RCIPUBLISHERRCIPUBLISHER

Indonesian Journal of Health and MedicalIndonesian Journal of Health and Medical

Salah satu komplikasi Diabetes Melitus di bidang kedokteran gigi adalah oral diabetic meliputi mulut kering (xerostomia), gusi mudah berdarah (gingivitis), karang gigi (calculus), resorbsi tulang alveolaris, dan periodontitis. Periodontitis merupakan komplikasi yang sering terjadi pada penderita diabetes melitus dengan tingkat prevalansi yang tinggi hingga mencapai angka 75% (Nandya, dkk, 2012 dalam Lestari, dkk, 2016). Kota Probolinggo sendiri memiliki proporsi masalah kesehatan gigi dan mulut kurang lebih 65% - 70% dan yang merawat gigi kurang lebih 8,5% - 10% dari jumlah penduduk 217.062 jiwa. Masalah penelitian ini adalah Tingginya Prevalensi Periodontitis di Puskesmas Maron Kabupaten Probolinggo. Penelitian ini bertujuan untuk metahui Motivasi tentang Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut (Periodontitis) pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Maron Kabupaten Probolinggo. Metode penelitiandengan mengisi kueisioner dan pemeriksaan, jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan sasaran pasien Diabetes Melitus sebanyak 30 orang. Hasil Penelitian menunjukkan motivasi dorongan termasuk kuat (75%), motivasi harapan kuat (71%), motivasi imbalan kuat (59%). Dapat disimpulkan motivasi pasien Diabetes Melitus tentang kesehatan gigi dan mulut adalah kuat (69%).

Berdasarkan hasil penelitian tentang motivasi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut (periodontitis) pada pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Maron Kabupaten Probolinggo, dapat disimpulkan bahwa seluruh aspek motivasi, yaitu dorongan, harapan, dan imbalan, berada dalam kategori kuat.Temuan ini mengindikasikan bahwa pasien secara umum memiliki tingkat motivasi yang tinggi untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut mereka.Secara spesifik, rata-rata motivasi keseluruhan yang merupakan gabungan dari ketiga aspek tersebut ditemukan juga dalam kategori kuat (69%).

Melihat temuan bahwa motivasi pasien diabetes melitus terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut berada pada kategori kuat, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang sangat berpotensi untuk memperdalam pemahaman dan mengembangkan intervensi yang lebih efektif. Pertama, akan sangat bermanfaat untuk melakukan studi komparatif yang mengevaluasi secara langsung perbandingan efektivitas penggunaan media leaflet, seperti yang digunakan dalam penelitian ini, dengan beragam media edukasi lainnya. Penelitian ini dapat menguji apakah format edukasi yang berbeda, misalnya melalui video interaktif, aplikasi digital pada ponsel pintar, atau sesi konseling tatap muka yang lebih intensif, mampu memberikan dampak yang lebih signifikan atau bertahan lebih lama dalam meningkatkan motivasi dan kepatuhan pasien dalam menjaga kebersihan rongga mulut mereka. Kedua, mengingat sifat motivasi bisa berubah seiring waktu, penelitian longitudinal sangat diperlukan. Studi ini dapat mengamati bagaimana tingkat motivasi yang kuat pada pasien diabetes melitus ini berkembang atau bertahan dalam jangka waktu yang lebih panjang, misalnya enam bulan hingga satu tahun. Penting juga untuk menilai apakah motivasi yang tinggi ini benar-benar berkorelasi dengan praktik pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut yang berkelanjutan dan perbaikan nyata pada status klinis periodontitis mereka. Dengan demikian, kita bisa memahami keberlanjutan dampak dari intervensi motivasi. Ketiga, meskipun motivasi secara umum kuat, ada variasi dalam sub-komponennya seperti dorongan, harapan, dan imbalan. Penelitian selanjutnya bisa berfokus pada identifikasi faktor-faktor spesifik—baik itu karakteristik sosio-demografi, dukungan keluarga, peran kader kesehatan, atau bahkan keyakinan kesehatan pribadi—yang paling kuat memengaruhi dan membentuk setiap aspek motivasi tersebut. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai pendorong di balik setiap jenis motivasi ini akan memungkinkan pengembangan strategi edukasi dan intervensi yang lebih personal, adaptif, dan tepat sasaran untuk memaksimalkan kepatuhan pasien dalam mengelola kesehatan gigi dan mulut mereka.

  1. "Diabetes Melitus dan Tingkat Keparahan Jaringan Periodontal" by Rikawarastuti Rikawarastuti,... doi.org/10.21109/kesmas.v9i3.693Diabetes Melitus dan Tingkat Keparahan Jaringan Periodontal by Rikawarastuti Rikawarastuti doi 10 21109 kesmas v9i3 693
  2. Prevalensi periodontitis pada pasien diabetes mellitus (Studi observasional di poliklinik penyakit dalam... journal.ugm.ac.id/mkgi/article/view/11241Prevalensi periodontitis pada pasien diabetes mellitus Studi observasional di poliklinik penyakit dalam journal ugm ac mkgi article view 11241
  3. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... link.springer.com/article/10.1007/s00125-011-2342-yClient Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site link springer article 10 1007 s00125 011 2342 y
  4. Hubungan Lama Sakit, Pengetahuan, Motivasi Pasien dan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Diet Pasien... doi.org/10.26630/jk.v7i2.211Hubungan Lama Sakit Pengetahuan Motivasi Pasien dan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Diet Pasien doi 10 26630 jk v7i2 211
  5. Hubungan tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan status kesehatan jaringan periodontal pada... doi.org/10.35790/eg.4.2.2016.13926Hubungan tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan status kesehatan jaringan periodontal pada doi 10 35790 eg 4 2 2016 13926
Read online
File size416.98 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test