JURNALPOLTEKKESMALUKUJURNALPOLTEKKESMALUKU

JKTJKT

Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang sering menyebabkan gagal napas dan memiliki angka mortalitas yang tinggi. Kondisi ini memerlukan penanganan yang cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi yang fatal. Perawat berperan penting dalam deteksi dini dan penatalaksanaan pneumonia, sedangkan diagnosis keperawatan yang akurat menjadi dasar pemberian asuhan keperawatan yang tepat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tanda dan gejala serta diagnosis keperawatan pada pasien pneumonia. Penelitian deskriptif retrospektif ini menggunakan data sekunder berupa rekam medis dari 178 pasien pneumonia yang dirawat di Unit Perawatan Intensif (ICU) Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan selama periode Januari–Desember 2024. Sampel dipilih dengan teknik consecutive sampling sehingga diperoleh 58 pasien. Data dikumpulkan menggunakan lembar rekapitulasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 67,2% pasien mengalami sesak napas, 67,2% mengalami batuk, dan 50% mengalami takikardia. Diagnosis keperawatan yang paling sering ditemukan adalah bersihan jalan napas tidak efektif (51,7%), pola napas tidak efektif (37,9%), dan gangguan pertukaran gas (29,3%). Pneumonia secara konsisten memberikan dampak klinis yang signifikan sehingga memerlukan respons keperawatan yang terstruktur. Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan desain pengumpulan data secara real-time agar data yang belum terdokumentasi atau hilang dapat segera diidentifikasi dan diminimalkan.

Gejala dan tanda paling umum pada pneumonia terkait ventilator (VAP) pada pasien unit perawatan intensif (ICU) meliputi dispnea, batuk, takikardia, produksi sputum berlebih, perubahan frekuensi pernapasan, penggunaan otot pernapasan, penurunan kapasitas vital, peningkatan suhu tubuh, takipnea, dan kulit hangat.Diagnosis keperawatan yang umum pada pasien pneumonia meliputi pembersihan jalan napas tidak efektif, pola napas tidak efektif, pertukaran gas yang terganggu, hipertermia, nyeri akut, penurunan kapasitas adaptif intrakranial, intoleransi aktivitas, defisit gizi, risiko ketidakseimbangan cairan, risiko jatuh, diare, serta risiko shock dan gangguan sirkulasi spontan.Peneliti di masa mendatang disarankan untuk mengumpulkan data lengkap dari unit gawat darurat melalui ICU hingga perawatan inpatient guna menganalisis perbedaan diagnosis keperawatan pada berbagai titik waktu dan kondisi.

Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan desain longitudinal yang memantau perubahan diagnosis keperawatan pada pasien pneumonia mulai dari unit gawat darurat, melalui ICU, hingga fase perawatan rawat inap, untuk mengidentifikasi variasi diagnosis pada tiap tahap perawatan. Selanjutnya, diperlukan studi intervensi yang mengimplementasikan daftar periksa penilaian keperawatan standar pada VAP serta mengevaluasi pengaruhnya terhadap hasil klinis seperti durasi ventilasi, kejadian komplikasi, dan kualitas hidup pasien. Selain itu, penelitian komparatif dapat membandingkan efektivitas intervensi khusus yang ditujukan pada diagnosis pembersihan jalan napas tidak efektif dengan intervensi pada diagnosis lain seperti pola napas tidak efektif atau pertukaran gas, guna menentukan strategi keperawatan yang paling efisien dalam mengurangi morbiditas VAP. Penelitian juga dapat meneliti faktor-faktor demografis dan klinis yang memengaruhi munculnya diagnosis keperawatan tertentu, seperti usia, tingkat pendidikan, atau keberadaan comorbiditas, untuk memperkuat stratifikasi risiko dan personalisasi intervensi keperawatan. Ketiga arah penelitian ini diharapkan memberikan gambaran menyeluruh tentang dinamika diagnosis keperawatan serta meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien VAP.

Read online
File size308.15 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test