Kota Bandung ini adalah sebagai resolusi dalam menyelesaikan konflik sosial keagamaan tersebut dibuktikan dengan indikator resolusi konflik yang digagas oleh intelejen daerah Kesbangpol Jabar.

1. Penelitian lanjutan dapat mengkaji peran dialog antaragama dalam menyelesaikan sengketa izin mendirikan bangunan (IMB) tempat ibadah di wilayah Bandung. 2. Studi lebih mendalam tentang efektivitas kebijakan pemerintah daerah dalam mengatasi konflik sosial-keagamaan berdasarkan perspektif keadilan sosial. 3. Analisis dampak partisipasi masyarakat dalam forum kerukunan umat beragama (FKUB) terhadap penyelesaian konflik berbasis kepercayaan lokal.

Read online
File size389.72 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test