PD PGMIPD PGMI

JMIE (Journal of Madrasah Ibtidaiyah Education)JMIE (Journal of Madrasah Ibtidaiyah Education)

Pendidikan inklusif memainkan peran penting dalam mempromosikan keadilan pendidikan, artinya setiap anak, terlepas dari kondisi fisik, mental, atau sosialnya, memiliki akses yang sama ke peluang pendidikan. Studi ini bertujuan menganalisis implementasi pendidikan inklusif menggunakan pendekatan sistem di SD Islam Fathia, Kota Sukabumi. Metode kualitatif deskriptif digunakan, dengan data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Temuan menunjukkan bahwa pendekatan sistem, seperti yang ditetapkan oleh Kaufman (1972), diterapkan dalam enam tahap utama: (1) identifikasi kebutuhan; (2) pemilihan masalah; (3) identifikasi kebutuhan penyelesaian masalah; (4) formulasi solusi alternatif; (5) evaluasi berkala pendidikan inklusif; dan (6) revisi kebijakan sekolah. Pendekatan sistem terbukti efektif dalam mengidentifikasi kebutuhan dan solusi secara komprehensif melalui dimensi input, proses, dan output. Hal ini dioperasionalisasikan melalui budaya inklusif, kebijakan, dan praktik berbasis bukti. Studi ini merekomendasikan penguatan kolaborasi antara pemangku kepentingan multidisiplin (sekolah, guru, orang tua, spesialis, dan pemerintah) untuk mendukung pendidikan inklusif berkelanjutan. Rekomendasi tambahan meliputi peningkatan fasilitas dan infrastruktur sekolah, peningkatan dukungan pemerintah melalui pelatihan guru, peningkatan kolaborasi lintas sektor, dan pengembangan kebijakan tingkat sekolah. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model berbasis sistem untuk pendidikan inklusif di tingkat sekolah dasar.

Implementasi pendidikan inklusif di SD Islam Fathia menunjukkan kemajuan signifikan, khususnya dalam membentuk budaya sekolah inklusif, menerapkan kebijakan inklusif, dan menerapkan praktik pengajaran yang berbeda.Menggunakan pendekatan sistem Kaufman (1972), studi ini menganalisis tahapan terkait implementasi pendidikan inklusif—mengidentifikasi kebutuhan, memilih masalah kunci, menentukan kebutuhan solusi, merumuskan alternatif, mengevaluasi hasil, dan membuat revisi.Temuan menunjukkan bahwa meskipun beberapa elemen pendidikan inklusif berjalan efektif, terdapat area kritis yang memerlukan pengembangan lebih lanjut untuk memastikan keberlanjutan dan keadilan.(1) penguatan kolaborasi dalam tim multidisiplin yang terdiri dari guru umum, pendidik khusus, orang tua, terapis, psikolog, dan perwakilan pemerintah.(2) peningkatan fasilitas dan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran yang beragam.(3) ekspansi dukungan pemerintah—terutama dalam bentuk pendanaan pendidikan inklusif, penyediaan bahan ajar khusus, penempatan personel pendidikan khusus yang terlatih, dan (4) peningkatan kapasitas guru melalui pengembangan profesional yang terstruktur dan berkelanjutan yang fokus pada pedagogi inklusif, pengajaran berbeda, dan strategi manajemen kelas untuk pembelajaran yang beragam.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji dampak pelatihan guru berbasis sistem terhadap peningkatan kualitas pendidikan inklusif di sekolah dasar. Selain itu, studi tentang implementasi kebijakan inklusif di tingkat lokal dapat memberikan wawasan tentang tantangan dan solusi yang relevan. Terakhir, penelitian tentang peran komunitas dan orang tua dalam mendukung pendidikan inklusif dapat mengungkap strategi yang lebih efektif untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan.

  1. A SYSTEMS APPROACH TO INCLUSIVE EDUCATION IN INDONESIAN PRIMARY SCHOOLS: A CASE STUDY | Novianti | JMIE... doi.org/10.32934/jmie.v9i1.697A SYSTEMS APPROACH TO INCLUSIVE EDUCATION IN INDONESIAN PRIMARY SCHOOLS A CASE STUDY Novianti JMIE doi 10 32934 jmie v9i1 697
  2. Manajemen Pendidikan Inklusi di Sekolah Dasar | ARZUSIN. manajemen pendidikan inklusi sekolah arzusin... doi.org/10.58578/arzusin.v2i6.703Manajemen Pendidikan Inklusi di Sekolah Dasar ARZUSIN manajemen pendidikan inklusi sekolah arzusin doi 10 58578 arzusin v2i6 703
Read online
File size509.99 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test