ACTAMEDINDONESACTAMEDINDONES

Acta Medica IndonesianaActa Medica Indonesiana

Latar Belakang: Beberapa penelitian melaporkan bahwa penggunaan antibiotik sebagai terapi dan profilaksis di rumah sakit tidak tepat pada sekitar 9% hingga 64% kasus. Algoritma Gyssens digunakan untuk evaluasi kualitatif dengan menilai penggunaan antibiotik yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dan mengevaluasi kualitas penggunaan antibiotik pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang menggunakan algoritma Gyssens. Metode: Penelitian kohort retrospektif ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang dari Januari hingga Desember 2021. Kami mengumpulkan data dari rekam medis pasien rawat inap yang menerima antibiotik menggunakan teknik pengambilan sampel acak, dan jumlah pasien dari setiap departemen dihitung melalui survei pendahuluan. Hasil: Terdapat tiga ratus enam puluh sampel dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi, dewasa (59,4%), pasien yang dirawat >14 hari (38,9%), pasien yang keluar dengan perbaikan (66,9%), dan pasien yang didiagnosis dengan pneumonia (49,5%). Sebagian besar antibiotik tepat (56,5%), dengan ceftriaxone menjadi antibiotik yang paling sering digunakan (199 kasus). Penggunaan antibiotik yang tepat (Gyssens 0) paling banyak ditemukan di Departemen Penyakit Dalam. Sementara itu, penggunaan antibiotik tanpa indikasi (Gyssens V) paling banyak ditemukan di Departemen Bedah. Ditemukan korelasi signifikan antara ketepatan pemberian antibiotik dan hasil pasien setelah keluar dari rumah sakit (p<0,05). Terdapat peningkatan risiko kematian pada penggunaan antibiotik yang tidak tepat (Gyssens I-IV) dan penggunaan antibiotik tanpa indikasi (Gyssens V) masing-masing sebesar 1,96 dan 4,05 kali. Kesimpulan: Terdapat banyak kasus penggunaan antibiotik yang tidak tepat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang; oleh karena itu, edukasi mengenai penggunaan antibiotik yang tepat diperlukan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat banyak kasus penggunaan antibiotik yang tidak tepat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr.Penggunaan antibiotik yang tepat ditemukan pada 56,5% kasus, sementara penggunaan tanpa indikasi dan penggunaan yang tidak tepat masing-masing sebesar 26,9% dan 16,7%.Penggunaan antibiotik yang tidak tepat secara signifikan meningkatkan risiko kematian pasien.Oleh karena itu, edukasi mengenai penggunaan antibiotik yang tepat sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor spesifik yang berkontribusi terhadap penggunaan antibiotik yang tidak tepat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang, seperti pengetahuan dan praktik dokter, ketersediaan pedoman klinis, dan pengaruh tekanan dari pasien atau keluarga. Kedua, studi intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan penggunaan antibiotik yang tepat, seperti program edukasi dan audit penggunaan antibiotik, perlu diimplementasikan dan dievaluasi efektivitasnya. Ketiga, penelitian prospektif yang melibatkan pemantauan hasil klinis pasien secara lebih rinci, termasuk analisis biaya-efektivitas dari penggunaan antibiotik yang tepat, dapat memberikan bukti yang lebih kuat untuk mendukung implementasi kebijakan dan praktik penggunaan antibiotik yang rasional. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pengendalian resistensi antimikroba dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Read online
File size474.56 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test