UNRIYOUNRIYO

medika respati: Jurnal Ilmiah Kesehatanmedika respati: Jurnal Ilmiah Kesehatan

Latar belakang: Penyandang disabilitas terbagi menjadi 5 jenis yaitu fisik, mental, sensorik, intelektual, dan ganda (multi). Berdasarkan Undang-Undang No.8 Tahun 2016, hak penyandang disabilitas salah satunya hak aksesibilitas. Perempuan penyandang disabilitas berhak mengakses layanan kesehatan sama seperti warga negara yang lain. Apabila perempuan penyandang disabilitas dapat mengakses layanan kesehatan, maka kesehatan mereka akan terpantau dan akan meningkatkan kualitas hidup. Tujuan: Untuk mengetahui peran aksesibilitas layanan kesehatan dan kualitas hidup perempuan penyandang disabilitas. Metode: Desain penelitian adalah Cross-Sectional. Sampel penelitian adalah 34 perempuan penyandang disabilitas di Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia Kabupaten Sleman. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Analisis bivariat menggunakan analisis chi-square. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dari Indonesia Corruption Watch (ICW) dan WHOQOL-BREF. Prosedur penelitian ini dilaksanakan dengan kepatuhan penuh terhadap standar etika meskipun tanpa melalui komite etik formal, hal ini mencakup perolehan persetujuan dari partisipan dan perlindungan privasi data secara menyeluruh. Hasil: Responden mayoritas berada pada usia lansia awal (46-55 tahun) 17 orang (50%), menikah 29 orang (85,3%), tamat sekolah menengah (SMA sederajat) 20 orang (58,8%), tidak bekerja 22 orang (64,7%), dan mempunyai jenis disabilitas fisik 28 orang (82,4%). Perempuan penyandang disabilitas dengan aksesibilitas ke layanan kesehatan kurang, memiliki kualitas hidup yang cukup buruk sebanyak 9 orang (75%). Kesimpulan: Aksesibilitas layanan kesehatan tidak berhubungan secara signifikan dengan kualitas hidup perempuan penyandang disabilitas. Oleh karena itu, peningkatan kualitas hidup perlu didukung melalui pendekatan holistik yang mencakup aspek fisik, psikologis, dan sosial, tidak hanya berfokus pada akses layanan kesehatan.

Aksesibilitas layanan kesehatan tidak berhubungan secara signifikan dengan kualitas hidup perempuan penyandang disabilitas.Oleh karena itu, peningkatan kualitas hidup perlu didukung melalui pendekatan holistik yang mencakup aspek fisik, psikologis, dan sosial, tidak hanya berfokus pada akses layanan kesehatan.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan pelatihan tenaga kesehatan dalam bahasa isyarat untuk meningkatkan komunikasi dengan penyandang disabilitas tuna rungu. Selain itu, perlu diteliti dampak program pendampingan komunitas terhadap kualitas hidup penyandang disabilitas, khususnya dalam konteks dukungan sosial. Penelitian juga dapat mengeksplorasi peran teknologi digital dalam memfasilitasi akses layanan kesehatan yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.

Read online
File size296.84 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test