UINMADURAUINMADURA

ENTITA: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu SosialENTITA: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial

Integrasi konsep modal sosial menjadi pendekatan yang relevan dalam pengembangan materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi sinergi antara konsep modal sosial dan pendekatan etnopedagogi yang menekankan pemanfaatan kearifan lokal dalam pendidikan IPS di Indonesia. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (literature review) dengan penerapan analisis SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan dalam pengembangan kedua pendekatan tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi etnopedagogi dalam pembelajaran IPS dapat memperkuat hubungan interpersonal, meningkatkan kesadaran sosial masyarakat, serta merevitalisasi identitas budaya di tengah arus globalisasi. Pengembangan modal sosial melalui pembelajaran kolaboratif terbukti mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, empati, dan partisipasi aktif peserta didik sebagai warga negara. Studi ini menawarkan model konseptual yang menghubungkan dimensi modal sosial—bonding, bridging, dan linking social capital—dengan strategi etnopedagogi untuk mewujudkan pembelajaran IPS yang responsif terhadap konteks budaya. Namun demikian, tantangan seperti homogenisasi budaya, keterbatasan kapasitas guru, dan kecenderungan representasi budaya yang bersifat simbolik perlu diatasi melalui dukungan kebijakan, pengembangan profesional pendidik, serta reformasi kurikulum yang menghargai epistemologi lokal. Integrasi kedua pendekatan ini berpotensi menjadi strategi transformatif dalam membentuk peserta didik yang berakar pada budaya, memiliki keterhubungan sosial yang kuat, serta berorientasi pada nilai-nilai demokrasi dan kewarganegaraan yang berkelanjutan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi budaya dan modal sosial dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam Kurikulum Merdeka secara signifikan meningkatkan relevansi dan makna belajar siswa.Melalui pendekatan etnopedagogi, pembelajaran IPS tidak lagi terbatas pada penyampaian teori konvensional, tetapi menjadi sarana untuk memberdayakan nilai-nilai kearifan lokal yang memperkuat identitas budaya dan ketahanan komunitas.Analisis SWOT mengidentifikasi bahwa kekuatan utama model ini terletak pada kemampuannya untuk mengkontekstualkan materi pembelajaran dalam realitas sosial siswa, seperti yang tercermin dalam integrasi praktik budaya lokal seperti deliberasi adat, sistem kerja sama Dayak Meratus, dan tradisi pasar terapung Banjarmasin dalam topik studi sosial.Selain itu, kebijakan Merdeka Belajar yang menekankan diferensiasi dan konteks lokal memberikan legitimasi dan ruang bagi guru IPS untuk merancang pembelajaran berbasis pengalaman, sehingga siswa tidak hanya memahami konsep abstrak, tetapi juga merefleksikan dan merespons secara kritis dan bertanggung jawab terhadap kondisi sosial di lingkungan mereka.Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diakui.Model integrasi budaya dan modal sosial sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya budaya lokal, sehingga sulit untuk diimplementasikan di daerah yang mengalami modernisasi tinggi atau urbanisasi cepat, yang merusak praktik tradisional.Disarankan untuk mengembangkan model pelatihan guru yang terstruktur dan berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi pedagogis dalam mengintegrasikan budaya dan modal sosial.Penelitian komparatif lintas wilayah dengan karakteristik budaya yang beragam juga diperlukan untuk menguji transferabilitas model ini.Selain itu, pengembangan instrumen penilaian autentik yang dapat mengukur literasi budaya dan sosial secara valid dan adil perlu menjadi prioritas, bersama dengan penjelajahan penggunaan teknologi digital untuk mendokumentasikan dan mendistribusikan konten budaya lokal sebagai sumber belajar studi sosial yang inklusif dan adil.

Saran penelitian lanjutan yang baru adalah: . . 1. Mengembangkan model pelatihan guru yang terstruktur dan berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi pedagogis dalam mengintegrasikan budaya dan modal sosial. Hal ini dapat mencakup pelatihan profesional untuk guru IPS dalam merancang pembelajaran yang mengaitkan konsep-konsep studi sosial dengan praktik budaya lokal, serta mengembangkan strategi penilaian yang sesuai dengan konteks lokal.. . 2. Melakukan penelitian komparatif lintas wilayah dengan karakteristik budaya yang beragam untuk menguji transferabilitas model integrasi budaya dan modal sosial dalam pembelajaran IPS. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana pendekatan ini dapat diterapkan di berbagai konteks sosial dan budaya, serta mengidentifikasi tantangan dan peluang yang unik bagi setiap wilayah.. . 3. Menerapkan teknologi digital untuk mendokumentasikan dan mendistribusikan konten budaya lokal sebagai sumber belajar studi sosial yang inklusif dan adil. Teknologi dapat digunakan untuk merekam praktik budaya, menciptakan video dokumenter sederhana, atau mengembangkan peta interaktif yang berisi informasi sosial-budaya berbasis komunitas. Hal ini dapat membantu siswa memahami dan menghargai keragaman budaya di Indonesia, serta meningkatkan keterlibatan mereka dalam pembelajaran studi sosial.

  1. Modal Kultural Masyarakat di Daerah Rawan Bencana di Indonesia: Kajian Berdasarkan Karakteristik Wilayah... ejournal.undip.ac.id/index.php/humanika/article/view/67933Modal Kultural Masyarakat di Daerah Rawan Bencana di Indonesia Kajian Berdasarkan Karakteristik Wilayah ejournal undip ac index php humanika article view 67933
  2. The Influence of Cultural Values and Individual Seller Behavior on Tourists' Interest in Visiting... doi.org/10.59188/eduvest.v4i8.1774The Influence of Cultural Values and Individual Seller Behavior on Tourists Interest in Visiting doi 10 59188 eduvest v4i8 1774
Read online
File size334.75 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test