169169

PanggungPanggung

Di Papua yang modern, Wisisi telah melampaui pengaturan ritual menjadi pertunjukan pendidikan dan publik, membuka jalur budaya untuk pembelajaran multikultural. Studi ini menganalisis bagaimana pertunjukan massal Wisisi berfungsi sebagai pedagogi tubuh di antara siswa di Papua. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menggabungkan etnografi digital dan refleksi autoetnografi. Data diambil dari dokumentasi audiovisual dari pertunjukan rekor MURI 2025 di Wamena, pertunjukan Wisisi siswa sekolah di Tiom, laporan Kompas.com, dokumen pendukung, dan materi wawancara dengan seniman dan produser musik Asep Nayak. Data dikumpulkan melalui observasi digital, peninjauan berulang, catatan, dan perbandingan sumber, kemudian ditafsirkan secara tematik melalui pedagogi tubuh dan pendidikan multikultural. Temuan menunjukkan bahwa gerakan sinkron, ritme kolektif, dan restrukturisasi ruang mengubah Wisisi menjadi media hidup untuk solidaritas, transmisi budaya, dan pembelajaran antaretnis. Artikel ini merekomendasikan pertunjukan yang berakar budaya sebagai infrastruktur pedagogis untuk pendidikan di Papua.

Studi ini menyimpulkan bahwa signifikansi pertunjukan Wisisi massal di Papua tidak hanya sebagai ekspresi budaya yang terlihat, tetapi juga sebagai kapasitasnya untuk mengubah tradisi menjadi mode pembelajaran yang beroperasi secara sosial.Yang menjadi penentu adalah bukan hanya pembesaran skala, tetapi transformasi Wisisi menjadi bentuk pedagogis melalui mana siswa mengalami disiplin, solidaritas, dan rasa memiliki budaya sebagai praktik tubuh.Dalam arti ini, Wisisi tidak boleh dikurangi menjadi tampilan simbolis dari harmoni multikultural.Pentingnya yang lebih dalam terletak pada cara ia mengatur tubuh, hubungan, dan nilai-nilai ke dalam lapangan pengalaman bersama di mana kesetiakawanan tidak hanya dinyatakan, tetapi dilakukan.Dari perspektif ini, studi ini menawarkan argumen yang lebih luas.tradisi pertunjukan lokal di daerah-daerah pribumi harus dipahami sebagai infrastruktur pedagogis daripada sebagai bahan budaya tambahan dalam pendidikan formal.Kasus Wisisi menunjukkan bahwa pendidikan multikultural di Papua dapat diletakkan pada bentuk-bentuk yang berarti secara lokal yang sudah mengandung pengetahuan etis, relasional, dan komunal.Ini memindahkan diskusi dari pelestarian sebagai dokumentasi menuju pelestarian sebagai kontinuitas pedagogis.Implikasi yang lebih luas adalah bahwa pertunjukan yang berakar budaya dapat berfungsi sebagai sumber daya kritis untuk merancang praktik pendidikan yang lebih peka konteks, relasional, dan responsif secara sosial, tidak hanya di Papua, tetapi juga di pengaturan lain di mana pengetahuan lokal tetap sentral bagi pembentukan kehidupan kolektif.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk menyelidiki lebih lanjut bagaimana pendidikan multikultural di Papua dapat memanfaatkan tradisi pertunjukan lokal untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan bermakna. Studi ini dapat mengeksplorasi bagaimana Wisisi dan bentuk-bentuk pertunjukan lokal lainnya dapat berfungsi sebagai sarana untuk membangun kesadaran dan apresiasi budaya, serta mempromosikan solidaritas dan kohesi sosial di antara siswa. Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas pedagogi tubuh dalam konteks pendidikan Papua, dan bagaimana hal itu dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa. Akhirnya, penelitian dapat dilakukan untuk menganalisis bagaimana pertunjukan massal Wisisi dapat digunakan sebagai alat untuk mempromosikan dialog dan pemahaman antaretnis, serta untuk memperkuat identitas dan kebanggaan budaya di antara siswa Papua.

  1. Model Pelatihan Tari: Penguatan Kompetensi Pedagogik & Profesionalisme Guru | Panggung. model pelatihan... jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/1370Model Pelatihan Tari Penguatan Kompetensi Pedagogik Profesionalisme Guru Panggung model pelatihan jurnal isbi ac index php panggung article view 1370
Read online
File size588.04 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test