STAIDAPONDOKKREMPYANGSTAIDAPONDOKKREMPYANG

JAS MERAH: Jurnal Hukum dan Ahwal al-SyakhsiyyahJAS MERAH: Jurnal Hukum dan Ahwal al-Syakhsiyyah

Konflik keluarga merupakan isu sosial yang semakin meningkat di masyarakat modern, termasuk dalam komunitas Muslim. Pendekatan hukum seringkali gagal menangani akar psikologis yang mendasari konflik tersebut. Artikel ini mengusulkan Sufisme sebagai pendekatan psikologis alternatif untuk menangani perselisihan domestik. Dengan menekankan penyucian jiwa (tazkiyat al‑nafs), regulasi emosi, dan spiritualitas cinta Ilahi, Sufisme diyakini dapat memberikan kedamaian batin serta mendorong transformasi individu yang berkontribusi pada harmoni keluarga. Melalui kajian literatur karya‑karya klasik Sufi seperti Al‑Ghazali, Rumi, dan Ibn Ataillah, artikel ini menunjukkan bahwa Sufisme bukan sekadar doktrin spiritual melainkan juga medium terapeutik yang relevan bagi resolusi konflik dan perceraian.

Sufisme menawarkan pendekatan holistik dan mendalam dalam penanganan konflik keluarga yang melibatkan aspek spiritual, emosional, dan psikologis secara terintegrasi.Melalui praktik tazkiyatun nafs, pengelolaan emosi berbasis spiritualitas, penguatan nilai cinta dan rahmat, serta transformasi spiritual dalam menghadapi perceraian, ia tidak hanya menyelesaikan konflik jangka pendek tetapi juga menyembuhkan batin dan mengembangkan kematangan spiritual yang berkelanjutan.Dengan demikian, sufisme terbukti bukan sekadar doktrin mistik abstrak, melainkan metodologi praktis yang dapat diaplikasikan untuk mengatasi persoalan psikologis keluarga kontemporer dan memperkuat ketahanan keluarga Muslim menghadapi tantangan zaman.

Bagaimana efektivitas intervensi konseling sufistik berbasis dzikir dan muraqabah dalam mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kualitas hubungan pasangan yang mengalami konflik, dibandingkan dengan pendekatan psikoterapi konvensional? Apakah penerapan program pelatihan tazkiyat al‑nafs yang melibatkan praktik spiritual harian dapat meningkatkan kemampuan regulasi emosi pada remaja yang berada dalam keluarga dengan riwayat perceraian, serta mempengaruhi adaptasi sosial mereka? Sejauh mana integrasi nilai cinta (mahabbah) dan rahmat (rahmah) dalam kurikulum pendidikan keluarga dapat memperkuat resilensi emosional dan mencegah perceraian pada pasangan muda di lingkungan urban? Penelitian kualitatif longitudinal yang mengikuti proses transformasi spiritual pasca‑perceraian dapat mengidentifikasi faktor‑faktor kunci yang mendukung pemulihan psikologis dan spiritualitas berkelanjutan. Selain itu, studi komparatif antar‑taarikat sufistik mengenai teknik meditatif yang paling efektif dalam menurunkan tingkat agresi rumah tangga dapat memberikan pedoman praktis bagi lembaga keagamaan.

  1. Studi Fenomenologi Kesejahteraan Emosional Praktisi Tasawuf | Jurnal Budi Pekerti Agama Islam. studi... doi.org/10.61132/jbpai.v2i5.531Studi Fenomenologi Kesejahteraan Emosional Praktisi Tasawuf Jurnal Budi Pekerti Agama Islam studi doi 10 61132 jbpai v2i5 531
  2. Pengaruh Penggunaan Metode Numbered Head Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar Matapelajaran Fiqh Siswa... doi.org/10.35891/amb.v8i2.4717Pengaruh Penggunaan Metode Numbered Head Together NHT Terhadap Hasil Belajar Matapelajaran Fiqh Siswa doi 10 35891 amb v8i2 4717
  3. Nilai-Nilai Sufistik dalam Proses Bimbingan Perkawinan | Jurnal Riset Agama. nilai sufistik proses bimbingan... journal.uinsgd.ac.id/index.php/jra/article/view/18004Nilai Nilai Sufistik dalam Proses Bimbingan Perkawinan Jurnal Riset Agama nilai sufistik proses bimbingan journal uinsgd ac index php jra article view 18004
Read online
File size382.32 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test