STTSAPPISTTSAPPI
http://ojs.sttsappi.ac.id/index.php/tedeum/indexhttp://ojs.sttsappi.ac.id/index.php/tedeum/indexTulisan ini bertujuan untuk meneliti makna doa Agur bin Yake dalam Amsal 30:7-9 sebagai sebuah teks yang menawarkan keugaharian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan interpretasi bentuk sastra hikmat yang menganalisis teks, struktur dan bentuk kalimat. Penelitian ini menemukan bahwa Amsal 30:7-9 mencerminkan keugaharian yang sangat relevan diterapkan dalam kehidupan saat ini. Keugaharian merupakan cara hidup sederhana yang tepat untuk menghalangi konsumerisme, hedonisme dan keserakahan. Temuan ini tampak dalam permohonan Agur bin Yake yang meminta keadaan pertengahan (tidak miskin dan tidak kaya) dan motivasi hidup ugahari yang digemakan dalam doanya. Penelitian ini menjadi masukan dan pengingat bagi setiap orang percaya dan gereja agar hidup ugahari sesuai dengan nilai-nilai Alkitabiah sebagai bentuk ucapan syukur, kepercayaan dan kesetiaannya kepada Tuhan.
Keugaharian sangat diperlukan di tengah gempuran perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memudahkan manusia untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya sehingga manusia dapat membedakan dan memilih yang utama di antara keduanya.
Berdasarkan hasil penelitian, saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan adalah: 1. Menganalisis lebih lanjut bagaimana nilai-nilai keugaharian dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam konteks gereja. 2. Meneliti lebih dalam tentang bagaimana konsumerisme dan hedonisme mempengaruhi perilaku dan pola pikir masyarakat modern, dan bagaimana nilai-nilai keugaharian dapat menjadi solusi untuk mengatasi dampak negatif dari kedua fenomena tersebut. 3. Mengembangkan strategi pendidikan dan pembinaan spiritualitas keugaharian di lingkungan gereja, terutama bagi generasi muda, agar mereka dapat hidup sederhana, bersyukur, dan menghindari konsumerisme dan hedonisme.
- Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Indonesia (JISHI). maraknya hedonisme berkedok self reward jurnal ilmu... doi.org/10.52436/1.jishi.24Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Indonesia JISHI maraknya hedonisme berkedok self reward jurnal ilmu doi 10 52436 1 jishi 24
- Konstruksi Model Spiritualitas Pastoral bagi Katekis di Era Digital | Jurnal Penelitian Pendidikan Agama... doi.org/10.52110/jppak.v1i2.31Konstruksi Model Spiritualitas Pastoral bagi Katekis di Era Digital Jurnal Penelitian Pendidikan Agama doi 10 52110 jppak v1i2 31
| File size | 465.23 KB |
| Pages | 21 |
| DMCA | Report |
Related /
UNSAUNSA Konflik ini mendorongnya untuk melakukan berbagai mekanisme pertahanan untuk melindungi diri dari ketakutannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwaKonflik ini mendorongnya untuk melakukan berbagai mekanisme pertahanan untuk melindungi diri dari ketakutannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
IAKNKUPANGIAKNKUPANG Dengan pendekatan yang kontekstual dan penuh kasih, PAK di harapkan mampu menjadi kekuatan pemersatu dalam keberagaman. Pendidikan agama Kristen harusDengan pendekatan yang kontekstual dan penuh kasih, PAK di harapkan mampu menjadi kekuatan pemersatu dalam keberagaman. Pendidikan agama Kristen harus
STFXAMBONSTFXAMBON Namun sebagian OMK juga mengakui bahwa mereka mengalami keterasingan, kesendirian, dan ilusinasi karena kurang mampu mengontrol diri dalam menggunakanNamun sebagian OMK juga mengakui bahwa mereka mengalami keterasingan, kesendirian, dan ilusinasi karena kurang mampu mengontrol diri dalam menggunakan
STAI ALISTAI ALI Secara keseluruhan, kegiatan penyuluhan ini berhasil memberikan pemahaman baru yang dapat mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat, serta memberikanSecara keseluruhan, kegiatan penyuluhan ini berhasil memberikan pemahaman baru yang dapat mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat, serta memberikan
PENERBITPENERBIT Fenomena ini disebabkan oleh perubahan pola pikir seniman yang ingin mengikuti perkembangan zaman. Idiom-idiom estetika postmodern yang ditemukan dalamFenomena ini disebabkan oleh perubahan pola pikir seniman yang ingin mengikuti perkembangan zaman. Idiom-idiom estetika postmodern yang ditemukan dalam
STKYAKOBUSSTKYAKOBUS Aspek konteks meliputi visi, misi, tujuan, manfaat, mahasiswa, dosen, dukungan sarana, tujuan pendidikan agama katolik. Aspek masukan meliputi kompetensiAspek konteks meliputi visi, misi, tujuan, manfaat, mahasiswa, dosen, dukungan sarana, tujuan pendidikan agama katolik. Aspek masukan meliputi kompetensi
DINIYAHDINIYAH Manusia diciptakan berbeda-beda, sehingga penting untuk saling menghormati dan bersikap toleran dalam kehidupan bermasyarakat, namun akidah dan ibadahManusia diciptakan berbeda-beda, sehingga penting untuk saling menghormati dan bersikap toleran dalam kehidupan bermasyarakat, namun akidah dan ibadah
STAIBREBESSTAIBREBES Islam nusantara adalah sah dari sudut pandang epistemologis. Analisis kritis terhadap Islam nusantara menghasilkan pemetaan, mengenai mana yang harus dipertahankanIslam nusantara adalah sah dari sudut pandang epistemologis. Analisis kritis terhadap Islam nusantara menghasilkan pemetaan, mengenai mana yang harus dipertahankan
Useful /
STAI ALISTAI ALI Kegiatan ini juga berhasil membuka wawasan masyarakat tentang solusi akses pendidikan, seperti pemanfaatan beasiswa dan pendidikan daring. Kendala utamaKegiatan ini juga berhasil membuka wawasan masyarakat tentang solusi akses pendidikan, seperti pemanfaatan beasiswa dan pendidikan daring. Kendala utama
STAI ALISTAI ALI Hasil ini berdampak positif pada perkembangan spiritual masyarakat setempat. Peneliti merekomendasikan agar peserta terus belajar dengan guru yang kompetenHasil ini berdampak positif pada perkembangan spiritual masyarakat setempat. Peneliti merekomendasikan agar peserta terus belajar dengan guru yang kompeten
DIGLOSIA UNMULDIGLOSIA UNMUL Teknik penyediaan data yang digunakan adalah teknik pancing, teknik, teknik cakap semuka, teknik cakap tansemuka, teknik rekam catat. Dalam analisis dataTeknik penyediaan data yang digunakan adalah teknik pancing, teknik, teknik cakap semuka, teknik cakap tansemuka, teknik rekam catat. Dalam analisis data
DIGLOSIA UNMULDIGLOSIA UNMUL Entah siapa yang memulai dan dari mana munculnya. Akan tetapi, masyarakat pengguna bahasa Indonesia telah menerima istilah-istilah tersebut sebagai warisanEntah siapa yang memulai dan dari mana munculnya. Akan tetapi, masyarakat pengguna bahasa Indonesia telah menerima istilah-istilah tersebut sebagai warisan