DESAIN INDONESIADESAIN INDONESIA

Jurnal Desain Indonesia.Jurnal Desain Indonesia.

Kayu secang mengandung zat yang memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh. Masyarakat telah memanfaatkan kayu secang dalam berbagai bentuk, seperti bubuk dan serutan. Selain itu, ditemukan produk secang yang berbentuk balok dan gelondongan. Jika produk berbentuk balok atau gelondongan, maka orang dapat mengenali beberapa karakteristik dari sebuah kayu, seperti warna, tekstur, kekerasan dan berat. Hal ini akan lebih sulit untuk dilakukan jika produk berbentuk serbuk atau serutan. Kelebihan tersebut dapat dimanfaatkan dalam bentuk-bentuk yang memiliki tujuan tertentu, seperti fungsi pakai dan fungsi dekorasi. Fungsi pakai dapat dilakukan dengan cara merendam kayu secang menggunakan air, pada suhu dan waktu tertentu. Proses tersebut akan menghasilkan larutan dengan kadar kandungan tertentu yang dapat diukur berdasarkan nilai absorbansinya. Fungsi dekorasi dapat dilakukan dengan cara membentuk kayu secang menggunakan prinsip pahat, yaitu mengurangi volume bahan baku. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dampak perubahan bentuk terhadap konsentrasi kandungan pada kayu secang, sehingga menghasilkan pertimbangan yang dapat digunakan dalam merancang sebuah produk berbahan kayu secang. Percobaan dilakukan pada 4 jenis perlakuan, yaitu spesimen N mewakili perlakuan pemakaian berulang, spesimen LPA dan LPB mewakili perlakuan luas permukaan yang berbeda, dan spesimen V mewakili perlakuan dengan volume yang berbeda. Masing-masing perlakuan menghasilkan larutan yang diukur menggunakan Spectorphotometry UV-Vis. Hasil pengukuran pada masing-masing larutan spesimen menunjukkan nilai absorbansi dapat dijadikan pertimbangan dalam merancang produk berbahan kayu secang. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan adalah jarak antar rongga, ketebalan produk dan pola pemotongan bahan.

Perbedaan bentuk kayu secang mempengaruhi kadar kandungan yang terekstrak, yang dapat diukur melalui nilai absorbansi larutan menggunakan UV-Vis.Penelitian ini menguji empat jenis perlakuan (pemakaian berulang, luas permukaan LPA dan LPB, serta volume) dengan tiga parameter utama.Hasil menunjukkan nilai absorbansi dapat menjadi acuan dalam merancang produk kayu secang, dengan perhatian pada jarak antar rongga, ketebalan produk, dan pola pemotongan.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki bagaimana variasi tekstur permukaan kayu secang, seperti penggunaan pola mikropori atau nanostruktur, memengaruhi efisiensi ekstraksi flavonoid dibandingkan dengan lubang makro yang diuji pada studi ini. Selanjutnya, dapat dilakukan perbandingan performa absorbansi antara kayu secang dengan jenis kayu lain yang mengandung senyawa bioaktif serupa, untuk menentukan apakah temuan ini bersifat spesifik atau dapat digeneralisasikan ke bahan kayu lain. Selain itu, diperlukan kajian jangka panjang mengenai stabilitas kandungan flavonoid dalam produk akhir setelah proses pembuatan dan penggunaan berulang, guna memastikan keamanan dan manfaat kesehatan konsumen. Akhirnya, penelitian dapat meneliti integrasi teknik pencetakan 3D dalam membentuk kayu secang dengan geometri optimal, sehingga meningkatkan luas permukaan tanpa mengorbankan kekuatan struktural, dan menguji dampaknya terhadap nilai absorbansi serta ergonomi produk. Dengan menggabungkan pendekatan material, kimia, dan manufaktur ini, diharapkan dapat menghasilkan desain produk kayu secang yang lebih efisien, estetis, dan berkelanjutan.

Read online
File size693.68 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test