UNHJAMBIUNHJAMBI

Journal of CommunicationJournal of Communication

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi interpersonal yang diterapkan oleh fasilitator pendamping dalam Program Bestee PT Bank BTPN Syariah Telanaipura. Program Bestee merupakan inisiatif pemberdayaan nasabah prasejahtera produktif untuk mengembangkan kapasitas usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi. Dalam konteks tersebut, fasilitator pendamping memiliki peran penting dalam membangun hubungan komunikasi yang efektif dengan nasabah agar proses pendampingan berjalan optimal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data informan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi.

Penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi interpersonal fasilitator dalam Program Bestee PT Bank BTPN Syariah Telanaipura sangat penting untuk membangun hubungan partisipatif dan berbasis kepercayaan, dengan penerapan dimensi keterbukaan, empati, sikap positif, dukungan, dan kesetaraan yang menyesuaikan kondisi sosial serta psikologis nasabah.Selain meningkatkan keterlibatan dan rasa percaya diri nasabah, kualitas hubungan interpersonal juga menjadi faktor kunci keberhasilan program pemberdayaan berbasis keuangan syariah, meskipun masih terdapat hambatan seperti rendahnya rasa percaya diri nasabah dan terbatasnya intensitas pendampingan.Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas komunikasi fasilitator melalui pendekatan empatik, partisipatif, dan sensitif terhadap kondisi sosial masyarakat untuk mendukung efektivitas program.

Penelitian lanjutan dapat menyelidiki bagaimana penggunaan platform digital, seperti aplikasi mobile, dapat meningkatkan intensitas dan kualitas interaksi komunikasi interpersonal antara fasilitator dan nasabah dalam Program Bestee, dengan menguji persepsi, partisipasi, dan hasil usaha nasabah secara longitudinal. Selain itu, studi komparatif antara wilayah dengan karakteristik budaya berbeda dapat mengidentifikasi pengaruh nilai lokal terhadap efektivitas strategi komunikasi, sehingga menghasilkan model adaptif yang lebih kontekstual. Selanjutnya, penelitian kuantitatif dapat menguji hubungan antara dimensi komunikasi interpersonal (keterbukaan, empati, sikap positif, dukungan, kesetaraan) dengan tingkat keberhasilan usaha nasabah, menggunakan sampel yang lebih luas untuk memperkuat temuan kualitatif. Penelitian selanjutnya juga dapat mengevaluasi program pelatihan kapasitas komunikasi bagi fasilitator, dengan mengukur perubahan kompetensi dan dampaknya terhadap kepuasan serta kepercayaan nasabah. Akhirnya, eksplorasi faktor psikologis yang mempengaruhi rasa percaya diri nasabah, seperti kecemasan sosial dan motivasi intrinsik, dapat memberikan wawasan untuk merancang intervensi pendampingan yang lebih holistik dan berkelanjutan.

Read online
File size214.5 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test