UMBUMB

Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan (JUPANK)Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan (JUPANK)

Generasi Z (lahir 1997–2012) tumbuh dalam ekosistem digital yang mempercepat paparan budaya global dan memunculkan tantangan terhadap ketahanan identitas nasional. Pergeseran ancaman dari aspek militer ke sosial-budaya menempatkan nasionalisme pada posisi rentan, terutama akibat penetrasi nilai westernisasi dan Korean Wave yang mendorong individualisme, hedonisme, dan pragmatisme yang berpotensi bertentangan dengan nilai kolektivisme Pancasila. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi mekanisme pengaruh budaya global terhadap erosi nasionalisme Generasi Z serta merumuskan strategi penguatan ketahanan identitas yang kontekstual. Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan standar PRISMA terhadap artikel terbitan 2020–2025 yang diperoleh dari Google Scholar, SINTA, dan Portal Garuda. Dari 168 artikel awal, diseleksi menjadi 23 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis dilakukan melalui sintesis tematik, dengan mayoritas studi yang dikaji menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil menunjukkan bahwa pelemahan nasionalisme terjadi melalui pergeseran nilai di ruang digital akibat paparan budaya populer global yang berulang dan diperkuat algoritma media sosial. Dampaknya terlihat pada meningkatnya xenocentrisme, apatisme politik, melemahnya praktik gotong royong, serta krisis identitas pada sebagian Generasi Z. Kesimpulannya, penguatan ketahanan identitas perlu dilakukan melalui tiga strategi utama (model “Tri-Prisma): (1) pembaruan Pendidikan Pancasila berbasis digital dan kontekstual, (2) penguatan literasi digital kritis sebagai penyaring nilai global, dan (3) pelibatan Generasi Z sebagai kreator budaya lokal di ruang digital. Strategi ini dinilai paling relevan untuk menjaga nasionalisme Generasi Z di tengah arus globalisasi.

Berdasarkan hasil telaah Sistematis terhadap 23 artikel terbitan 2020–2025, penelitian ini menghasilkan dua temuan pokok.Pertama, gempuran budaya global terbukti memiliki peran signifikan dalam melemahkan nasionalisme pada Generasi Z melalui mekanisme pergeseran nilai.Paparan berkelanjutan terhadap budaya populer global—terutama arus Westernisasi dan Korean Wave—mendorong masuknya nilai individualisme, hedonisme, serta pragmatisme yang tidak sejalan dengan semangat kolektivisme dalam Pancasila.Konsekuensinya tampak pada meningkatnya xenocentrism, preferensi terhadap budaya asing, serta munculnya krisis identitas pada sebagian anggota Generasi Z.Kedua, literatur menegaskan bahwa Generasi Z bukan hanya menjadi target pengaruh budaya global, melainkan agen aktif yang menyebarkan identitas Indonesia di ranah digital.Hasil penelitian ini menuntut sinergi lintas kementerian.Kemendikbud perlu melakukan pembaruan strategi pendidikan karakter.Kominfo perlu memperluas cakupan literasi digital dari sekadar isu hoaks menuju literasi kritis.sementara Kemenparekraf perlu mendukung kreativitas Gen Z melalui program ekonomi kreatif berbasis budaya.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa arah studi. Pertama, mengkaji efektivitas strategi pembaruan Pendidikan Pancasila berbasis digital dan kontekstual dalam meningkatkan ketahanan identitas Generasi Z. Kedua, mengevaluasi program literasi digital kritis yang ditujukan kepada Generasi Z, khususnya dalam menyaring nilai-nilai global yang masuk melalui media sosial. Ketiga, meneliti dampak positif dan negatif dari keterlibatan Generasi Z sebagai kreator budaya lokal di ruang digital, serta mengidentifikasi strategi yang dapat memaksimalkan kontribusi mereka dalam mempromosikan identitas nasional.

Read online
File size348.96 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test