IAINIAIN
Journal Of Biology EducationJournal Of Biology EducationKelapa (Cocos nucifera L.) memainkan peran vital dalam ekosistem pesisir dan ekonomi lokal, tetapi keragaman populasinya mungkin dibentuk oleh praktik budidaya historis. Studi ini mengevaluasi variasi fenotip batang dan implikasinya untuk genetika populasi kelapa di Pesisir Barat, Lampung. Sebanyak 92 pohon kelapa diambil menggunakan sampling purposif berstrata di situs pesisir yang mewakili. Tiga sifat morfometrik batang diukur mengikuti deskriptor IPGRI (1995), yaitu lingkar batang pada 1,5 meter di atas permukaan tanah (CS), lingkar batang pada 20 cm di atas dasar (CB), dan tinggi internode ke-11 dari permukaan tanah (HS). Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, koefisien variasi (CV), dan Analisis Komponen Utama (PCA). Hasil menunjukkan variasi fenotipik yang relatif terbatas, dengan CS menunjukkan variabilitas terendah (CV 9,87%), sedangkan CB dan HS menunjukkan variabilitas moderat (CV 15,35% dan 16,75%, masing-masing). PCA mengungkapkan pengelompokan individu yang dekat, dengan komponen utama pertama dan kedua menjelaskan 91,0% dari variasi fenotipik total, menunjukkan diferensiasi fenotipik terbatas dalam populasi. Homogenitas fenotipik yang diamati mungkin sebagian mencerminkan warisan sejarah program PRPTE, yang mendistribusikan bahan tanam yang relatif seragam selama 1982-1984. Meskipun inferensi mengenai keragaman genetik tetap awal, temuan ini menunjukkan diferensiasi populasi tingkat populasi yang terbatas dan menekankan pentingnya mengintegrasikan pendekatan morfometrik dan molekuler untuk mendukung manajemen germplasm, strategi pemuliaan, dan keberlanjutan jangka panjang C. nucifera di ekosistem pesisir.
nucifera di Pesisir Barat memiliki variasi fenotipik yang relatif terbatas dalam sifat morfometrik batang, dengan kecenderungan umum menuju homogenitas fenotipik yang didukung oleh koefisien variasi rendah hingga moderat dan pengelompokan yang dekat dalam ordinasi PCA.Studi ini memberikan dasar morfometrik pertama untuk mengevaluasi struktur fenotipik populasi kelapa yang berasal dari program PRPTE di Pesisir Barat dan menawarkan dasar untuk penilaian molekuler masa depan dan program manajemen germplasm.Meskipun interpretasi ini tetap awal karena didasarkan pada bukti fenotipik daripada molekuler, temuan ini memberikan informasi dasar untuk manajemen germplasm dan menunjukkan kebutuhan untuk studi molekuler untuk memverifikasi struktur genetik dan mendukung ketahanan dan keberlanjutan jangka panjang budidaya kelapa di ekosistem pesisir.
Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk mengintegrasikan pendekatan morfometrik dengan analisis molekuler untuk mengevaluasi struktur genetik populasi secara lebih menyeluruh. Studi ini dapat dikembangkan dengan menganalisis keragaman genetik menggunakan penanda DNA, parameter genetika populasi, atau alat genomik untuk mengonfirmasi apakah pola fenotipik yang diamati sesuai dengan keseragaman genetik yang mendasarinya atau apakah variasi genetik tersembunyi tetap tidak terdeteksi oleh morfologi saja. Integrasi ini akan memberikan dasar yang lebih kuat untuk strategi manajemen germplasm yang dirancang untuk menyeimbangkan produktivitas perkebunan, ketahanan genetik, dan keberlanjutan jangka panjang budidaya C. nucifera di Pesisir Barat. Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi dampak lingkungan pada variasi fenotipik dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada divergensi fenotipik dalam populasi. Studi ini juga dapat diperluas dengan menganalisis keragaman genetik dan fenotipik di berbagai lokasi dan kondisi lingkungan untuk memahami bagaimana faktor-faktor ekologis mempengaruhi struktur populasi dan potensi adaptasi. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang keragaman genetik dan fenotipik populasi C. nucifera di Pesisir Barat dan mendukung upaya konservasi dan pemuliaan untuk meningkatkan ketahanan dan produktivitas budidaya kelapa di ekosistem pesisir.
- Genetic and morphological diversity of various corn lines for the determination of waxy corn (Zea mays... smujo.id/biodiv/article/view/15651Genetic and morphological diversity of various corn lines for the determination of waxy corn Zea mays smujo biodiv article view 15651
- hort. hort need enable javascript run app doi.org/10.21273/HORTSCI15887-21hort hort need enable javascript run app doi 10 21273 HORTSCI15887 21
| File size | 903.23 KB |
| Pages | 18 |
| DMCA | Report |
Related /
UNRAMUNRAM Namun, pemanenan madu lebah hutan (Apis dorsata) yang dilakukan secara tradisional seringkali tidak memperhatikan prinsip keberlanjutan ekologis, yangNamun, pemanenan madu lebah hutan (Apis dorsata) yang dilakukan secara tradisional seringkali tidak memperhatikan prinsip keberlanjutan ekologis, yang
IAINIAIN Rata‑rata skor post‑test untuk hasil belajar kognitif pada kelas eksperimen sebesar 83,44, lebih tinggi dibandingkan 70,74 pada kelas kontrol. NilaiRata‑rata skor post‑test untuk hasil belajar kognitif pada kelas eksperimen sebesar 83,44, lebih tinggi dibandingkan 70,74 pada kelas kontrol. Nilai
IAIHPANCORIAIHPANCOR Dalam konteks budaya, hewan peliharaan seperti Ayam Tembaga sering kali memiliki nilai spiritual atau simbolik dalam masyarakat tradisional Indonesia.Dalam konteks budaya, hewan peliharaan seperti Ayam Tembaga sering kali memiliki nilai spiritual atau simbolik dalam masyarakat tradisional Indonesia.
UNRAMUNRAM Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik anatomi vegetatif Scleria melaleuca yang dikumpulkan di Hutan Kemasyarakatan Pusuk Lestari, LombokPenelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik anatomi vegetatif Scleria melaleuca yang dikumpulkan di Hutan Kemasyarakatan Pusuk Lestari, Lombok
IAINIAIN platyurus. Dari pewarnaan Hematoxylin-eosin (HE) menunjukkan perkembangan regenerasi sel dari Hari 1 pada kadal yang disebut sampel awal, hasil ekor ke-15platyurus. Dari pewarnaan Hematoxylin-eosin (HE) menunjukkan perkembangan regenerasi sel dari Hari 1 pada kadal yang disebut sampel awal, hasil ekor ke-15
IAINIAIN nigrinus. Dampak dari penelitian ini adalah untuk menentukan kondisi lingkungan berdasarkan kumbang dominan. Penelitian ini dapat digunakan untuk memonitornigrinus. Dampak dari penelitian ini adalah untuk menentukan kondisi lingkungan berdasarkan kumbang dominan. Penelitian ini dapat digunakan untuk memonitor
IAINIAIN indica dengan dosis 0,25 mg/grBB, T2 dengan dosis 0,5 mg/grBB, dan T3 dengan dosis 1 mg/grBB. Analisis data menggunakan ANOVA serta uji post‑hocindica dengan dosis 0,25 mg/grBB, T2 dengan dosis 0,5 mg/grBB, dan T3 dengan dosis 1 mg/grBB. Analisis data menggunakan ANOVA serta uji post‑hoc
IAINIAIN Hasil uji menunjukkan bahwa tcount > ttable (5,517 > 1,668). Hasil uji menunjukkan bahwa 5,517 > 1,668, tcount > ttable. Sebagai akibatnya, pada tingkatHasil uji menunjukkan bahwa tcount > ttable (5,517 > 1,668). Hasil uji menunjukkan bahwa 5,517 > 1,668, tcount > ttable. Sebagai akibatnya, pada tingkat
Useful /
IAINIAIN Hasil menunjukkan bahwa aplikasi E-LAAS layak untuk digunakan di kelas, dengan respons yang sangat positif 87,5% dari guru dan 92% dari siswa. Kelas eksperimenHasil menunjukkan bahwa aplikasi E-LAAS layak untuk digunakan di kelas, dengan respons yang sangat positif 87,5% dari guru dan 92% dari siswa. Kelas eksperimen
UNBARIUNBARI Pandemi memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat, termasuk penurunan pendapatan, hilangnya pekerjaan, dan perubahan gaya hidup. KondisiPandemi memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat, termasuk penurunan pendapatan, hilangnya pekerjaan, dan perubahan gaya hidup. Kondisi
UNBARIUNBARI Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai t variabel pelatihan (X) terhadap kinerja guru (Y) sebesar 2,752 dengan signifikansi 0,008, yang berarti nilaiHasil penelitian menunjukkan bahwa nilai t variabel pelatihan (X) terhadap kinerja guru (Y) sebesar 2,752 dengan signifikansi 0,008, yang berarti nilai
ALJAMIAHALJAMIAH Pengarang menyatakan bahwa pembicaraan mengenai riba selama ini terlalu menekankan pada aspek hukumnya dan kurang menekankan aspek moralnya. Oleh karenaPengarang menyatakan bahwa pembicaraan mengenai riba selama ini terlalu menekankan pada aspek hukumnya dan kurang menekankan aspek moralnya. Oleh karena