169169

PANTUN: Jurnal Ilmiah Seni BudayaPANTUN: Jurnal Ilmiah Seni Budaya

Pengembangan film horor Indonesia dalam dekade terakhir menunjukkan kecenderungan kuat terhadap penggunaan properti visual sebagai konstruktor atmosfer dan makna. Film Rambut Kafan secara konsisten menggunakan rambut panjang, kain kafan, dan benda ritual sebagai tanda-tanda horor utama. Studi ini bertujuan untuk menganalisis makna semiotik dari properti horor dalam Rambut Kafan menggunakan pendekatan semiotik Charles Sanders Peirce dan mengeksplorasi potensinya sebagai inspirasi untuk penciptaan artistik teater. Kebaruan penelitian ini terletak pada peta sistem tanda properti horor dari film ke konteks transformasi artistik di teater, bukan hanya menginterpretasikan makna visual dalam medium film. Penelitian kualitatif ini menganalisis adegan terpilih yang secara dominan menampilkan properti horor utama. Temuan menunjukkan bahwa properti ini berfungsi sebagai ikon, indeks, dan simbol yang merepresentasikan kematian, trauma, dan ruang budaya liminal. Implikasi praktis studi ini menunjukkan bahwa properti horor dari film dapat diubah menjadi elemen teatral metaforis, imersif, dan multisensorik, sehingga memperkaya strategi pembuatan visual dalam praktik teater kontemporer.

Studi ini menunjukkan bahwa properti horor dalam Rambut Kafan berfungsi sebagai sistem tanda visual yang terstruktur dan berbasis budaya, bukan elemen visual insidental.Rambut panjang, kain kafan, dan benda ritual muncul sebagai perangkat semiotik penting yang mengatur atmosfer horor dan mengorganisir ketegangan naratif.Properti ini dapat dibaca sebagai lapisan makna kematian, trauma, gangguan spiritual, dan kondisi liminal antara kehidupan dan kematian menggunakan kerangka icon-index-symbol Peirce.Penelitian ini menunjukkan relevansi analisis semiotik film terhadap praktik teatrikal dengan memandang properti horor sebagai sumber semiotik lintas media.Pendekatan ini dapat menjadi dasar bagi praktisi teater untuk mengeksplorasi materialitas, desain ruang, gerakan, dan elemen multisensorik dalam membentuk estetika horor di panggung.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi transformasi properti horor dalam konteks budaya lain, seperti membandingkan interpretasi simbol kain kafan di film Indonesia dengan tradisi teater Jepang atau Eropa. Selain itu, studi tentang integrasi teknologi augmented reality dalam penggunaan properti teatral untuk menciptakan efek horor imersif bisa menjadi arah baru. Terakhir, penelitian dapat fokus pada interaksi audiens dengan properti horor di ruang teater, khususnya bagaimana pengalaman multisensorik memperkuat makna budaya dan emosional dari simbol-simbol tersebut.

Read online
File size355.62 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test