INSTITUTREINSTITUTRE

Journal of Aceh StudiesJournal of Aceh Studies

Indonesia, yang kaya akan tradisi lisan sebagai kerangka kognitif penting untuk melestarikan kebijaksanaan ekologis leluhur dan mengelola risiko lingkungan sosial. Di pulau Simeulue yang terisolasi, pertunjukan Nandong mewakili institusi budaya vital, tetapi sub-genre maritim khusus, Syair Perahu (Boat Poem), tetap belum banyak diteliti pada tingkat granularitas linguistik yang detail. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi mekanisme semiotik Syair Perahu untuk memahami bagaimana elemen maritim fisik dan fenomena alam diberi makna budaya praktis yang berbasis kelangsungan hidup. Dengan menggunakan desain etnografi kualitatif deskriptif, penelitian ini menganalisis secara sistematis bait-bait puisi yang ditranskrip dengan menggunakan model semiotik triadic (Representamen, Object, dan Interpretant). Data primer dikumpulkan melalui observasi partisipan dan wawancara mendalam dengan tiga seniman tutur (artis lisan) yang dihormati di Simeulue. Temuan menunjukkan bahwa Syair Perahu berfungsi sebagai peta kognitif aktif dan manual keselamatan. Tanda-tanda linguistik tertentu, seperti kayu kapo-kapo dan bentuk hidrodinamika ransung salodang, secara indeksikal dikaitkan dengan durabilitas struktural dan batas kapasitas penumpang yang ketat. Demikian pula, bahaya lingkungan seperti angin sumadin dan lauik api berfungsi sebagai peringatan indeksikal yang memicu aturan keselamatan sosial dan invocasi spiritual, sedangkan penangkapan ikan samen-samen melambangkan kemandirian ekonomi. Akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa literatur lisan yang terancam punah adalah sistem pendidikan canggih tentang ketahanan maritim, yang menekankan kebutuhan mendesak bagi badan warisan regional untuk mengintegrasikan kebijaksanaan ekologis leluhur ke dalam kebijakan keselamatan pesisir modern.

Studi ini telah memberikan analisis semiotik sistematis terhadap Syair Perahu dalam tradisi lisan Nandong di Simeulue, menggunakan model tanda triadic Charles Sanders Peirce untuk mengurai bagaimana komunitas pesisir ini mengkodekan kelangsungan hidup ekologis dan navigasi maritim.Dengan memeriksa bait-bait puisi yang ditranskrip pada tingkat granularitas linguistik yang detail, penelitian ini menunjukkan bahwa Syair Perahu berfungsi sebagai panduan kognitif dan praktis yang canggih bagi pelaut.Selain beroperasi sebagai estetika folklore atau alegori eskatologis untuk perjalanan jiwa, Syair Perahu Simeulue tetap unik dan berbasis pragmatis pada realitas praktis bahan, oceanografi lokal, ekonomi rumah tangga, dan keselamatan keluarga.Temuan kunci dari penyelidikan ini mengungkapkan bahwa setiap elemen linguistik dalam puisi empat bait ditugaskan tujuan semiotik yang jelas.Pilihan kayu lokal (kayu kapo-kapo) berfungsi sebagai penanda indeksikal durabilitas fisik, sedangkan bentuk sempit perahu dayung (ransung salodang) menetapkan batas keselamatan yang ketat pada kapasitas perahu, memperingatkan kapten yang tidak berpengalaman terhadap membawa penumpang tambahan.Selain itu, bahaya meteorologis lokal, seperti angin sumadin dan lauik api, berfungsi sebagai peringatan indeksikal bahaya yang memerlukan kehati-hatian manusia, kesadaran struktural, dan invocasi spiritual.Akhirnya, penangkapan ikan samen-samen yang berharga melambangkan kemandirian ekonomi dan pemenuhan tugas domestik dan komunal.Bersama-sama, tanda-tanda ini membentuk kurikulum pendidikan yang terorganisir dengan baik yang mempersiapkan nelayan pemula untuk realitas fisik dan sosial Samudra Hindia.Implikasi temuan ini sangat signifikan baik untuk antropologi maritim maupun pelestarian warisan budaya.Secara teoritis, penelitian ini menunjukkan nilai menerapkan semiotika Peircean terhadap literatur lisan asli, menunjukkan bagaimana triad tanda abstrak dapat menjelaskan alat kelangsungan hidup praktis, dunia nyata yang dikembangkan oleh komunitas pesisir.Secara metodologis, dengan mendokumentasikan dan menerjemahkan bait-bait ini dari bahasa Devayan yang terancam punah dan dialek Melayu lokal, penelitian ini melestarikan aset linguistik dan budaya yang tak ternilai sebelum hilang karena globalisasi yang cepat.Secara praktis, hasil ini menekankan kebutuhan mendesak bagi institusi budaya regional, seperti Majelis Adat Aceh, untuk mengintegrasikan tradisi lisan maritim leluhur ke dalam pendidikan keselamatan maritim modern dan kebijakan pelestarian regional.

Untuk mengembangkan gambaran lengkap tentang tradisi Nandong, studi tambahan diperlukan yang berfokus pada sub-genre tematik lainnya dalam repertoar, seperti yang mendetail siklus pertanian, migrasi sejarah, dan praktik medis. Studi lanjutan tentang topik ini direkomendasikan untuk mengeksplorasi bagaimana badan budaya lokal, seperti Majelis Adat Aceh, dapat mengintegrasikan panduan kelangsungan hidup lisan ini ke dalam pendidikan keselamatan maritim modern dan program pelestarian warisan regional. Ini adalah masalah penting untuk penelitian masa depan untuk memastikan bahwa kebijaksanaan ekologis leluhur Simeulue terus memandu generasi pelaut masa depan.

  1. Community Attitudes Towards Preserving Nandong Art in Gampong Sambay, Teluk Dalam District, Simuelue... hmpublisher.com/index.php/arkus/article/view/78Community Attitudes Towards Preserving Nandong Art in Gampong Sambay Teluk Dalam District Simuelue hmpublisher index php arkus article view 78
Read online
File size366.26 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test