UIT LIRBOYOUIT LIRBOYO

Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi KeislamanIntelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman

Penggunaan media digital dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin intensif dalam kehidupan akademik telah memperluas akses siswa terhadap informasi, tetapi secara bersamaan meningkatkan gangguan, fragmentasi perhatian, dan beban kognitif. Isu ini menjadi semakin penting dalam lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) karena kemampuan mengelola teknologi tidak hanya terkait dengan keberhasilan akademik tetapi juga dengan pengaturan diri, makna Islami tentang pembelajaran, dan etika penggunaan AI. Studi ini mengeksplorasi beban kognitif digital, perkembangan akademik, pengaturan diri digital, makna dan etika Islami tentang AI, dan pengalaman dua mahasiswa di sebuah universitas Islam. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan desain studi kasus komparatif-eksploratif. Dua mahasiswa dipilih secara purposif dari sebuah universitas Islam di Jawa Tengah. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis dalam kasus dan analisis tematik reflektif lintas kasus. Temuan menunjukkan dua pola yang kontras tetapi saling terkait. Pada kasus pertama, media digital terutama berfungsi sebagai sumber gangguan, ditandai dengan penggunaan media sosial yang intensif, notifikasi, penundaan akademik, dan pengaturan diri yang tidak stabil. Dalam kasus kedua, teknologi digital berfungsi sebagai sumber daya sekaligus risiko: teknologi ini mendukung pembelajaran, pekerjaan, bisnis, komunikasi, pencarian informasi, dan penggunaan AI, tetapi juga menyebabkan kelebihan beban informasi, penggunaan media sosial hingga larut malam, informasi yang saling bertentangan, dan validasi sumber yang terbatas. Nilai-nilai Islam seperti kepercayaan, kesabaran, rasa syukur, penyerahan diri (Tawakkal), introspeksi diri (Muhasabah), dan kesopanan terhadap dosen muncul sebagai sumber moral tetapi belum sepenuhnya membentuk sistem regulasi digital yang konsisten. Studi ini menekankan perlunya regulasi diri digital terintegrasi dalam Islam dan etika AI untuk mendukung perkembangan akademik, kesejahteraan psikologis, dan tanggung jawab akademik mahasiswa dalam ekosistem digital.

Penelitian ini menunjukkan digital cognitive overload pada dua mahasiswa PTKI tidak hanya muncul sebagai kelebihan informasi, tetapi sebagai pengalaman akademik yang mengganggu fokus, waktu, tubuh, tidur, kedalaman belajar, dan tanggung jawab penggunaan AI.Pada kasus Informan 1, overload lebih dominan muncul melalui media sosial, TikTok, notifikasi, penundaan tugas, dan keterlibatan akademik yang rapuh.Pada kasus Informan 2, overload muncul dalam bentuk yang lebih ambivalen karena digital juga berfungsi sebagai ruang produktif untuk kuliah, kerja, bisnis, relasi, dan pencarian informasi sehingga maknanya lebih kompleks.Dengan demikian, digital dalam kehidupan mahasiswa PTKI bukan sekadar gangguan, tetapi ekosistem yang sekaligus mendukung dan melemahkan proses belajar.Temuan ini menjawab bahwa academic flourishing mahasiswa PTKI sangat dipengaruhi oleh kemampuan membangun regulasi diri digital, memaknai belajar secara islami, dan menggunakan AI secara beradab.Nilai Islam seperti amanah, syukur, sabar, tawakal, muhasabah, dan adab kepada dosen sudah hadir dalam pengalaman mahasiswa, tetapi belum sepenuhnya menjadi sistem regulasi digital yang stabil dan aplikatif.Oleh karena itu, kebutuhan utama bukan menjauhkan mahasiswa dari teknologi karena teknologi sudah menjadi kehidupan mereka sekarang, melainkan membimbing mereka menggunakan digital dan AI secara sadar, reflektif, bertanggung jawab, dan beradab melalui penguatan digital self-regulation, Islamic meaning-making, dan adab AI.

Berdasarkan temuan penelitian ini, ada beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi strategi regulasi diri digital yang efektif bagi mahasiswa PTKI. Penelitian ini dapat berfokus pada pengembangan intervensi psikoedukasi digital yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam, dengan tujuan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengelola penggunaan teknologi secara sadar dan bertanggung jawab. Kedua, penelitian tentang adab AI dalam konteks PTKI dapat lebih dieksplorasi. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana mahasiswa Muslim memaknai penggunaan AI sebagai persoalan adab akademik dan tanggung jawab moral, serta bagaimana mereka memvalidasi jawaban dari platform AI. Ketiga, penelitian tentang academic flourishing dalam pendidikan tinggi dapat lebih dikembangkan dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam konteks PTKI. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana nilai-nilai Islam seperti amanah, syukur, sabar, tawakal, dan muhasabah dapat mempengaruhi keterlibatan dan motivasi belajar mahasiswa, serta bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi praktik regulasi digital yang aplikatif.

  1. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... link.springer.com/10.1007/s10639-023-12198-2Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site link springer 10 1007 s10639 023 12198 2
  2. Digital Cognitive Overload, Academic Flourishing , dan Adab AI: Studi Kasus Regulasi Diri Digital dan... doi.org/10.33367/ji.v16i2.9526Digital Cognitive Overload Academic Flourishing dan Adab AI Studi Kasus Regulasi Diri Digital dan doi 10 33367 ji v16i2 9526
Read online
File size564.68 KB
Pages24
DMCAReport

Related /

ads-block-test