UNMERPASUNMERPAS

JMM - Jurnal Masyarakat MerdekaJMM - Jurnal Masyarakat Merdeka

Apotek hidup merupakan konsep pemanfaatan tanaman obat keluarga yang mudah ditanam di pekarangan rumah sebagai alternatif obat alami dan upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan berbasis herbal. Sosialisasi pemanfaatan apotek hidup terhadap siswa SDN Legundi sehingga membantu kreatifitas siswa yang harus ditingkatkan kembali. Tujuan dari program ini untuk membantu siswa untuk mengenal tanaman-tanaman yang memiliki khasiat dan manfaat. Metode pelaksanaan penelitian lapangan yaitu dengan memberikan sosialaisasi langsung pembuatan apotek hidup dilingkungan SDN Legundi. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa siswa memiliki antusiasme tinggi dalam memahami jenis-jenis tanaman obat, cara menanam, serta manfaatnya. Selain itu, program ini juga berhasil meningkatkan pemahaman siswa SDN Legundi terhadap pentingnya menjaga kesehatan secara alami dan menciptakan kebiasaan positif untuk memanfaatkan tanaman herbal di lingkungan sekitar. Sosialisasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membentuk generasi muda yang peduli terhadap kesehatan dan keberlanjutan lingkungan.

Pembudidayaan apotek hidup di Indonesia melestarikan kearifan lokal, mengoptimalkan pekarangan, serta memberikan manfaat ekonomi dan kesehatan dengan menghindari obat kimia.Tanaman apotek hidup tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga memiliki khasiat pengobatan beragam penyakit, contohnya kumis kucing yang dapat membantu mengatasi diare hingga diabetes.Di lingkungan pendidikan, apotek hidup juga berperan memperindah area sekolah, meningkatkan wawasan siswa mengenai tanaman obat, dan menjadi media pembelajaran yang efektif.

Meskipun program sosialisasi apotek hidup di SDN Legundi telah berhasil meningkatkan antusiasme dan pemahaman awal siswa, masih ada beberapa arah penelitian lanjutan yang menarik untuk dieksplorasi demi memaksimalkan dampak positifnya. Pertama, penting untuk mengkaji lebih jauh bagaimana keberlanjutan kebiasaan pemanfaatan apotek hidup ini dalam jangka panjang di lingkungan rumah tangga siswa. Apakah pengetahuan yang didapat siswa selama sosialisasi benar-benar diterjemahkan menjadi praktik nyata di rumah, dan bagaimana pola pemeliharaan serta penggunaan tanaman obat tersebut berlanjut setelah program selesai? Penelitian ini dapat dilakukan dengan metode longitudinal untuk melihat retensi pengetahuan dan adopsi perilaku dalam kurun waktu 6 hingga 12 bulan. Kedua, ada potensi besar untuk menyelidiki sejauh mana model sosialisasi ini dapat direplikasi dan diadaptasi secara efektif di sekolah-sekolah dasar lain yang mungkin memiliki kondisi geografis atau sosial-budaya yang berbeda. Mengidentifikasi faktor-faktor kunci keberhasilan atau tantangan dalam replikasi program akan sangat berharga untuk pengembangan panduan implementasi yang lebih komprehensif. Ketiga, untuk memperdalam pemahaman siswa, penelitian dapat fokus pada pengembangan materi pembelajaran yang lebih interaktif dan mendalam. Bagaimana kita bisa merancang kurikulum yang mengintegrasikan aspek ilmiah dari tanaman obat, seperti kandungan bioaktif atau mekanisme kerjanya, ke dalam pembelajaran sains dasar? Pendekatan ini tidak hanya akan meningkatkan wawasan botani siswa, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis mereka terhadap potensi kesehatan alami.

Read online
File size1.03 MB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test