169169

PanggungPanggung

Penelitian ini menyelidiki transformasi historis Klenang Nunggal dan hubungannya dengan perubahan sosial di Pringgasela, East Lombok, dari tahun 1990 hingga 2024. Tujuannya adalah merekonstruksi keberadaan dan fungsi Klenang Nunggal yang berubah-ubah serta menjelaskan bagaimana masyarakat Pringgasela merespons penurunan dan revitalisasi Klenang Nunggal di tengah perubahan sosio-budaya yang lebih luas. Penelitian ini menggunakan metode historis, yang terdiri dari heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, yang digabungkan dengan pendekatan sejarah budaya dan seni. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan seniman, pemimpin komunitas, perwakilan pemerintah desa, dan warga lokal, yang diperkuat dengan observasi dan dokumentasi. Temuan penelitian mengungkapkan empat fase historis dalam perkembangan Klenang Nunggal: transisi (1990-1999), ketika Klenang Nunggal muncul sebagai pengganti Rebana dan menjadi bagian dari prosesi tradisional Sasak; penurunan (2000-2010), yang ditandai dengan penurunan penampilan dan minat publik; hiatus (2010-2020), ketika instrumen yang rusak dan transmisi antar generasi yang lemah membawa tradisi ini mendekati penghapusan; dan revitalisasi (2020-2024), yang didorong oleh Festival Dongdala, Sanggar Mahapati, dukungan pemerintah desa, dan partisipasi pemuda yang diperbarui. Revitalisasi juga mengubah Klenang Nunggal yang semula hanya berfungsi sebagai pengiring musik untuk ritual tradisional menjadi penanda identitas budaya dan atraksi pariwisata budaya. Dilihat melalui kerangka struktural-fungsional Talcott Parsons, kelangsungan hidup Klenang Nunggal mencerminkan proses adaptasi, pencapaian tujuan kolektif, integrasi sosial, dan transmisi budaya. Penelitian ini berkontribusi pada historiografi seni pertunjukan Sasak dengan menunjukkan bahwa kelangsungan musik tradisional bukan hanya proses pelestarian budaya, tetapi transformasi historis dinamis yang dibentuk oleh agen komunitas, dukungan institusional, regenerasi antar generasi, dan rekonfigurasi tradisi dalam pariwisata budaya.

Trajektori historis Klenang Nunggal di Pringgasela menunjukkan bahwa kelangsungan seni tradisional tergantung pada kemampuan komunitas untuk merespons perubahan sosial dan budaya.Dikenalkan sekitar tahun 1990 sebagai alternatif dari tradisi Rebana yang menurun, Klenang Nunggal menjadi pengiring penting dalam prosesi tradisional Sasak, termasuk merarik, nyongkolan, nyunatang, dan roah.Antara tahun 1990 dan 2024, perkembangannya melewati empat fase.transisi (1990-1999), penurunan (2000-2010), hiatus (2010-2020), dan revitalisasi (2020-2024).Penurunannya disebabkan oleh instrumen yang rusak, menurunnya permintaan publik, penuaan seniman, regenerasi antar generasi yang lemah, dan popularitas hiburan modern yang meningkat, yang membawa tradisi ini mendekati penghapusan.Revitalisasi yang dimulai pada tahun 2020 menunjukkan bahwa kelangsungan hidup Klenang Nunggal tergantung pada kolaborasi antara aktor budaya.Festival Dongdala, reaktivasi Sanggar Mahapati, dukungan pemerintah desa untuk perbaikan instrumen, kepemimpinan komunitas, dan partisipasi pemuda yang diperbarui menciptakan ruang baru untuk penampilan dan transmisi.Fungsi Klenang Nunggal kemudian diperluas dari pengiring ritual tradisional menjadi mewakili identitas budaya lokal dan berkontribusi pada pariwisata budaya, menunjukkan bahwa seni tradisional dapat beradaptasi dengan modernisasi tanpa meninggalkan fondasi budayanya.Dilihat melalui kerangka struktural-fungsional Talcott Parsons, kelangsungan Klenang Nunggal memerlukan adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan laten.Adaptasi melibatkan respons terhadap lingkungan hiburan dan pariwisata yang berubah.pencapaian tujuan mencerminkan komitmen kolektif untuk pelestarian.integrasi muncul melalui kerjasama antara seniman, orang tua, pemuda, pemimpin komunitas, dan pemerintah desa.sementara laten dipertahankan melalui transmisi antar generasi pengetahuan musik, keterampilan penampilan, dan nilai-nilai budaya.Revitalisasi, karenanya, melibatkan tidak hanya memulihkan penampilan tetapi juga membangun kembali sistem sosial yang mendukung kontinuitas budaya.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, dan keterbatasan penelitian ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan:. . 1. Mengkaji lebih lanjut peran festival budaya, seperti Festival Dongdala, dalam revitalisasi dan pelestarian seni tradisional. Bagaimana festival ini menciptakan ruang baru untuk penampilan dan transmisi budaya, serta bagaimana mereka dapat memperkuat identitas lokal dan menarik wisatawan budaya?. . 2. Memperluas penelitian ke daerah-daerah lain di East Lombok yang memiliki kelompok Klenang, seperti Ambung, Lendang Nangka, Nyelak, Gelogor, Kotaraja, dan Keruak. Bagaimana dinamika ebb dan flow Klenang di berbagai daerah ini mencerminkan perubahan sosial dan budaya yang lebih luas?. . 3. Memfokuskan pada peran Sanggar Mahapati dan studio seni lainnya dalam melestarikan dan mentransmisikan pengetahuan musik, keterampilan penampilan, dan nilai-nilai budaya. Bagaimana institusi-institusi ini dapat memperkuat regenerasi antar generasi dan memastikan kelangsungan hidup seni tradisional di tengah perubahan sosial dan budaya yang cepat?.

  1. Intergenerational Transmission of Adungu (Bow-Harp) Musical Knowledge in Bweyale-Karuma, Uganda: A Phenomenological... ejceel.com/index.php/journal/article/view/387Intergenerational Transmission of Adungu Bow Harp Musical Knowledge in Bweyale Karuma Uganda A Phenomenological ejceel index php journal article view 387
  2. Eksistensi Kesenian Rebana Gending Desa Langko Dalam Masa Pandemik Covid-19 Di Lombok | Mudra Jurnal... doi.org/10.31091/mudra.v36i2.1460Eksistensi Kesenian Rebana Gending Desa Langko Dalam Masa Pandemik Covid 19 Di Lombok Mudra Jurnal doi 10 31091 mudra v36i2 1460
  3. Perubahan Sosial Masyarakat Di Masa New Normal (Analisis Menggunakan Perspektif Sosiologi Talcott Parsons)... doi.org/10.26623/jdsb.v25i1.4439Perubahan Sosial Masyarakat Di Masa New Normal Analisis Menggunakan Perspektif Sosiologi Talcott Parsons doi 10 26623 jdsb v25i1 4439
  4. The Spirituality of Bejango Belèq Tradition Through The Communal Footprint in Lombok, Indonesia... doi.org/10.18848/2324-7576/CGP/v21i01/1-21The Spirituality of Bejango Belyq Tradition Through The Communal Footprint in Lombok Indonesia doi 10 18848 2324 7576 CGP v21i01 1 21
  5. Pendampingan pembuatan alat music Klentang | ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. pendampingan... doi.org/10.29408/ab.v4i1.12838Pendampingan pembuatan alat music Klentang ABSYARA Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat pendampingan doi 10 29408 ab v4i1 12838
Read online
File size956.59 KB
Pages22
DMCAReport

Related /

ads-block-test