E GREENATIONE GREENATION

Greenation International Journal of Law and Social SciencesGreenation International Journal of Law and Social Sciences

Komunikasi dokter-pasien tetap menjadi masalah global, dengan survei di sepuluh negara menunjukkan perbedaan persepsi luas antara dokter dan pasien. Di Indonesia, 35% pasien melaporkan ketidakpuasan terhadap komunikasi konsultasi, sementara penelitian sebelumnya cenderung kuantitatif dan mengabaikan pengalaman hidup yang membentuk hubungan dua pihak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perkembangan hubungan komunikasi dokter-pasien melalui keterlibatan aktif pasien, pengalaman komunikasi kedua belah pihak, dan makna transenden hubungan dua pihak untuk perawatan berbasis pasien dan model biopsikososial. Menggunakan paradigma interpretatif dan pendekatan kualitatif deskriptif, fenomenologi transenden Edmund Husserl diterapkan melalui epoché, reduksi fenomenologis, variasi imajinatif, dan sintesis makna pada tiga pasangan dokter-pasien secara sengaja dipilih—seorang ahli internis, seorang dokter anak, dan seorang spesialis kebidanan-kebidanan dengan pasien masing-masing di Rumah Sakit 123, Indonesia; data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam semi-struktural dan tidak terstruktur, serta divalidasi melalui triangulasi teknik, sumber, dan waktu. Hasil menunjukkan bahwa hubungan berkembang dalam tahap, dari pencarian informasi pra-konsultasi digital melalui tahap orientasi, eksplorasi afektif, afektif, dan stabil, culminasi dalam pengambilan keputusan bersama; pengalaman hidup mengubah kecemasan pasien menjadi kepercayaan melalui kehadiran empatik dokter; dan pengungkapan diri memperluas untuk mencakup doa, empati, dan rasa hormat, menghasilkan perspektif biopsikososial-spiritual-budaya. Studi menyimpulkan bahwa komunikasi klinis adalah pertemuan manusiawi di mana kompetensi profesional dan empati bersama mengembalikan martabat pasien, dan menawarkan model komunikasi dua pihak empat tingkat untuk mengevaluasi perawatan berbasis pasien di rumah sakit.

Studi ini menyimpulkan bahwa komunikasi klinis adalah pertemuan manusiawi di mana kompetensi profesional dan empati bersama mengembalikan martabat pasien.Penelitian menemukan bahwa hubungan komunikasi dokter-pasien berkembang melalui tahapan yang melibatkan kecemasan pasien yang diubah menjadi kepercayaan melalui kehadiran empatik dokter.Model komunikasi dua pihak empat tingkat yang diusulkan dapat digunakan untuk mengevaluasi perawatan berbasis pasien, menekankan pentingnya empati, pengungkapan diri, dan pendekatan biopsikososial-spiritual dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan.

1. Mempelajari peran platform digital dalam interaksi pra-konsultasi antara dokter dan pasien, terutama dalam konteks budaya Indonesia, untuk mengidentifikasi faktor yang memengaruhi pembentukan kepercayaan sebelum konsultasi langsung. 2. Menganalisis dampak faktor budaya lokal, seperti nilai religius dan kepatuhan, terhadap gaya komunikasi dokter-pasien dan bagaimana hal ini memengaruhi keputusan medis bersama. 3. Mengembangkan model integrasi aspek spiritual dalam perawatan berbasis pasien, dengan mempertimbangkan pengaruh doa dan kepercayaan pada proses pengambilan keputusan medis di Indonesia.

  1. Vol. 4 No. 3 (2026): (GIJLSS) Greenation International Journal of Law and Social Sciences (July - August... doi.org/10.38035/gijlss.v4i3Vol 4 No 3 2026 GIJLSS Greenation International Journal of Law and Social Sciences July August doi 10 38035 gijlss v4i3
Read online
File size859.59 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test