ITKAITKA

SAINTEKES: Jurnal Sains, Teknologi Dan KesehatanSAINTEKES: Jurnal Sains, Teknologi Dan Kesehatan

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit yang ditandai dengan hambatan aliran udara di saluran napas yang tidak sepenuhnya reversible. Hambatan aliran udara yang terjadi bersifat progresif berhubungan dengan respon inflamasi paru terhadap partikel atau gas yang beracun atau berbahaya. Emfisema dan bronkitis Kronis sering disebabkan kebiasaan merokok dimasukkan dalam kelompok PPOK. Berdasarkan data Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Makassar, jumlah penderita PPOK selama tiga tahun terakhir mengalami penurunan. Pada tahun 2019 pasien PPOK berjumlah 521 pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kebiasaan merokok dengan kejadian PPOK. Penelitian ini menggunakan destriptif dengan 38 sampel dari 129 populasi yang terdiagnosa PPOK Di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Makassar. dimana gambaran kebiasaan merokok dengan kejadian PPOK setiap subjek/sampel penelitian diobservasi sekali saja. Hasil penelitian menunjukan dari 38 responden PPOK, sebanyak 20 orang (52,6%) memiliki kebiasaan merokok berat, dan memiliki kebiasan merokok sedang 18 orang (47,4%). Simpulan dari penelitian terdapat gambaran tentang kebiasaan merokok dengan kejadian PPOK di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat. Disarankan kepada semua orang segera menghentikan kebiasaan merokok agar terhindar dari PPOK serta tenaga kesehatan diharapkan lebih meningkatkan penyuluhan tentang bahaya merokok.

Penelitian ini menggambarkan bahwa sebagian besar penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Makassar memiliki kebiasaan merokok, dengan mayoritas termasuk dalam kategori perokok berat.Secara spesifik, dari 38 responden PPOK, 52,6% adalah perokok berat dan 47,4% adalah perokok sedang, menunjukkan hubungan kuat antara kebiasaan merokok dan kejadian PPOK.Oleh karena itu, disimpulkan pentingnya menghentikan kebiasaan merokok untuk pencegahan PPOK, serta perlunya peningkatan edukasi oleh tenaga kesehatan mengenai bahaya merokok.

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif, penelitian di masa depan sebaiknya tidak hanya menggambarkan kejadian PPOK pada perokok, tetapi juga menyelidiki secara analitis seberapa kuat korelasi antara intensitas dan durasi kebiasaan merokok dengan tingkat keparahan serta perkembangan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Hal ini dapat dilakukan melalui studi kasus-kontrol atau kohort yang membandingkan kelompok perokok dengan non-perokok untuk mengidentifikasi faktor risiko yang paling dominan, serta melihat apakah ada perbedaan respons paru berdasarkan usia saat mulai merokok atau jenis produk tembakau yang digunakan. Lebih jauh lagi, mengingat variasi kebiasaan merokok, studi dapat mengkaji secara spesifik dampak dari jenis-jenis kebiasaan merokok yang berbeda, seperti penggunaan rokok konvensional versus rokok elektronik, durasi merokok, dan jumlah batang rokok per hari, terhadap risiko dan progresivitas PPOK. Ini akan memberikan data yang lebih rinci untuk strategi pencegahan yang ditargetkan. Tidak kalah penting, penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi interaksi antara kebiasaan merokok dengan faktor risiko lingkungan lainnya yang disebutkan, seperti polusi udara atau paparan zat berbahaya di tempat kerja, untuk memahami bagaimana kombinasi faktor-faktor ini secara sinergis memengaruhi kejadian PPOK di komunitas seperti Makassar. Penemuan ini akan sangat berharga untuk mengembangkan program intervensi kesehatan masyarakat yang lebih holistik, tidak hanya berfokus pada merokok tetapi juga pada kualitas lingkungan hidup.

Read online
File size234.42 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test