UIGMUIGM

Journal Of Plano StudiesJournal Of Plano Studies

Program transmigrasi tidak hanya berfungsi sebagai bentuk perwujudan pemerataan penduduk dan pembangunan wilayah, tetapi juga membentuk struktur sosial dan spasial kawasan permukiman dalam jangka panjang. Kohesi sosial menjadi salah satu faktor kunci yang memengaruhi bagaimana masyarakat transmigran dan masyarakat lokal berinteraksi serta mengadaptasi sebuah ruang dengan fungsi tertentu, salah satunya ruang hunian atau permukiman. Ruang hunian ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang interaksi antar masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan dan menguatkan sistem kohesi, utamanya di kawasan transmigrasi. Hal ini penting mengingat kawasan transmigrasi yang dihuni tidak hanya masyarakat lokal, tetapi juga para transmigran yang datang ke kawasan transmigrasi dengan tujuan memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kohesi sosial terhadap pembentukan pola kawasan permukiman di Desa Kolikapa, Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan menelaah studi kasus di lapangan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kohesi sosial yang kuat mendorong terbentuknya pola permukiman yang mengelompok, pemanfaatan ruang komunal secara intensif, serta fleksibilitas penggunaan lahan untuk mendukung kegiatan masyarakat transmigrasi di Desa Kolikapa, Kec. Maukaro, Kab. Ende. Penelitian ini menjelaskan bahwa kohesi atau interaksi sosial memiliki peran signifikan dalam membentuk struktur spasial permukiman transmigrasi dan perlu dipertimbangkan secara integral dalam perencanaan kawasan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kohesi sosial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan pola kawasan permukiman di Desa Transmigrasi Kolikapa.Tingkat kepercayaan, solidaritas, dan partisipasi masyarakat yang tinggi mendorong terbentuknya pola permukiman yang mengelompok, kedekatan antarhunian, serta pemanfaatan ruang komunal secara intensif.Pola tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi fisik wilayah dan perencanaan awal transmigrasi, tetapi juga oleh dinamika sosial yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.Hasil penelitian ini menegaskan bahwa kawasan permukiman transmigrasi merupakan produk dari proses produksi sosial ruang, di mana interaksi dan relasi sosial masyarakat berperan penting dalam membentuk dan memodifikasi struktur spasial.Kohesi sosial berfungsi sebagai modal sosial yang memungkinkan adaptasi ruang berlangsung secara fleksibel dan harmonis, tanpa memicu konflik spasial yang berarti.Dengan demikian, dimensi sosial perlu dipertimbangkan secara integral bersama aspek fisik dan teknis dalam perencanaan dan pengembangan kawasan transmigrasi.

Berdasarkan temuan penelitian, saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan antara lain: (1) Menganalisis peran kohesi sosial dalam pembentukan pola permukiman di kawasan transmigrasi lain dengan karakteristik geografis dan budaya berbeda untuk memahami variabilitas dampak sosial; (2) Meneliti dampak jangka panjang kohesi sosial terhadap stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat transmigran, khususnya dalam menghadapi perubahan iklim atau krisis ekonomi; (3) Mengkaji pengaruh kebijakan pemerintah daerah terhadap pembentukan kohesi sosial dan pola permukiman, dengan fokus pada inisiatif penguatan partisipasi masyarakat dalam perencanaan kawasan transmigrasi.

  1. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.1007/s11205-005-2118-1Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 1007 s11205 005 2118 1
Read online
File size678.3 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test