CERICCERIC

Jurnal Keperawatan IndonesiaJurnal Keperawatan Indonesia

Mengapa Penilaiannya Gagal? Menyelidiki 8 Dimensi yang Tidak Valid dari Budaya Keselamatan Pasien: Penelitian Mixed Method. Penolakan untuk mengadopsi praktik atau teknologi budaya keselamatan pasien dapat menghambat peningkatan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang penilaian budaya keselamatan pasien (Patient Safety Culture [PSC]) dengan mengidentifikasi faktor-faktor spesifik yang menyebabkan beberapa dimensi PSC tidak valid, dan memberikan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti untuk perbaikan di lingkungan pelayanan kesehatan. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan mixed method of explanatory sequential design, dengan pengumpulan dan analisis data kuantitatif diikuti dengan pengumpulan dan analisis data kualitatif. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Swasta terkemuka XYZ, salah satu grup rumah sakit swasta yang terakreditasi internasional Joint Commission International dengan kapasitas 110 tempat tidur pasien. Diantara 12 dimensi, hanya dimensi feedback communication about error, handoffs and transitions, dan teamwork across units, yang memenuhi syarat valid dan reliabel. Oleh karena itu, 8 dimensi yaitu communication openness, continuous improvement, frequency error reported, management support, overall patient safety, supervisor/manager expectation, dan staffing didalami lebih lanjut dalam focus group discussion (FGD). Melalui penggalian wawasan kuantitatif dan kualitatif, telah terindentifikasi deskripsi penting yang melampaui metrik kuantitatif. Wawasan kualitatif yang diperoleh dari para profesional di bidang kesehatan melalui FGD telah menyingkap aspek-aspek budaya keselamatan yang bernuansa manusiawi, yang mungkin terlewatkan oleh pengukuran tradisional.

Penelitian ini, menggunakan pendekatan metode campuran, telah mengungkap faktor-faktor multifaset yang berkontribusi terhadap ketidakvalidan delapan dimensi budaya keselamatan pasien.Wawasan kualitatif yang diperoleh dari profesional kesehatan melalui diskusi kelompok terarah (FGD) menyoroti nuansa aspek manusiawi budaya keselamatan yang mungkin terlewatkan oleh pengukuran tradisional.Oleh karena itu, temuan ini tidak hanya menjelaskan kekurangan dimensi-dimensi tersebut dalam menangkap esensi budaya keselamatan pasien tetapi juga menawarkan jalur untuk perbaikan dan strategi guna menjembatani kesenjangan validitas demi budaya keselamatan yang lebih konsisten dan kuat.

Penelitian selanjutnya dapat berfokus pada eksplorasi mendalam terkait efektivitas implementasi sistem pelaporan insiden keselamatan pasien yang sepenuhnya anonim. Penting untuk menguji berbagai model sistem, seperti platform digital yang menjamin kerahasiaan penuh atau mekanisme pelaporan offline yang dipercaya staf, untuk memahami bagaimana desain yang berbeda mempengaruhi tingkat partisipasi pelaporan, kualitas informasi yang diberikan, serta kecepatan dan efektivitas respons manajemen terhadap insiden yang dilaporkan. Studi ini akan membantu mengidentifikasi praktik terbaik dalam membangun kepercayaan dan mengurangi ketakutan akan sanksi, yang pada akhirnya dapat mendorong budaya pelaporan yang lebih transparan dan proaktif. Selain itu, perlu dilakukan investigasi mengenai dampak sinergis dari program mentorship yang terstruktur dan penerapan Standar Prosedur Operasional (SOP) yang seragam serta mudah diakses di seluruh unit rumah sakit. Bagaimana kombinasi ini secara spesifik memengaruhi pemahaman dan kepatuhan staf baru terhadap protokol keselamatan pasien, mengurangi variasi praktik antar unit, dan mempercepat integrasi mereka ke dalam budaya keselamatan yang positif? Mengukur perubahan dalam angka kesalahan, efisiensi kerja, dan persepsi staf terhadap dukungan organisasi akan sangat berharga. Terakhir, mengingat adanya disparitas dalam persepsi kerja tim antar profesi medis yang ditemukan, penelitian masa depan harus mengevaluasi secara komparatif berbagai intervensi untuk meningkatkan kolaborasi interprofesional. Misalnya, studi dapat membandingkan efektivitas pelatihan berbasis simulasi yang melibatkan tim multidisiplin atau penerapan protokol komunikasi standar yang difokuskan pada pemecahan konflik dan pengambilan keputusan bersama. Tujuan utamanya adalah untuk melihat bagaimana intervensi ini dapat secara nyata mengurangi hierarki tak tertulis, meningkatkan komunikasi terbuka, dan pada akhirnya, menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis dan berorientasi pada keselamatan pasien yang optimal.

  1. The Effectiveness of Teamwork Training on Teamwork Behaviors and Team Performance: A Systematic Review... journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0169604The Effectiveness of Teamwork Training on Teamwork Behaviors and Team Performance A Systematic Review journals plos plosone article id 10 1371 journal pone 0169604
  2. Barriers and enablers to effective interprofessional teamwork in the operating room: A qualitative study... doi.org/10.1371/journal.pone.0249576Barriers and enablers to effective interprofessional teamwork in the operating room A qualitative study doi 10 1371 journal pone 0249576
  3. Nurses’ Safety Motivation: Examining Predictors of Nurses’ Willingness to Report Medication... doi.org/10.1177/0193945918815462NursesAo Safety Motivation Examining Predictors of NursesAo Willingness to Report Medication doi 10 1177 0193945918815462
Read online
File size252.54 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test