ALQOLAMALQOLAM

Jurnal Studi PesantrenJurnal Studi Pesantren

Studi ini mengeksplorasi dimensi ecosufism yang terkandung dalam Serat Centhini melalui lensa filsafat dan teologi Islam, serta meneliti aktualisasinya dalam praktik lingkungan kontemporer melalui studi kasus program Hifdzu Biah yang dilakukan oleh mahasiswa KKN-T Universitas Al-Qolam Malang di Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang (2025). Dengan menggunakan hermeneutika filsafat Gadamer untuk analisis teks primer Serat Centhini dan analisis konten dokumen laporan KKN-T sebagai data empiris, studi ini menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, Serat Centhini memiliki fondasi proto-ekosufisme yang kuat berdasarkan doktrin wahdat al-wujud yang diekspresikan melalui manunggaling kawulo-Gusti, konsep khalifah, dan etika kosmik Jawa Memayu Hayuning Bawana. Kedua, nilai-nilai klasik ini menunjukkan keterkaitan teologis yang signifikan dengan kerangka ecosufism yang dikembangkan oleh Nasr (1996) dan Suwito (2014), sekaligus mengalami transformasi produktif pada tingkat metodologis dan institusional. Ketiga, program Hifdzu Biah menunjukkan bahwa nilai-nilai ecosufism Serat Centhini dapat dioperasionalkan melalui forum komunitas Islam partisipatif, khususnya melalui jaringan perempuan Fatayat dan Muslimat NU, meskipun tantangan struktural seperti ketidakhadiran pengaturan institusional permanen masih membatasi keberlanjutan jangka panjang. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model ecosufism Nusantara yang menghubungkan warisan intelektual Islam-Jawa klasik dengan tantangan ekologis kontemporer, menawarkan dasar lokal autentik untuk teologi lingkungan Islam di Indonesia.

Serat Centhini mengandung proto-ekosufisme yang koheren dan terstruktur, yang terdiri dari tiga pilar utama.fondasi ontologis wahdat al-wujud/manunggaling kawulo-Gusti, kerangka epistemologis alam sebagai āyāt kawniyyah, dan imperatif etis Memayu Hayuning Bawana.Nilai-nilai klasik ini tetap relevan secara spiritual bagi masyarakat Islam-Jawa kontemporer, terbukti melalui program Hifdzu Biah yang mampu mengintegrasikan kesadaran ekologis ke dalam pertemuan keagamaan.Namun, tantangan struktural seperti ketidakhadiran regulasi institusional dan keterlibatan generasi muda masih menjadi hambatan untuk keberlanjutan ecosufism.Studi ini menunjukkan bahwa ecosufism perlu diintegrasikan secara sistematis ke dalam kerangka hukum, pendidikan, dan partisipasi masyarakat untuk memperkuat relevansinya dalam konteks lingkungan global.

1. Penelitian lanjutan tentang peran generasi muda dalam memperkuat tradisi ecosufism, dengan fokus pada strategi penguatan partisipasi melalui pendidikan dan media. 2. Analisis kerangka institusional yang diperlukan untuk menjaga keberlanjutan program ecosufism, termasuk pengembangan regulasi lingkungan desa dan integrasi nilai ekologis ke dalam kurikulum pendidikan Islam. 3. Studi tentang potensi pengembangan teologi lingkungan Islam melalui pengkajian kembali teks-teks klasik Jawa-Islam seperti Serat Centhini, dengan mempertimbangkan konteks keberlanjutan ekologis kontemporer.

  1. Centhini, Serat. centhini serat jump content english deutsch brill account create subjects african studies... referenceworks.brill.com/view/entries/EI3O/COM-23877.xmlCenthini Serat centhini serat jump content english deutsch brill account create subjects african studies referenceworks brill view entries EI3O COM 23877 xml
  2. Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam. manusia alam tuhan ekosufisme al ghazali jaqfi jurnal aqidah filsafat... journal.uinsgd.ac.id/index.php/jaqfi/article/view/16275Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam manusia alam tuhan ekosufisme al ghazali jaqfi jurnal aqidah filsafat journal uinsgd ac index php jaqfi article view 16275
  3. “Tout comprendre, c’est tout pardonner?”... brill.com/view/journals/phen/2/3-4/article-p388_9.xmlyEAyCAAyCAuTout comprendre cyEAyCAAyCAoest tout pardonner yEAyCAAyCAy brill view journals phen 2 3 4 article p388 9 xml
Read online
File size480.56 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test