EDUPEDEDUPED

Journal of Literature Language and Academic StudiesJournal of Literature Language and Academic Studies

Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis kesalahan ejaan bahasa Inggris dan menganalisis faktor psikolinguistik mendasar yang menyebabkan kesalahan tersebut di kalangan siswa kelas lima SD Aisyiyah 1 Kauman Pagaralam. Metodologi – Dengan menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif, penelitian ini melibatkan sampel jenuh sebanyak 41 siswa. Data dikumpulkan secara sistematis menggunakan tes ejaan bahasa Inggris, termasuk dikte dan tugas tertulis, di samping kuesioner skala Likert berdasarkan Dual-Route Model (DRM). Data yang terkumpul diproses menggunakan SPSS untuk analisis statistik deskriptif. Temuan – Kesalahan ejaan yang paling sering terjadi adalah Kapitalisasi Visual (14,3%), diikuti oleh Substitusi Fonologis Auditori (13,7%) dan Morfologis Visual (12,6%). Dari perspektif psikolinguistik, kesalahan-kesalahan ini terutama dipicu oleh keterbatasan memori kerja (rata-rata kinerja = 24,05), kegagalan pengambilan leksikal (rata-rata kognitif = 22,54), dan interferensi bahasa ibu yang mendalam (rata-rata L1 = 22,51) dikombinasikan dengan kesadaran fonologis bahasa Inggris yang lemah. Kebaruan – Studi ini secara empiris menghubungkan pola kesalahan ejaan tertulis kembali ke penyebab psikolinguistik yang mungkin terjadi pada pembelajar EFL awal, mengatasi kesenjangan penelitian yang hanya menghitung frekuensi kesalahan dalam konteks lokal. Signifikansi – Para pendidik dan perancang kurikulum akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini untuk merancang intervensi pedagogis yang ditargetkan, yang pada akhirnya meningkatkan keterampilan transkripsi dan kemanjuran diri dalam menulis di sekolah dasar Indonesia.

Penelitian ini mengidentifikasi kesalahan ejaan bahasa Inggris pada siswa kelas lima sebagai kapitalisasi visual, substitusi fonologis auditori, dan morfologis visual, yang disebabkan oleh keterbatasan memori kerja, kegagalan pengambilan leksikal, serta interferensi bahasa ibu dan kesadaran fonologis yang rendah.Secara pedagogis, temuan ini menyarankan agar guru menerapkan strategi seperti chunking informasi dan pengembangan LKPD visual menarik, serta menekankan aktivitas kesadaran fonologis untuk mengatasi beban kognitif dan transfer negatif dari bahasa ibu.Meskipun berhasil memetakan tipologi kesalahan, penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif, sehingga studi eksperimental di masa depan diperlukan untuk menguji efektivitas intervensi yang disarankan dalam mengurangi kesalahan ejaan dan beban memori kerja.

Penelitian selanjutnya dapat memperdalam temuan ini dengan menjelajahi lebih lanjut efektivitas intervensi pendidikan yang menargetkan akar masalah kesalahan ejaan. Pertama, meskipun penelitian ini menyarankan penggunaan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang menarik secara visual dan media digital berbasis chunking, akan sangat bermanfaat untuk melakukan studi eksperimental yang secara spesifik menguji elemen desain mana dalam alat-alat tersebut yang paling efektif. Misalnya, bagaimana penggunaan visualisasi warna-warni atau pengelompokan kata berdasarkan kategori tata bahasa (seperti kata benda atau kata kerja) memengaruhi pengurangan kesalahan kapitalisasi atau morfologi pada siswa? Penelitian ini dapat membandingkan berbagai pendekatan chunking (misalnya, chunking semantik versus fonologis) untuk mengetahui metode mana yang paling optimal dalam mengurangi beban memori kerja. Kedua, mengingat pentingnya kesadaran fonologis dan interferensi bahasa ibu sebagai pemicu kesalahan fonologis auditori, studi di masa depan dapat merancang dan menguji program pelatihan kesadaran fonologis yang terstruktur. Program ini dapat secara khusus berfokus pada melatih siswa untuk membedakan bunyi bahasa Inggris yang tidak ada dalam bahasa Indonesia, serta mengukur dampak langsungnya terhadap penurunan kesalahan ejaan yang diakibatkan oleh transfer negatif L1. Terakhir, untuk memahami dinamika perkembangan kesalahan ejaan, penelitian dapat melakukan studi longitudinal atau komparatif lintas usia. Dengan membandingkan siswa di berbagai tingkatan kelas dasar, misalnya kelas tiga, empat, dan lima, kita dapat melihat bagaimana faktor psikolinguistik seperti keterbatasan memori kerja dan interferensi bahasa ibu berkembang seiring waktu, dan pada tahap mana intervensi paling efektif untuk mencegah pembentukan kebiasaan ejaan yang salah.

  1. Psycholinguistic Analysis Of English Spelling Errors In Indonesian Fifth-Grade Students At SD ‘Aisyiyah... doi.org/10.56855/jllans.v5i2.2090Psycholinguistic Analysis Of English Spelling Errors In Indonesian Fifth Grade Students At SD AoAisyiyah doi 10 56855 jllans v5i2 2090
Read online
File size197.77 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test