STIKESBANYUWANGISTIKESBANYUWANGI

WOMB Midwifery JournalWOMB Midwifery Journal

Latar Belakang: Preeklampsia merupakan komplikasi obstetri utama yang berkontribusi terhadap 2–8% kehamilan dan lebih dari 46.000 kematian ibu setiap tahun secara global. Data RS JIH Yogyakarta menunjukkan peningkatan kasus dari 35 (2023), 40 (2024), menjadi 57 (2025). Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko maternal yang berhubungan dengan kejadian preeklampsia. Metode: Studi observasional analitik dengan desain case-control menggunakan data sekunder rekam medis ibu hamil periode 2023–2025 (populasi: 3.755). Sampel 264 responden terdiri dari kelompok kasus (n=132, total sampling) dan kontrol (n=132, simple random sampling). Analisis dilakukan secara univariat, bivariat (Chi-Square/Fishers Exact Test), uji normalitas (Kolmogorov-Smirnov), serta multivariat dengan regresi logistik. Hasil: Uji bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara usia (p=0,021), gravida (p=0,034), IMT (p=0,015), penambahan berat badan (p=0,000), dan riwayat hipertensi (p=0,029) dengan preeklampsia. Analisis multivariat menegaskan penambahan berat badan sebagai faktor dominan (Wald=25,418; p=0,000; Exp(B)=0,129; 95% CI: 0,058–0,286), dengan risiko 87,1% lebih rendah pada ibu dengan kenaikan sesuai rekomendasi. Kesimpulan: Usia, gravida, IMT, riwayat hipertensi, serta penambahan berat badan berhubungan signifikan dengan preeklampsia. Faktor dominan adalah pola penambahan berat badan selama kehamilan.

Berdasarkan analisis, usia ibu, status gravida, IMT, penambahan berat badan selama gestasi, dan riwayat hipertensi signifikan berhubungan dengan preeklampsia di RS JIH Yogyakarta, dengan penambahan berat badan sebagai faktor paling dominan.Penting untuk melakukan deteksi dini faktor risiko maternal dan mengoptimalkan pemantauan berat badan secara berkala melalui Antenatal Care (ANC) untuk meminimalkan komplikasi.Penelitian lanjutan disarankan secara longitudinal untuk menilai hubungan kausal antara penambahan berat badan dan preeklampsia, serta mengintegrasikan variabel sosio-ekonomi, diet, aktivitas fisik, dan riwayat penyakit keluarga.

Untuk memperdalam pemahaman mengenai preeklampsia dan menemukan cara pencegahan yang lebih efektif, beberapa arah penelitian lanjutan yang relevan dapat dipertimbangkan. Pertama, studi saat ini bersifat observasional dan hanya menunjukkan hubungan, belum kausalitas. Oleh karena itu, penelitian longitudinal yang mengikuti ibu hamil dari trimester awal hingga pasca-melahirkan sangat diperlukan. Studi ini dapat mengidentifikasi secara pasti bagaimana faktor-faktor seperti penambahan berat badan berlebih atau riwayat hipertensi berperan sebagai pemicu langsung preeklampsia, bukan hanya faktor yang menyertainya. Pemahaman mendalam tentang mekanisme kausal ini esensial untuk mengembangkan strategi pencegahan yang lebih tepat sasaran. Kedua, mengingat penambahan berat badan adalah faktor dominan, perlu ada penelitian lebih spesifik tentang pola diet dan aktivitas fisik yang berhubungan dengan preeklampsia. Bagaimana kebiasaan konsumsi makanan tinggi gula atau lemak, serta minimnya gerakan fisik, berkontribusi terhadap kenaikan berat badan tidak sehat yang kemudian memicu preeklampsia pada ibu hamil? Penting juga untuk meninjau apakah status sosial-ekonomi atau lingkungan tempat tinggal (misalnya perkotaan vs. pedesaan) memengaruhi pola diet dan aktivitas fisik ini, yang pada gilirannya berdampak pada risiko preeklampsia. Ketiga, berdasarkan temuan faktor risiko yang dominan, pengembangan dan evaluasi program intervensi sangat vital. Sebuah studi dapat dirancang untuk menguji efektivitas program Antenatal Care (ANC) yang diperkaya dengan konseling gizi personal, edukasi tentang gaya hidup sehat, dan panduan aktivitas fisik yang terukur. Program ini akan ditujukan khusus bagi ibu hamil yang memiliki risiko tinggi, misalnya mereka dengan IMT berlebih atau riwayat hipertensi. Pertanyaan penelitiannya adalah, apakah implementasi program ANC yang terfokus seperti ini mampu menurunkan angka kejadian preeklampsia secara signifikan di RS JIH Yogyakarta? Hasil dari studi intervensi semacam ini akan memberikan bukti konkret untuk perbaikan praktik klinis.

  1. "Faktor Risiko Kejadian Hipertensi dalam Kehamilan pada Ibu Hamil di Pr" by Putri Amalia Firjatillah... scholarhub.ui.ac.id/epidkes/vol9/iss1/1Faktor Risiko Kejadian Hipertensi dalam Kehamilan pada Ibu Hamil di Pr by Putri Amalia Firjatillah scholarhub ui ac epidkes vol9 iss1 1
  2. Analisis Penyebab Preeklampsia Pada Ibu Hamil | Cerellia | Malahayati Nursing Journal. analisis penyebab... ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/manuju/article/view/13582Analisis Penyebab Preeklampsia Pada Ibu Hamil Cerellia Malahayati Nursing Journal analisis penyebab ejurnalmalahayati ac index php manuju article view 13582
  3. The effects of prenatal psychosocial work stress on adverse pregnancy outcomes: A - Sjweh. effects... sjweh.fi/article/4236The effects of prenatal psychosocial work stress on adverse pregnancy outcomes A Sjweh effects sjweh fi article 4236
  4. INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN KEJADIAN PREEKLAMPSIA PADA IBU HAMIL | Jurnal Sains Kebidanan. indeks... doi.org/10.31983/jsk.v5i1.9696INDEKS MASSA TUBUH IMT DENGAN KEJADIAN PREEKLAMPSIA PADA IBU HAMIL Jurnal Sains Kebidanan indeks doi 10 31983 jsk v5i1 9696
Read online
File size245.83 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test