UNJAUNJA

Langue (Journal of Language and Education)Langue (Journal of Language and Education)

Teknologi kecerdasan buatan (AI) telah menghadirkan berbagai robot bahasa, dengan ChatGPT menjadi salah satu yang paling canggih karena kemampuan linguistik dan adaptasi manusia-likenya. Hal ini memunculkan gagasan penggunaan ChatGPT dalam pembelajaran bahasa asing. Berangkat dari premis bahwa ChatGPT berfungsi sebagai mediator antara bahasa dan pembelajar, menyediakan ruang belajar yang tenang dan aman, studi ini mengeksplorasi sikap mahasiswa Tunisia terhadap ChatGPT sebagai guru Bahasa Asing dan asisten digital. Empat puluh lima mahasiswa tahun ketiga bahasa Inggris di universitas Tunisia menyelesaikan kuesioner Likert-scale yang terdiri dari tiga puluh satu item yang mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatis. Hasil menunjukkan sikap umum positif terhadap penggunaan ChatGPT, khususnya dalam aspek sintaksis, fonologi, dan morfologi. Namun, pembelajar menunjukkan keraguan terhadap kegunaannya dalam pragmatis dan semantik, di mana AI mungkin kesulitan dengan level bahasa yang lebih dalam, kontekstual, dan nuansa budaya. Sikap ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama kebiasaan teknologi siswa dan struktur sistem pendidikan. Pembelajar dengan paparan rutin alat digital dan lingkungan online cenderung lebih menerima integrasi AI. Sebaliknya, mereka dari daerah pedesaan atau kurang berdaya sering menunjukkan skeptisisme karena akses dan pelatihan terbatas.

Studi ini mengeksplorasi sikap pembelajar bahasa Inggris Tunisia terhadap penggunaan ChatGPT sebagai model bahasa buatan dalam pembelajaran bahasa asing, dengan perhatian khusus pada persepsi mereka terhadap berbagai komponen linguistik.Hasil menunjukkan spektrum sikap, mulai dari sangat positif hingga skeptis dan negatif, yang dibentuk oleh berbagai faktor pendidikan, teknologi, dan budaya.Salah satu kontribusi utama studi ini adalah fokus pada sikap berbeda pembelajar di berbagai domain bahasa.Hasil menunjukkan bahwa meskipun ChatGPT dianggap efektif dalam meningkatkan aspek formal bahasa seperti sintaksis, fonologi, dan morfologi, ia kurang efektif dalam mendukung dimensi fungsional yang lebih dalam dari bahasa seperti pragmatis dan semantik.Implikasi penting dari studi ini adalah bahwa meskipun alat AI seperti ChatGPT dapat mendukung aspek tertentu dari pembelajaran bahasa, integrasinya harus didampingi oleh pengajaran manusia, terutama dalam area kompetensi pragmatis, komunikasi antar budaya, dan interaksi sosial real-time.

Berdasarkan temuan penelitian ini, ada tiga saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, penelitian dapat menginvestigasi efektivitas AI dalam mengajarkan keterampilan pragmatis dengan modul interaktif yang meniru konteks sosial nyata. Kedua, studi lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengeksplorasi dampak AI terhadap komunikasi antar budaya dalam pembelajaran bahasa, terutama dalam konteks globalisasi. Ketiga, peneliti dapat mengeksplorasi cara AI mendukung interaksi sosial real-time dalam kelas bahasa, seperti melalui simulasi percakapan atau kolaborasi virtual. Penelitian-penelitian ini dapat memperluas pemahaman tentang batas dan potensi AI dalam pendidikan bahasa, serta mengembangkan pendekatan yang lebih holistik dalam integrasinya.

  1. Difficulties Facing Students in English Language Conversation | Mofareh A. | International Research in... doi.org/10.5430/irhe.v4n3p51Difficulties Facing Students in English Language Conversation Mofareh A International Research in doi 10 5430 irhe v4n3p51
Read online
File size448.19 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test