AKBAKB

Journal of Innovation Food and Animal Science (JIFAS)Journal of Innovation Food and Animal Science (JIFAS)

Sumatera Selatan merupakan provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia. Namun, banyak produk kopi bubuk yang beredar di pasaran belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) atau memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis (IG). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kimia kopi bubuk dari Sumatera Selatan yang memenuhi standar SNI, memiliki sertifikasi IG, dan yang tidak bersertifikat. Tiga parameter kimia yang diperiksa adalah kadar air, kadar abu, dan kadar kafein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar abu dan kafein dari keenam sampel kopi bubuk memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh SNI. Namun, kadar air semua sampel melebihi batas maksimum yang ditetapkan dalam SNI untuk kopi bubuk, berkisar antara 7,38% hingga 9,10%. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun dua parameter memenuhi standar kualitas, perbaikan dalam praktik pengolahan atau penyimpanan masih diperlukan untuk mengurangi kadar air dan memastikan kualitas serta umur simpan kopi bubuk.

Analisis terhadap enam sampel kopi bubuk dari Sumatera Selatan menunjukkan bahwa semua sampel memiliki kadar air yang melebihi batas maksimum Standar Nasional Indonesia (SNI), yaitu berkisar antara 7,38% hingga 9,10%.Sebaliknya, kadar abu dan kafein semua sampel berada dalam rentang yang dapat diterima sesuai SNI, dengan nilai masing-masing berkisar 4,28% hingga 4,81% dan 1,24% hingga 1,91%.Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun parameter abu dan kafein memenuhi standar kualitas, perhatian lebih besar harus diberikan pada pengendalian kadar air untuk meningkatkan kualitas dan stabilitas produk.

Melihat temuan kadar air kopi bubuk di Sumatera Selatan yang masih tinggi melebihi standar, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang bisa dilakukan. Pertama, bagaimana jika kita meneliti lebih dalam profil sangrai yang optimal? Misalnya, apakah ada kombinasi suhu dan waktu sangrai tertentu yang bisa secara efektif menurunkan kadar air hingga batas SNI tanpa merusak cita rasa khas kopi Sumatera Selatan, dan bagaimana metode pendinginan setelah sangrai memengaruhi retensi kelembaban? Kedua, mengingat peran penting kemasan dan penyimpanan, studi tentang efektivitas teknologi kemasan dan kondisi penyimpanan inovatif akan sangat berguna. Penelitian bisa fokus pada jenis material kemasan yang lebih baik dalam menjaga kadar air serta sistem penyimpanan yang terkontrol kelembaban, dan menguji mana yang paling efisien dan terjangkau bagi produsen lokal. Ketiga, perlu juga ditelusuri lebih lanjut pengaruh praktik pascapanen di tingkat petani. Pertanyaan yang muncul adalah, praktik pengeringan dan penanganan awal seperti apa di tingkat petani yang paling signifikan berkontribusi terhadap kadar air akhir kopi bubuk, dan intervensi pelatihan atau teknologi apa yang paling efektif untuk memastikan produk mentah sudah memenuhi standar kelembaban sebelum masuk ke tahap pengolahan selanjutnya? Penelitian ini tidak hanya akan membantu produsen memenuhi standar, tetapi juga meningkatkan kualitas dan daya saing kopi bubuk Sumatera Selatan di pasar.

  1. Fatty Acid Composition, Antinutritional Factors, and Oligosaccharides Concentration of Hawaijar (An Ethnic... journal.ugm.ac.id/ifnp/article/view/58664Fatty Acid Composition Antinutritional Factors and Oligosaccharides Concentration of Hawaijar An Ethnic journal ugm ac ifnp article view 58664
  2. CHEMICAL PROFILE OF GROUND COFFEES IN SOUTH SUMATERA | Journal of Innovation Food and Animal Science... journal.akb.ac.id/index.php/jifas/article/view/365CHEMICAL PROFILE OF GROUND COFFEES IN SOUTH SUMATERA Journal of Innovation Food and Animal Science journal akb ac index php jifas article view 365
Read online
File size234.93 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test