STIKESYAHOEDSMGSTIKESYAHOEDSMG

Jurnal SMART KebidananJurnal SMART Kebidanan

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh multi-faktorial dan bersifat antar generasi. Permasalahan stunting umumnya dihubungkan dengan asupan gizi sebelumnya yang tidak baik. Dampak jangka panjangnya, anak akan mengalami penurunan kesehatan reproduksi, kapasitas kerja dan performa yang kurang optimal saat masa sekolah, postur tubuh yang pendek saat dewasa serta mengalami penurunan produktivitas dan kapasitas kerja. Penelitian ini merupakan studi fenomenologi dengan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengetahui dan mengkaji faktor yang mempengaruhi stunting. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 7 responden, 5 ibu balita stunting sebagai informan utama, 1 orang kader dan 1 orang bidan sebagai triangulasi data. Analisis data kualitatif dideskripsikan dan dirangkum dari kata-kata dari hasil observasi atau pengamatan. Langkah-langkah analisis data kualitatif adalah mengolah dan mempersiapkan data untuk dianalisis membaca keseluruhan data, menganalisis lebih detail, membuat kategori, membuat deskripsi dan tema-tema yang diperoleh kemudian disajikan dalam narasi/laporan kualitatif. Pola pemberian makan pada balita menjadi faktor paling kuat yang mempengaruhi kejadian stunting di Desa Kincang, Rakit, Banjarnegara. Pengetahuan tentang stunting ikut mempengaruhi kejadian stunting. Sebagian besar responden memberikan makanan tidak sesuai dengan kebutuhan gizi anak. Masyarakat tidak merasa anaknya mengalami masalah pertumbuhan karena anak terlihat sehat dan aktif, belum paham bahwa anak mengalami stunting dan belum mengetahui risiko stunting di kemudian hari.

Berdasarkan hasil penelitian kualitatif tentang kejadian stunting diperoleh beberapa tema yang mempengaruhi kejadian stunting yaitu riwayat pemberian asi eksklusif, Pola pemberian makanan pada balita, Pola asuh dan pengetahuan tentang stunting.Pola pemberian makan pada balita menjadi faktor paling kuat yang mempengaruhi kejadian stunting di Desa Kincang, Rakit, Banjarnegara.

Penelitian ini menyoroti bahwa meskipun mayoritas ibu balita stunting memberikan ASI eksklusif, stunting tetap terjadi, mengindikasikan perlunya eksplorasi lebih lanjut. Studi lanjutan dapat menganalisis kualitas ASI dan status gizi ibu menyusui, serta mengevaluasi detail praktik pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) setelah periode eksklusif, untuk mengidentifikasi ketidaksesuaian gizi. Mengingat pola pemberian makan yang tidak tepat dan kurangnya pengetahuan ibu tentang stunting adalah faktor dominan, riset ke depan dapat merancang serta menguji efektivitas intervensi pendidikan gizi yang praktis dan peka budaya. Intervensi ini harus meliputi demonstrasi masak bahan lokal ekonomis dan strategi mengubah kebiasaan jajan balita, dengan mempertimbangkan norma masyarakat agar program lebih relevan dan diterima. Untuk pemahaman yang lebih komprehensif, disarankan melakukan studi kuantitatif atau mixed methods guna mengkuantifikasi hubungan antara faktor sosio-ekonomi keluarga (pendapatan, jaminan pangan) serta kondisi sanitasi dan akses air bersih dengan prevalensi stunting. Data yang dihasilkan akan sangat krusial dalam merumuskan kebijakan publik yang holistik dan berkelanjutan untuk menanggulangi stunting.

  1. Analisis Permasalahan Status Gizi Kurang pada Balita di Puskesmas Teupah Selatan Kabupaten Simeuleu |... doi.org/10.33085/jkg.v1i3.3952Analisis Permasalahan Status Gizi Kurang pada Balita di Puskesmas Teupah Selatan Kabupaten Simeuleu doi 10 33085 jkg v1i3 3952
  2. POLA ASUH IBU DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KELURAHAN... journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/prepotif/article/view/1630POLA ASUH IBU DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 24 59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KELURAHAN journal universitaspahlawan ac index php prepotif article view 1630
Read online
File size95.87 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test