UNISKAUNISKA

AKUNTANSIAKUNTANSI

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan aplikasi akuntansi budaya dan hubungannya dengan keberlanjutan keuangan berbasis komunitas dalam upacara adat Karo di masyarakat Tengger. Upacara ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga bentuk kerjasama, transparansi, kepercayaan, dan kontinuitas budaya. Proses pembiayaan berjalan tanpa catatan akuntansi formal, tetapi akuntabilitas terjaga melalui partisipasi komunitas dalam pengelolaan dana. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, melibatkan wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil menunjukkan bahwa pembiayaan upacara Karo bersifat kolektif, di mana anggota berkontribusi uang, barang, atau tenaga sehingga tidak ada beban ekonomi individu. Deliberasi komunitas menjamin transparansi, dengan keputusan keuangan dibahas terbuka untuk mencegah penyalahgunaan. Dana yang terkumpul digunakan untuk kebutuhan upacara dan tujuan jangka panjang seperti pemeliharaan kuil, pendidikan budaya, dan pelestarian warisan. Temuan menunjukkan bahwa akuntansi budaya dalam masyarakat Tengger mewujudkan keberlanjutan dengan mengintegrasikan nilai ekonomi, sosial, dan spiritual untuk mempertahankan tradisi, memperkuat solidaritas, dan melestarikan identitas budaya di tengah modernisasi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa upacara adat Karo berfungsi sebagai sistem akuntansi yang tertanam secara budaya, di mana pembiayaan diorganisasikan melalui gotong royong, musyawarah, dan kewajiban moral, alih-alih melalui pembukuan formal.Analisis ini memperlihatkan bahwa akuntansi budaya mampu menopang kesinambungan ritual sekaligus memperkuat kohesi sosial dan komitmen spiritual.Keberlanjutan keuangan berbasis komunitas tidak lahir dari mekanisme pengendalian berbasis buku besar, melainkan dari akuntabilitas yang dipraktikkan secara publik melalui diskusi terbuka, pembagian peran bersama, dan tanggung jawab vertikal terhadap nilai-nilai leluhur sehingga praktik ekonomi selaras dengan identitas budaya dan nilai publik.

Berdasarkan temuan dan analisis, penelitian selanjutnya dapat mengusulkan beberapa saran. Pertama, perlu ada studi komparatif lintas desa Tengger dan komunitas ritual lainnya untuk memahami variasi praktik akuntansi budaya. Kedua, desain metode campuran yang mengkuantifikasi arus ekonomi bersamaan dengan etnografi dapat memberikan perspektif yang lebih komprehensif. Ketiga, analisis longitudinal tata kelola dana lintas siklus upacara dapat memberikan wawasan tentang keberlanjutan keuangan dalam jangka panjang. Selain itu, kajian terfokus mengenai peran keuangan pemuda dan perempuan, pemanfaatan perangkat digital untuk transparansi berbasis komunitas, dan ketegangan antara pelindungan budaya dan komodifikasi ritual dalam konteks pariwisata juga dapat menjadi topik penelitian menarik.

  1. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.1007/s10163-020-01140-0Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 1007 s10163 020 01140 0
  2. THE PHENOMENON OF GOTONG ROYONG IN JAVA COMMUNITY: A CASE STUDY NYUMBANG | Indonesian Journal of Multidisciplinary... ijoms.internationaljournallabs.com/index.php/ijoms/article/view/145THE PHENOMENON OF GOTONG ROYONG IN JAVA COMMUNITY A CASE STUDY NYUMBANG Indonesian Journal of Multidisciplinary ijoms internationaljournallabs index php ijoms article view 145
Read online
File size472.46 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test