BMKGBMKG

Jurnal Meteorologi dan GeofisikaJurnal Meteorologi dan Geofisika

Simulasi curah hujan di Propinsi Nusa Tenggara Barat dipelajari dengan menggunakan Regional Climate Model (RCM)—the CSIRO Conformal-Cubic Atmospheric Model (CCAM) yang didukung oleh model global (General Circulation Models atau GCMs) yaitu ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1. Tiga periode yang dikaji dalam studi ini adalah 1980–1999, 2050–2069, dan 2080–2099 untuk. simulasi periode 1980–1999 dievaluasi terhadap observasional data. Secara umum, untuk simulasi pola curah hujan tahunan periode 2050–2069 dan 2080–2099, ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1 menunjukkan pola simulasi yang hampir sama. Namun, simulasi kedua model global ini untuk curah hujan tahunan periode observasi (1980 – 1999) berbeda. Bila dilihat secara musiman, simulasi model untuk musim kemarau periode 2060 dan periode 2090, ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1 jika dibandingkan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, dan sebaliknya pada musim hujan.

Model-model memberikan wawasan penting tentang bagaimana iklim regional mungkin merespons perubahan iklim global.Studi ini telah mengevaluasi kinerja RCM-CCAM (Conformal-cubic Atmospheric Model) dalam mensimulasikan iklim dan variasi musiman di Propinsi NTB.Dalam studi ini, simulasi RCM untuk variabilitas iklim didorong oleh dua General Circulation Models (GCMs).Studi ini menganalisis periode saat ini (1980–1999) dan masa depan (2050–2069 dan 2080–2099).Dibandingkan dengan data observasional BMKG, data model iklim CCAM dengan ECHAM5/MPI-OM dan kondisi batas model iklim GFDL CM2.1 cenderung memperkirakan curah hujan tahunan rata-rata untuk periode saat ini, kecuali di daerah ketinggian tinggi.Secara umum, meskipun proyeksi curah hujan berdasarkan ECHAM5/MPI-OM sedikit lebih rendah dari GFDL CM.21, kesepakatan yang masuk akal tentang pola curah hujan musiman ditemukan antara dua model tersebut dan data observasional.Sementara itu, proyeksi curah hujan rata-rata musim kemarau untuk dua periode masa depan berdasarkan model ECHAM5/MPI-OM serta dua periode masa depan berdasarkan model GFDL CM2.Di sisi lain, rata-rata curah hujan proyeksi musim hujan untuk dua periode masa depan menunjukkan perbedaan yang jelas antara simulasi ECHAM5/MPI-OM dan GFDL CM2.Perbedaan ini terutama muncul di wilayah barat dua pulau besar, Lombok dan Sumbawa.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada integrasi data lokal yang lebih detail untuk meningkatkan akurasi simulasi curah hujan di wilayah pesisir dan pegunungan NTB. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi model Regional Climate Model (RCM) lainnya yang mungkin lebih efektif dalam mereproduksi pola curah hujan musiman yang kompleks. Penelitian juga bisa mengkaji dampak perubahan iklim terhadap siklus El Niño-La Niña dan bagaimana interaksi ini memengaruhi distribusi curah hujan di masa depan, terutama di wilayah yang rentan terhadap kekeringan. Pendekatan ini akan memberikan wawasan lebih dalam untuk pengelolaan sumber daya air dan mitigasi risiko bencana iklim di NTB.

Read online
File size443.39 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test