UNIMUSUNIMUS

Education, Science, and Technology International ConferenceEducation, Science, and Technology International Conference

Masih ada orang yang percaya bahwa pendekatan STEM sulit diimplementasikan di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Mereka menganggap pendekatan ini lebih cocok untuk pendidikan tingkat lanjut. Hal ini karena siswa di tingkat ini memiliki keterampilan berpikir kritis dan lanjutan yang diperlukan untuk pembelajaran STEM. Sebaliknya, mereka berargumen bahwa kemampuan berpikir anak usia dini masih terbatas. Mereka belum bisa berpikir kritis. Berdasarkan realitas ini, penelitian ini bertujuan membuktikan bahwa literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa, dan pendidikan seni di tingkat pendidikan usia dini dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis anak. Aktivitas sederhana, seperti bermain dengan blok di Zona Rekayasa atau menjelajahi bahan alami di Zona Eksplorasi Bahan Alami dan Teknologi, dapat merangsang dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis anak. Penelitian ini juga bertujuan membuktikan bahwa pembelajaran di zona-zona tersebut, khususnya Zona Rekayasa dan Zona Eksplorasi Bahan Alami dan Teknologi, merupakan pendekatan STEM. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui studi literatur dan analisis dokumen perencanaan pembelajaran serta catatan pelaksanaan pembelajaran di pendidikan anak usia dini (PAUD). Penelitian ini menemukan bahwa pengembangan keterampilan berpikir kritis dan pendidikan STEM penting di tingkat PAUD.

Penelitian deskriptif kualitatif ini membuktikan bahwa pendekatan STEM tidak hanya relevan untuk tingkat pendidikan lanjutan tetapi juga dapat diimplementasikan secara efektif, kontekstual, dan bermakna di tingkat pendidikan usia dini.Melalui optimalisasi pengaturan ruang zonasi, khususnya Zona Rekayasa dan Zona Eksplorasi Bahan Alami dan Teknologi, anak-anak muda telah terbukti mengembangkan keterampilan berpikir kritis sejak dini.Analisis dokumen perencanaan dan catatan pelaksanaan menunjukkan bahwa aktivitas bermain inkuiri sederhana, seperti eksperimen propagasi suara atau merancang jalur kursi roda menggunakan blok, dapat merangsang indikator kunci berpikir kritis pada fase dasar.Anak-anak telah terbukti mampu mengajukan pertanyaan investigatif, menganalisis hubungan sebab-akibat, menyelesaikan masalah secara mandiri saat mengalami kegagalan desain, dan berkomunikasi ide spasial mereka.Ini memastikan bahwa pendidikan STEM di usia dini dapat menempa dasar pemikiran yang kuat tanpa memberi beban target akademis abstrak kepada anak-anak.Namun, penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena fokus observasi saat ini terbatas pada dua zona pembelajaran tertentu.Oleh karena itu, disarankan bagi peneliti dan praktisi pendidikan masa depan untuk memperluas lokus penelitian ke zona bermain lainnya, seperti Zona Permainan Peran, Zona Seni, atau Zona Literasi.Ekspansi ini penting untuk merumuskan model implementasi STEM yang lebih komprehensif, integratif, dan holistik di masa depan.

Untuk melengkapi penelitian ini, ada tiga saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, peneliti dapat mengeksplorasi integrasi pendekatan STEM dalam zona bermain lainnya seperti Zona Seni atau Zona Literasi untuk melihat dampak berbeda terhadap perkembangan keterampilan berpikir kritis. Kedua, penelitian dapat menyelidiki peran bahan belajar berbeda (seperti bahan loose parts versus alat digital) dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis anak usia dini. Ketiga, peneliti dapat mengevaluasi efek jangka panjang dari paparan dini pendidikan STEM terhadap prestasi akademik anak di tingkat pendidikan lebih lanjut. Dengan memperluas cakupan penelitian ini, diharapkan dapat dihasilkan model pendidikan STEM yang lebih inklusif dan adaptif terhadap berbagai konteks pembelajaran anak usia dini.

Read online
File size484.6 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test