IJCSNETIJCSNET

International Journal Of Community ServiceInternational Journal Of Community Service

Peningkatan populasi lansia menuntut kualitas layanan kesehatan yang inklusif dan responsif. Transformasi digital, termasuk sistem antrian online di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, diharapkan meningkatkan efisiensi dan kepuasan pasien. Namun, keterbatasan literasi digital dan kondisi kognitif lansia berpotensi menghambat penggunaannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan sistem digitalisasi antrian online dan aksesibilitas layanan kesehatan dengan kepuasan pasien lansia di Puskesmas Jatibening Kota Bekasi pada 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah lansia di wilayah kerja Puskesmas Jatibening, dengan sampel sebanyak 158 responden. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis dengan analisis univariat, bivariat (uji chi-square), dan multivariat (regresi logistik ganda). Hasil menunjukkan sebagian besar responden adalah lansia muda (60,1%), pendidikan tinggi (88,6%), dan tidak bekerja (89,2%) dengan 78,5% menyatakan tidak puas terhadap sistem antrian online. Hasil analisis menunjukkan hubungan signifikan antara sistem digitalisasi antrian online (p=0,042; OR=3,079) dan aksesibilitas (p=0,026; OR=3,705) dengan kepuasan pasien lansia. Aksesibilitas lansia terhadap sistem antrian online menjadi variabel dominan yang memengaruhi kepuasan pasien lansia. Kesimpulan bahwa sistem digitalisasi antrian online dan aksesibilitas lansia terkait dengan kepuasan pasien lansia, dan aksesibilitas menjadi faktor dominan, sehingga implementasi digitalisasi perlu didampingi peningkatan aksesibilitas dan pendekatan yang ramah lansia.

Sistem digitalisasi antrian online dan aksesibilitas layanan kesehatan memiliki hubungan signifikan dengan kepuasan pasien lansia di Puskesmas Jatibening Kota Bekasi pada 2026.Kepuasan pasien lansia dipengaruhi oleh berbagai hambatan, termasuk keterbatasan pemahaman teknologi digital, kesulitan mengakses informasi layanan, serta kebutuhan bantuan dari keluarga atau tenaga kesehatan.Aksesibilitas layanan kesehatan menjadi faktor dominan dalam menentukan kepuasan pasien lansia, sehingga implementasi transformasi digital perlu disertai peningkatan aksesibilitas dan pendekatan yang ramah lansia.

1. Penelitian lanjutan dapat mengkaji dampak pelatihan digital yang disesuaikan dengan kebutuhan lansia dalam meningkatkan literasi teknologi. 2. Evaluasi efektivitas model hybrid (digital dan manual) dalam mengakomodasi kebutuhan berbeda lansia. 3. Analisis peran dukungan sosial keluarga dalam memfasilitasi penggunaan layanan kesehatan digital oleh lansia, serta pengembangan strategi untuk memperkuat partisipasi aktif lansia dalam proses pelayanan kesehatan.

Read online
File size321.18 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test