GOLDENRATIOGOLDENRATIO

Golden Ratio of Marketing and Applied Psychology of BusinessGolden Ratio of Marketing and Applied Psychology of Business

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi dan tantangan manajemen risiko dalam pemasaran ekspor kepiting kaleng (Portunus pelagicus) di PT MAP di Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui survei, observasi langsung, dan wawancara dengan pihak-pihak terkait di perusahaan. Hasil penelitian mengidentifikasi empat risiko utama dalam ekspor kepiting kaleng: (1) penundaan ekspor akibat tidak sesuai dengan standar FDA atau SNI, (2) fluktuasi ketersediaan bahan baku, (3) risiko murni seperti ketidakstabilan suhu di dalam kontainer dan bencana alam, serta (4) risiko pembayaran termasuk default dan fluktuasi mata uang. Untuk mengurangi risiko-risiko tersebut, PT MAP menerapkan strategi seperti standar kualitas yang ketat (ISO 22000), diversifikasi pemasok, teknologi pemantauan real-time (IoT), dan instrumen keuangan seperti Surat Kredit Berdokumen (L/C) dan asuransi kredit ekspor. Temuan ini menekankan pentingnya manajemen risiko yang proaktif dan adaptif dalam menanggapi dinamika pasar global dan memberikan rekomendasi bagi industri perikanan untuk meningkatkan daya saing melalui sertifikasi internasional dan kolaborasi multidisiplin.

Dari penelitian tentang Breaking into the Global Market.Strategies and Challenges of Export Risk Management for Canned Blue Swimming Crab (Portunus pelagicus) at PT MAP Central Java, diperoleh kesimpulan sebagai berikut.Temuan Risiko Ekspor. Penelitian ini mengungkapkan empat risiko dominan yang dihadapi oleh PT MAP dalam ekspor kepiting kaleng.Penundaan Ekspor. Risiko ini terutama disebabkan oleh ketidakcocokan produk dengan standar keamanan pangan internasional (FDA) atau nasional (SNI).Misalnya, inspeksi pembeli dapat menemukan perbedaan spesifikasi produk, yang memaksa perusahaan untuk mengulang proses produksi, yang memakan waktu dan biaya.Studi kasus menunjukkan bahwa penundaan ini mengganggu jadwal pengiriman dan merusak reputasi perusahaan di mata mitra dagang internasional.Instabilitas Pasokan Bahan Baku. Fluktuasi ketersediaan kepiting segar sebagai bahan baku telah menjadi hambatan operasional yang signifikan.Faktor musiman, perubahan iklim, dan ketergantungan pada pemasok lokal memperburuk ketidakpastian ini.Akibatnya, PT MAP sering mengalami penundaan produksi, yang berdampak pada kemampuan mereka untuk memenuhi pesanan pembelian (PO) tepat waktu.Risiko Murni. Termasuk di dalamnya adalah ketidakstabilan suhu kontainer selama pengiriman, yang dapat merusak kualitas produk (misalnya perubahan tekstur atau rasa).Juga, bencana alam atau gejolak geopolitik (seperti konflik di sepanjang rute pengiriman) yang mengganggu distribusi.Risiko ini tidak dapat dikendalikan dan berdampak signifikan pada keuangan perusahaan, terutama jika berujung pada penolakan produk di pasar target.Risiko Pembayaran. Transaksi ekspor rentan terhadap default akibat fluktuasi kurs mata uang, krisis ekonomi di negara tujuan, atau penipuan mitra dagang.PT MAP pernah menghadapi risiko ini ketika salah satu pembeli di zona konflik mengalami kesulitan likuiditas.Strategi Mitigasi yang Diterapkan oleh PT MAP. Untuk mengatasi risiko-risiko di atas, PT MAP mengadopsi pendekatan multidimensi.Penerapan Standar Kualitas yang Ketat. Perusahaan menggunakan sistem HACCP, ISO 22000, dan SSOP (Sanitation Standard Operating Procedures) untuk memastikan produk memenuhi persyaratan FDA dan SNI.Contoh konkret termasuk uji mikrobiologi (misalnya mendeteksi E.coli dan Salmonella) dan memantau suhu kontainer dengan thermo recorder.Diversifikasi Pemasok Bahan Baku. PT MAP tidak bergantung pada satu pemasok saja.Perusahaan berkolaborasi dengan beberapa pemasok di berbagai wilayah untuk meminimalkan gangguan pasokan.Strategi ini didukung oleh penelitian sebelumnya, Ersahin et al.(2024), yang membuktikan bahwa diversifikasi pemasok meningkatkan ketahanan rantai pasok.Teknologi Pemantauan Real-Time. Kontainer cerdas dengan sensor IoT memungkinkan pelacakan suhu dan kelembaban selama pengiriman.Jika terjadi penyimpangan, tim logistik dapat segera mengambil tindakan korektif.Instrumen Keuangan untuk Mengamankan Pembayaran. PT MAP memanfaatkan Surat Kredit Berdokumen (L/C) dan asuransi kredit ekspor untuk mengurangi risiko default.L/C menjamin pembayaran melalui bank, sedangkan asuransi melindungi perusahaan dari kerugian akibat force majeure (seperti perang atau bencana).Studi ini menekankan bahwa sertifikasi internasional (seperti HACCP) bukan hanya formalitas, tetapi keunggulan kompetitif yang mengurangi risiko penolakan produk.Selain itu, kolaborasi dengan institusi seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) diperlukan untuk mengatasi tantangan bahan baku dan logistik.Penelitian ini memperkaya literatur dengan bukti empiris bahwa pendekatan proaktif (seperti diversifikasi pemasok dan teknologi IoT) lebih efektif daripada respons reaktif.Temuan ini sejalan dengan studi Tran (2018) tentang rantai pasok seafood di Vietnam.Untuk Kebijakan Pemerintah, diperlukan insentif bagi UMKM perikanan untuk mengadopsi teknologi pemantauan kualitas dan asuransi ekspor, mengingat kontribusi sektor ini terhadap devisa dan lapangan kerja (KKP, 2025).Meskipun memberikan wawasan berharga, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan.Analisis hanya fokus pada satu perusahaan (PT MAP), sehingga temuan mungkin tidak berlaku untuk eksportir lain dengan skala atau pasar yang berbeda.misalnya, risiko reputasi akibat penolakan produk atau dampak perubahan iklim terhadap stok kepiting.Berdasarkan itu, studi kami memberikan petunjuk untuk penelitian masa depan.Studi kuantitatif untuk mengukur efektivitas strategi mitigasi (misalnya seberapa banyak IoT mengurangi kerusakan produk).Eksplorasi Kebijakan Hijau, seperti sertifikasi MSC (Marine Stewardship Council), untuk memenuhi tuntutan keberlanjutan di pasar global.Kolaborasi Multidisiplin, seperti dengan ahli klimatologi, untuk memprediksi dampak perubahan iklim.

Berdasarkan analisis yang dilakukan, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan yang dapat dipertimbangkan:. . 1. Mengembangkan model manajemen risiko yang terintegrasi dengan analisis big data untuk memprediksi gangguan rantai pasok, seperti penggunaan AI untuk memantau fluktuasi harga bahan baku.. . 2. Menjelajahi dampak perubahan iklim terhadap stok kepiting, mengingat studi FAO (2018) yang memprediksi penurunan stok akibat pemanasan global.. . 3. Kolaborasi dengan institusi internasional seperti Bank Dunia untuk mitigasi risiko politik, mengingat kontribusi sektor perikanan terhadap devisa dan lapangan kerja.

  1. [1810.13332] Improving risk management by using smart containers for real-time traceability. improving... arxiv.org/abs/1810.133321810 13332 Improving risk management by using smart containers for real time traceability improving arxiv abs 1810 13332
  2. [1810.09203] Traceability Decentralization in Supply Chain Management Using Blockchain Technologies.... doi.org/10.48550/arXiv.1810.092031810 09203 Traceability Decentralization in Supply Chain Management Using Blockchain Technologies doi 10 48550 arXiv 1810 09203
  3. The State of World Fisheries and Aquaculture 2020. state world fisheries aquaculture action epub mobi... openknowledge.fao.org/handle/20.500.14283/ca9229enThe State of World Fisheries and Aquaculture 2020 state world fisheries aquaculture action epub mobi openknowledge fao handle 20 500 14283 ca9229en
  4. Beyond Methods: Theoretical Underpinnings of Triangulation.... beyond methods theoretical personal library... doi.org/10.2478/seeur-2023-0088Beyond Methods Theoretical Underpinnings of Triangulation beyond methods theoretical personal library doi 10 2478 seeur 2023 0088
Read online
File size353.47 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test