UKITORAJAUKITORAJA

Elementary Journal : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah DasarElementary Journal : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Guru SD perlu menguasai berbagai subjek pelajaran dan salah satu subjek yang perlu dikuasai guru SD adalah Seni. Namun pada umumnya pembelajaran seni di sekolah dasar sering dianggap kurang penting karena persepsi bahwa seni membutuhkan bakat bawaan dan tidak semua siswa berbakat seni. Hal ini menyebabkan banyak sekolah yang tidak mengajarkan mata pelajaran kesenian secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa tingkat pertama calon guru SD terhadap mata kuliah Seni, Budaya, dan Kerajinan, sehingga bisa dijadikan data awal untuk menganalisis pembelajaran kesenian dan menyusun modul ajar yang tepat sasaran. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif deskriptif yang menggunakan instrumen kuesioner yang disebarkan kepada 81 mahasiswa tingkat pertama sebelum dan sesudah perkuliahan. Hasil analisis data ditemukan bahwa mahasiswa mempunyai persepsi yang positif terhadap mata kuliah Seni, Budaya, dan Kerajinan, walaupun sebagian mahasiswa merasa cemas ketika mengikuti mata kuliah dikarenakan merasa tidak berbakat atau tidak kreatif. Namun mahasiswa berhasil mengatasi kecemasan mereka seiring mengikuti perkuliahan melalui pembelajaran dan tugas yang bervariatif.

Mahasiswa prodi PGSD UPH menunjukkan persepsi yang baik terhadap mata kuliah Seni, Budaya, dan Kerajinan, dengan rata‑rata skor tinggi (2,80–4,72) termasuk kategori positif.Meskipun terdapat kecemasan awal terkait kurangnya bakat pada sub‑kepribadian (skor 2,80), kecemasan tersebut berkurang setelah perkuliahan (skor 3,00) berkat pembelajaran dan tugas variatif.Mahasiswa menyadari bahwa talenta dan bakat merupakan karunia Allah yang harus dikembangkan, sehingga mereka berkomitmen untuk mengasah kemampuan seni mereka.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi bagaimana persepsi positif mahasiswa terhadap mata kuliah Seni, Budaya, dan Kerajinan bertranslasi menjadi praktik mengajar di kelas nyata, dengan melakukan studi longitudinal pada lulusan PGSD yang sudah ditempatkan di sekolah dasar untuk menilai dampak pembelajaran seni terhadap motivasi dan kreativitas siswa (pertanyaan penelitian: bagaimana implementasi pembelajaran seni oleh lulusan PGSD mempengaruhi hasil belajar siswa?). Selanjutnya, perlu dilakukan perbandingan persepsi antara mahasiswa yang memiliki latar belakang seni sebelumnya dengan yang tidak, guna mengidentifikasi faktor‑faktor yang memoderasi rasa cemas dan persepsi kemampuan kreatif (pertanyaan penelitian: faktor apa yang mempengaruhi perbedaan persepsi seni antara mahasiswa dengan dan tanpa pengalaman seni sebelumnya?). Akhirnya, pengembangan modul ajar berbasis teknologi digital yang terintegrasi dengan strategi pembelajaran berbasis proyek dapat diuji efektivitasnya melalui eksperimen terkontrol, menilai peningkatan kompetensi mengajar seni serta penerimaan mahasiswa (pertanyaan penelitian: apakah modul digital berbasis proyek meningkatkan kompetensi mengajar seni dibandingkan metode konvensional?). Dengan pendekatan yang sederhana, jelas, dan melibatkan partisipasi langsung dari mahasiswa serta guru praktik, ketiga studi ini diharapkan dapat memperkuat dasar teori dan memberikan panduan praktis bagi peningkatan kualitas pendidikan seni di tingkat dasar.

  1. EVALUASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SENI BUDAYA SMA DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR, NTB | Jurnal Penelitian... journal.uny.ac.id/index.php/jpep/article/view/1701EVALUASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SENI BUDAYA SMA DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR NTB Jurnal Penelitian journal uny ac index php jpep article view 1701
  2. Dilema Implementasi Pembelajaran Seni: Persepsi Guru Sekolah Dasar di Tengah Pergeseran Kebijakan | Jurnal... doi.org/10.31004/basicedu.v8i4.7462Dilema Implementasi Pembelajaran Seni Persepsi Guru Sekolah Dasar di Tengah Pergeseran Kebijakan Jurnal doi 10 31004 basicedu v8i4 7462
Read online
File size496.08 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test