UNIVERSITASMULIAUNIVERSITASMULIA

JURNAL PELANGIJURNAL PELANGI

Latar belakang penelitian ini adalah menurunnya praktik keagamaan anak usia dini di era digital dan meningkatnya paparan gawai yang berpotensi menggeser stimulasi nilai spiritual. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berperan penting sebagai fondasi, di mana pembiasaan ibadah seperti salat dhuha di KB IT Mumtaz Foundation diamati mampu menstimulasi kecerdasan spiritual anak. Tujuan penelitian adalah: (1) mendeskripsikan implementasi program pembiasaan salat dhuha sebagai stimulus kecerdasan spiritual anak usia 5–6 tahun, dan (2) mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa implementasi program pembiasaan salat dhuha di KB IT Mumtaz Foundation Balikpapan telah dilaksanakan secara sistematis, terstruktur, dan konsisten sebagai bagian dari kegiatan harian sekolah.Program ini dijalankan berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan tahapan persiapan, pelaksanaan, dan penutup, serta didukung oleh keteladanan guru, pendampingan berbasis scaffolding, dan suasana pembelajaran yang menyenangkan.Konsistensi pelaksanaan membentuk rutinitas ibadah (habit formation) pada anak.Program pembiasaan salat dhuha terbukti efektif dalam menstimulasi kecerdasan spiritual anak usia 5–6 tahun, yang terlihat melalui perkembangan lima indikator, yaitu kemampuan melakukan ibadah dasar, pemahaman nilai baik dan buruk, penerapan sikap spiritual dalam kehidupan sehari-hari, empati dan perilaku tolong-menolong, serta kedisiplinan beribadah.Perkembangan tersebut terlihat dari peningkatan kategori capaian perkembangan anak selama masa observasi.Keberhasilan program didukung oleh faktor internal dan eksternal, meliputi konsistensi pelaksanaan, keberadaan SOP, peran guru sebagai teladan dan pendamping, penerapan strategi pembelajaran yang tepat, ketersediaan sarana prasarana, serta dukungan orang tua dalam memperkuat pembiasaan di rumah.Adapun faktor penghambat meliputi karakteristik perkembangan anak seperti kondisi emosi yang belum stabil, kendala teknis sarana prasarana, serta perbedaan tingkat konsistensi pembiasaan di lingkungan keluarga.Secara teoretis, temuan penelitian ini menguatkan teori pembiasaan Hurlock, teori belajar sosial Bandura, konsep scaffolding Vygotsky, serta konsep kecerdasan spiritual Zohar dan Marshall, yang menunjukkan bahwa pembiasaan ibadah yang dilakukan secara konsisten dan didukung keteladanan mampu menstimulasi perkembangan kecerdasan spiritual anak usia dini.

Berdasarkan hasil penelitian, saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: . 1. Menganalisis dampak jangka panjang dari program pembiasaan salat dhuha terhadap perkembangan spiritual anak usia dini. Penelitian ini dapat mengeksplorasi apakah pembiasaan ibadah yang konsisten dapat membentuk karakter religius yang kuat dan berkelanjutan pada anak-anak, serta bagaimana hal ini mempengaruhi perkembangan spiritual mereka di masa depan.. 2. Meneliti peran orang tua dalam mendukung pembiasaan ibadah di rumah. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana orang tua dapat terlibat secara aktif dalam pembiasaan ibadah anak, dan bagaimana dukungan orang tua dapat memperkuat dampak program pembiasaan salat dhuha di sekolah. . 3. Mengembangkan strategi intervensi untuk mengatasi faktor penghambat dalam pembiasaan ibadah. Penelitian ini dapat berfokus pada pengembangan metode-metode inovatif untuk mengatasi kendala teknis, seperti penggunaan teknologi atau sumber daya yang lebih baik, serta strategi untuk meningkatkan konsistensi pembiasaan ibadah di lingkungan keluarga.

Read online
File size389.02 KB
Pages4
DMCAReport

Related /

ads-block-test