UBUB

Journal of Psychiatry Psychology and Behavioral ResearchJournal of Psychiatry Psychology and Behavioral Research

Pendahuluan – Penyalahgunaan seksual anak (CSA) terjadi ketika seorang anak atau orang muda dipaksa atau dibujuk untuk melakukan aktivitas seksual, baik anak tersebut menyadari apa yang terjadi maupun tidak. Menurut basis data global, pada sepertiga negara di dunia, setidaknya 5 % perempuan muda melaporkan pengalaman penyalahgunaan seksual pada masa kanak-kanak. Masalah kesehatan mental, manifestasi perilaku, dan konsekuensi interpersonal merupakan beberapa dampak CSA. Penelitian ini bertujuan membahas dampak CSA pada masa dewasa. Metode – Peneliti menggunakan 13 karya literatur, artikel, dan jurnal yang membahas CSA serta korelasinya dengan beberapa masalah kesehatan mental pada orang dewasa. Hasil – Dewasa dengan riwayat CSA lebih cenderung mengalami depresi onset dini, gangguan kepribadian ambang, dan kecenderungan bunuh diri dibandingkan individu tanpa riwayat tersebut, sehingga dukungan emosional menjadi sangat penting bagi penyintas CSA. Diskusi – Penyalahgunaan seksual pada anak dapat menimbulkan berbagai kesulitan dalam hubungan, termasuk konsekuensi hubungan intim yang buruk seperti serangan seksual dewasa, kekerasan pasangan intim, dan penurunan kebahagiaan dalam hubungan romantis. Kesimpulan – Penyalahgunaan seksual pada masa kanak-kanak masih menjadi masalah utama dan memiliki beberapa dampak psikologis pada masa dewasa, serta dukungan emosional merupakan terapi yang efektif.

Penyalahgunaan seksual pada masa kanak-kanak tetap menjadi masalah utama di dunia dan menyebabkan beragam dampak psikologis pada dewasa, seperti depresi, rasa malu, rasa bersalah, penyangkalan, kecemasan, gangguan makan, serta masalah hubungan interpersonal.Faktor-faktor seperti intensitas penyalahgunaan, jumlah pengalaman penyalahgunaan, dan usia pertama kali mengalami penyalahgunaan meningkatkan risiko dampak tersebut.Dukungan emosional dari keluarga, teman, dan konselor memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan mental korban, melengkapi pengobatan farmakologis untuk depresi, dan membantu korban menyadari bahwa mereka tidak sendirian serta memiliki sumber daya untuk hidup lebih bahagia.

Penelitian selanjutnya dapat menguji efektivitas berbagai bentuk intervensi dukungan emosional—seperti terapi berbasis rasa empati, kelompok pendukung, maupun aplikasi digital interaktif—dalam mengurangi tingkat depresi, kecemasan, serta kecenderungan bunuh diri pada penyintas CSA dewasa, serta mengevaluasi faktor-faktor yang memoderasi keberhasilan intervensi tersebut. Selain itu, studi longitudinal yang melibatkan program deteksi dini penyalahgunaan seksual di lingkungan sekolah dapat mengevaluasi bagaimana intervensi awal, termasuk pelatihan guru dan penyuluhan kepada orang tua, memengaruhi kesehatan mental jangka panjang korban, khususnya dalam mencegah munculnya gangguan kecemasan, depresi, dan perilaku maladaptif lainnya. Selanjutnya, penelitian komparatif antara laki-laki dan perempuan dapat menyelidiki perbedaan prevalensi serta mekanisme munculnya gangguan makan pada orang dewasa yang pernah mengalami CSA, dengan tujuan mengidentifikasi faktor risiko spesifik gender serta peran faktor sosio‑kultural dalam memperparah atau melindungi kondisi tersebut. Keseluruhan kajian tersebut diharapkan dapat memperkaya pemahaman tentang strategi bantuan psikologis yang paling efektif, meningkatkan kebijakan pelayanan kesehatan mental, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup serta kesejahteraan penyintas CSA.

  1. APA PsycNet. psycnet loading doi.org/10.1037/a0026079APA PsycNet psycnet loading doi 10 1037 a0026079
  2. CHILDHOOD SEXUAL ABUSE IMPACT ON ADULTHOOD | Journal of Psychiatry Psychology and Behavioral Research.... doi.org/10.21776/ub.jppbr.2024.005.02.5CHILDHOOD SEXUAL ABUSE IMPACT ON ADULTHOOD Journal of Psychiatry Psychology and Behavioral Research doi 10 21776 ub jppbr 2024 005 02 5
Read online
File size231.4 KB
Pages3
DMCAReport

Related /

ads-block-test