STIUDQSTIUDQ

Ulumul Qur'an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur'an dan TafsirUlumul Qur'an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Penelitian ini bertujuan untuk menggali resepsi fungsional Surah Āli Imrān: 191 yang dipahami oleh masyarakat Semurup Kabupaten Kerinci sebagai doa meminta hujan dalam tradisi Bratit Semin. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori resepsi Hans Robert Jauss yang menekankan terhadap tanggapan pembaca atau penikmat karya sastra pada suatu teks. Wujud resepsi ini berorientasi terhadap pemahaman makna atau bentuk ritual keagamaan. Surah Āli Imrān: 191 sendiri pada masa awal Islam dipahami sebagai bagian dari rutinitas keimanan seseorang Muslim, sementara pada masa modern mulai dipahami sebagai bentuk karunia terhadap akal yang diberikan Tuhan untuk berpikir. Kemudian menurut Al-Ghazali ayat ini dipahami sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah melalui zikir dan berdoa dalam menjadi solusi di setiap permasalahan yang dihadapi. Dengan menggunakan metode deskriptif-analisis, artikel ini menyimpulkan bahwasanya Surah Āli Imrān: 191 dapat dipahami sebagai wasilah dalam meminta hujan ketika terjadi kemarau panjang.

Berdasarkan hasil yang telah diuraikan di atas terkait resepsi fungsional Q.191 dalam tradisi Bratit Semin sebagai Doa Meminta Hujan Masyarakat Semurup Kab.Kerinci dapat disimpulkan bahwa teori resepsi Hans Robert Jauss pada dasarnya mencoba menggali tanggapan-tanggapan pembaca dalam memahami teks karya sastra.Tanggapan ini dapat bervariasi sesuai dengan horizon ekspektasi dari para pembaca.Horizon ekspektasi terbentuk dari pengaruh pengalaman pembaca dalam membaca karya sastra sebelumnya atau latar belakang sosial, lingkungan, tradisi dan pendidikan.Terdapat tiga variasi resepsi terhadap Surah Āli Imrān 191.Pertama, sebagai bagian dari wujud penghambaan dan keimanan manusia dalam mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, ataupun berbaring, bahkan kalimat zikir di sini juga dimaknai dengan pelaksanaan salat bagi masyarakat awal Islam.191 mulai dimaknai sebagai karunia yang diberikan Tuhan kepada manusia yakni berupa akal untuk berpikir dengan melihat, merenungi, ataupun mempelajari benda-benda yang diciptakan di sekeliling manusia seperti bumi, bulan, bintang dan matahari yang merupakan wujud kebesaran Allah SWT.191 berkhasiat sebagai wasilah berdoa ketika menghadapi musim kemarau supaya diturunkannya hujan, resepsi ini tumbuh karena adanya kedekatan emosional manusia dengan kandungan Al-Qur`an sebagai penolong ketika menghadapi kesusahan, pemberi solusi, dan penenang hati, sehingga, ikhtiar dan usaha ini membuka harapan agar Allah mengabulkan doa hamba-Nya karena hamba-Nya mengingat-Nya dalam tradisi Bratit Semin masyarakat Semurup Kabupaten Kerinci.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk melakukan studi lebih lanjut mengenai pengaruh tradisi Bratit Semin dalam membentuk spiritualitas dan sosial masyarakat Kerinci. Selain itu, penelitian juga dapat dilakukan untuk menganalisis lebih mendalam mengenai perubahan makna Surah Āli Imrān: 191 dalam pemahaman masyarakat Semurup, khususnya dalam konteks tradisi Bratit Semin sebagai doa meminta hujan. Terakhir, penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk mengeksplorasi lebih lanjut mengenai resepsi fungsional Al-Qur`an dalam tradisi Bratit Semin, khususnya dalam memahami ayat-ayat zikir dan relevansinya dalam kehidupan masyarakat Kerinci.

Read online
File size521.42 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test