IPBIPB

Journal of Tropical SilvicultureJournal of Tropical Silviculture

Kebakaran hutan merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang sering terjadi dan dianggap penting sehingga menjadi perhatian lokal maupun global. Kebakaran hutan dan lahan merupakan suatu kejadian yang sering terjadi di wilayah Indonesia, khususnya di Pulau Kalimantan. Iklim merupakan salah satu faktor alami yang dapat mendukung terjadinya kebakaran hutan, karena kondisi iklim dapat mempengaruhi tingkat kekeringan bahan bakar permukaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara hotspot dengan curah hujan terhadap terjadinya kebakaran hutan di Pulang Pisau Kalimantan Tengah pada periode 2017-2021. Data yang digunakan pada penelitian ini berupa hotspot dengan menggunakan satelit Terra/Aqua-MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer), data wilayah administrasi, serta data curah hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan tertinggi pada bulan Maret sebesar 393 mm/bulan dan terendah pada bulan September yaitu 70 mm/bulan. Tinggi dan rendahnya curah hujan dapat mengindikasikan adanya titik panas (hotspot) yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Jumlah titik panas (hotspot) di Pulang Pisau tertinggi selama periode 2017-2021 terjadi pada tahun 2019 sebanyak 3.424 titik dan terendah pada tahun 2020 dengan jumlah titik panas (hotspot) sebanyak 2 titik. Hal tersebut mengindikasikan peningkatan dan penurunan curah hujan berkaitan dengan banyaknya jumlah titik panas (hotspot).

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Pulang Pisau dipengaruhi oleh beberapa faktor yang salah satunya yaitu faktor iklim seperti curah hujan.Jumlah curah hujan di Pulang Pisau pada periode 2017-2021 bersifat fluktuatif setiap tahunnya dengan curah hujan tertinggi pada bulan Maret sebesar 393 mm/bulan dan terendah pada bulan September yaitu 70 mm/bulan.Tinggi dan rendahnya curah hujan dapat mengindikasikan adanya titik panas (hotspot) yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan.Jumlah titik panas (hotspot) di Pulang Pisau tertinggi selama periode 2017-2021 terjadi pada tahun 2019 sebanyak 3.424 titik dan terendah pada tahun 2020 dengan jumlah titik panas (hotspot) sebanyak 2 titik.Hal tersebut mengindikasikan peningkatan dan penurunan curah hujan berkaitan dengan banyaknya jumlah titik panas (hotspot).Hasil korelasi menunjukkan hubungan yang terbalik antara jumlah curah hujan dengan jumlah titik panas (hotspot) yang diidentifikasikan oleh adanya korelasi negatif antara variabel.Hal tersebut menjelaskan bahwa semakin tinggi curah hujan di suatu wilayah maka semakin rendah jumlah titik panas (hotspot) dan sebaliknya semakin rendah curah hujan akan menyebabkan semakin tinggi jumlah titik panas (hotspot).Rata-rata jumlah titik panas (hotspot) tertinggi selama periode 2017-2021 di Pulang Pisau terjadi pada bulan September yang merupakan bulan yang memiliki jumlah curah hujan terendah (puncak musim kemarau) di Pulang Pisau selama periode 2017-2021.

Berdasarkan hasil penelitian ini, kami menyarankan beberapa hal untuk penelitian lanjutan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan penambahan parameter-parameter lain seperti suhu, kelembaban, dan kecepatan angin untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap kebakaran hutan dan lahan. Kedua, penelitian lebih lanjut juga dapat dilakukan pada daerah-daerah yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan yang tinggi, seperti di Pulau Sumatera dan Kalimantan, untuk memahami pola dan penyebab kebakaran di wilayah tersebut. Ketiga, penelitian dapat difokuskan pada analisis spasial dan temporal kebakaran hutan dan lahan, termasuk identifikasi daerah rawan kebakaran dan pengembangan strategi pencegahan dan mitigasi yang efektif.

Read online
File size185.09 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test