PNMPNM

DIKEMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat)DIKEMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat)

Kegiatan pemberdayaan petani kopi di Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan sebagai respon atas rendahnya produktivitas, lemahnya manajemen usaha, dan minimnya teknologi pascapanen pada petani kopi lokal. Mitra kegiatan terdiri dari UKM Java Lawu, 19 petani kopi, dan Karang Taruna desa. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas petani sebagai supplier kopi melalui pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), teknik sambung pucuk, manajemen hama, penggunaan mesin sortasi, dan pencatatan keuangan. Tim pelaksana menggunakan metode rancang bangun teknologi, pelatihan, dan pendampingan partisipatif berbasis komunitas. Evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan mitra pada setiap tahapan, dengan rerata peningkatan skor post-test sebesar 38-45% dibandingkan pre-test. Karang Taruna berhasil menjalankan operasional mesin sortasi dan sebagian petani mulai menggunakan pencatatan digital sederhana. Program ini menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif dan kontekstual mampu memperkuat keberdayaan petani sebagai pelaku agribisnis kopi. Kegiatan ini memberikan dasar kuat bagi pengembangan sistem pertanian berkelanjutan dan berbasis komunitas di wilayah perdesaan.

Program pemberdayaan petani kopi di Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan berhasil memberikan dampak nyata terhadap pengelolaan usaha, dan adopsi teknologi oleh mitra.Intervensi dilakukan terhadap berbagai permasalahan mulai dari rendahnya kesadaran hingga peningkatan kapasitas budidaya berkelanjutan, keterbatasan teknologi pascapanen, dan pencatatan keuangan.Pendekatan yang digunakan melalui rancang bangun teknologi, dan pelatihan, pendampingan terbukti efektif meningkatkan kompetensi mitra secara menyeluruh.Pelatihan GAP dan sambung pucuk menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan teknis petani.Hasil evaluasi menunjukkan skor rata-rata pre-test peserta sebesar 43,2 meningkat menjadi 81,6 pada post-test.Peningkatan ini berbanding lurus dengan praktik lapangan, seperti sanitasi kebun yang membaik, penurunan penggunaan pupuk kimia, dan keberhasilan sambung pucuk di atas 70%.Hal ini menjadi dasar kuat untuk peningkatan produktivitas tanaman kopi secara berkelanjutan.Pelatihan mesin sortasi kopi yang menyasar juga menunjukkan hasil memuaskan.Nilai pre-test peserta tercatat sebesar 39,7, sementara nilai post-test meningkat menjadi 82,1.Penggunaan mesin berhasil menurunkan kebutuhan tenaga kerja sortasi dari empat menjadi dua orang, serta menurunkan biaya sortasi sebesar 50%.Hal ini berkontribusi langsung terhadap konsistensi mutu dan kapasitas produksi UKM Java Lawu.Pada sisi manajerial, pelatihan pencatatan keuangan menghasilkan transformasi penting bagi petani mitra.Hasil pre-test menunjukkan nilai rata-rata 35,8 yang meningkat menjadi 79,4 pada post-test.Sebanyak 14 dari 19 petani konsisten melakukan pencatatan usaha, mulai dari pengeluaran produksi hingga perencanaan pembelian bahan.Bahkan beberapa mitra mulai menyusun rencana usaha jangka pendek berbasis data penjualan, menunjukkan penguatan kapasitas manajerial secara nyata.Program ini juga berhasil melibatkan Karang Taruna sebagai operator mesin dan pendukung serta mendorong pemanfaatan format digital (google sheets) untuk pembukuan oleh generasi muda.Pelibatan lintas generasi ini memperbesar peluang keberlanjutan program dan regenerasi pelaku usaha kopi di Desa Jabung.Secara keseluruhan, kegiatan ini mendorong pergeseran peran petani dari produsen pasif menjadi pelaku usaha agribisnis aktif yang tangguh dan adaptif terhadap inovasi.

Untuk melanjutkan program pemberdayaan petani kopi, disarankan untuk memperluas skala program ke kelompok tani kopi lainnya di wilayah Kabupaten Magetan atau daerah dengan karakteristik serupa. Program serupa sangat relevan untuk memperkuat ekosistem agribisnis kopi berbasis komunitas, terutama dalam konteks praktik pertanian berkelanjutan dan teknologi pascapanen. Pemerintah daerah dapat mengambil peran aktif dalam mendukung replikasi program melalui kebijakan dan fasilitasi kelembagaan. Pendampingan jangka panjang menjadi unsur penting yang perlu mendapat perhatian serius sebagai kelanjutan dari pelatihan dan transfer teknologi yang telah dilakukan. Tim pengabdi menilai petani mitra memerlukan waktu dan dukungan agar kebiasaan baru, seperti pencatatan usaha dan penerapan GAP, dapat terinternalisasi secara konsisten. Model pembinaan yang berkelanjutan dapat dilakukan melalui kegiatan mentoring, penyediaan konsultasi teknis, atau pelatihan lapangan tambahan berbasis kebutuhan petani. Pemerintah desa dan kelompok tani dapat berperan aktif untuk menyediakan ruang dan waktu pendampingan rutin. Kesinambungan pendampingan menjadi faktor kunci dalam menghindari kemunduran praktik dan teknologi yang telah diperkenalkan. Tim pengabdi menyarankan penguatan aspek pemasaran dan branding produk kopi Java Lawu untuk meningkatkan daya saing di pasar lokal maupun premium. Mitra usaha perlu mengembangkan identitas visual, narasi produk, serta sistem branding yang selaras dengan keunggulan lokal dan keberlanjutan. Dukungan dari Disperindag, dinas koperasi, atau pelaku bisnis dapat dimanfaatkan untuk memperluas jejaring distribusi dan promosi. Strategi pemasaran digital dan partisipasi dalam pameran UMKM menjadi langkah penting untuk mengenalkan produk ke pasar yang lebih luas. Konsistensi mutu dan narasi sosial menjadi nilai jual utama yang dapat diperkuat melalui strategi komunikasi yang tepat. Tim pengabdi menilai bahwa digitalisasi sistem manajemen usaha perlu terus dikembangkan. Generasi muda petani yang telah mulai memanfaatkan google sheets menunjukkan kesiapan dalam mengadopsi teknologi informasi. Pelatihan lanjutan terkait aplikasi pencatatan keuangan dan pengelolaan logistik berbasis digital sangat potensial untuk meningkatkan efisiensi usaha. Karang Taruna dan relawan muda desa dapat diberdayakan sebagai fasilitator literasi digital bagi anggota kelompok tani. Integrasi digital dalam usaha tani menjadi salah satu strategi untuk membangun profesionalisme dan transparansi pelaku UMKM pertanian. Kelembagaan desa memiliki peran strategis dalam menjamin keberlanjutan program ini di masa depan. Karang Taruna sebagai pengelola mesin sortasi dan teknis dapat dikembangkan menjadi unit usaha produktif. Pemerintah desa dapat berkontribusi dengan menyusun rencana pemberdayaan dalam proses pembangunan desa. Kelembagaan ekonomi desa seperti BUMDes dapat mengambil alih proses pascapanen dan distribusi agar nilai tambah tetap berada di desa. Sinergi lintas aktor ini menjadi pondasi penting dalam membangun sistem agribisnis lokal yang tangguh dan berkelanjutan.

Read online
File size336.87 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test