IAINIAIN

Journal Of Biology EducationJournal Of Biology Education

Helminthiasis atau infeksi cacing disebabkan oleh parasit cacing yang termasuk kelompok Soil Transmitted Helminths (STH). Infeksi cacing pada manusia sering terjadi karena faktor lingkungan dan masalah kebersihan pribadi. Diagnosis standar emas untuk helminthiasis dilakukan dengan mengidentifikasi telur cacing dalam tinja atau feses. Berdasarkan cara penularannya, pemeriksaan helminthiasis dapat dilakukan dengan mengamati kuku. Studi ini menganalisis prevalensi helminthiasis pada kuku dan feses serta memeriksa perbedaan hasil pemeriksaan telur cacing antara kuku dan feses. Teknik simple random sampling dilakukan untuk memilih 50 pemulung di TPA Jatibarang, Semarang. Analisis univariate digunakan sebagai alat analisis data untuk menentukan prevalensi infeksi cacing, sedangkan analisis bivariat dalam bentuk uji Mann Whitney digunakan untuk menentukan perbedaan jumlah telur cacing Soil Transmitted Helminth (STH) pada sampel kuku dan feses. Telur cacing Ascaris lumbricoides mendominasi infeksi, dengan tingkat infeksi melalui kuku sebesar 2% dan feses sebesar 12%. p = 0.049 (<0.05) diperoleh dalam uji Mann Whitney, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dan menunjukkan bahwa uji kuku tidak dapat menggantikan uji feses sebagai standar emas diagnosis helminthiasis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies Ascaris lumbricoides mendominasi helminthiasis yang ditemukan di antara pemulung di TPA Jatibarang.Penelitian ini juga menemukan bahwa diagnosis helminthiasis pada sampel kuku dari infeksi spesies Ascaris lumbricoides adalah 2% dan 12% pada spesimen feses dengan 10% spesies cacing Ascaris lumbricoides dan 2% Trichuris trichiura.Helminthiasis lebih umum terjadi pada responden laki-laki sebesar 10%, dan mereka yang berusia 44-65 tahun lebih rentan.Telur cacing juga ditemukan pada 12% responden yang sering memakai alas kaki, tidak memakai sarung tangan, mencuci tangan setelah buang air besar, buang air besar di toilet, dan memotong kuku secara teratur.Sedangkan mereka yang tidak memotong kuku setiap dua minggu lebih rentan terhadap helminthiasis sebesar 10%.Ditemukan perbedaan yang signifikan dalam pemeriksaan telur cacing Soil Transmitted Helminths (STH) antara uji kuku dan uji feses.

Berdasarkan hasil penelitian ini, kami menyarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan dan kebersihan pribadi yang mempengaruhi prevalensi helminthiasis di antara pemulung. Selain itu, penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan metode diagnosis yang lebih efektif dan akurat untuk helminthiasis, terutama dalam konteks pemeriksaan kuku dan feses. Penelitian ini juga dapat dieksplorasi lebih lanjut untuk menentukan faktor-faktor risiko spesifik yang berkontribusi terhadap infeksi cacing di antara pemulung, seperti kebiasaan kebersihan pribadi dan penggunaan peralatan pelindung diri yang tidak memadai. Dengan memahami faktor-faktor ini, intervensi pencegahan yang lebih efektif dapat dikembangkan untuk mengurangi prevalensi helminthiasis di antara pemulung dan kelompok rentan lainnya.

Read online
File size288.89 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test