UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI

HUMANISMA : Journal of Gender StudiesHUMANISMA : Journal of Gender Studies

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap adanya ketimpangan gender dalam penyelenggaraan pendidikan di pesantren karena didapati sebuah fenomena berupa regulasi pesantren yang membatasi peran mengajar guru perempuan, khususnya guru perempuan dilarang mengajar di kelas siswa laki-laki. Pembatasan peran mengajar ini menimbulkan kesan bahwa pesantren telah melakukan marjinalisasi terhadap peran guru perempuan. Menimbang atas adanya kesan negatif pada instansi pesantren karena fenomena tersebut, maka masalah ini perlu digali lebih dalam, khususnya dari sudut pandang guru pesantren itu sendiri yang diasumsikan termarjinalisasi perannya. Penelitian ini mengamati fenomena di atas dengan menggali pendapat para guru di pondok pesantren dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui instrumen kuesioner dan wawancara mendalam. Jumlah sampel untuk instrumen kuesioner dalam penelitian ini adalah 150 guru pesantren yang terdiri dari 75 guru perempuan dan 75 guru laki-laki. Sedangkan untuk wawancara mendalam dilakukan terhadap 3 guru. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pembatasan tersebut tidak dapat secara gegabah diklaim sebagai bentuk kebijakan regulasi yang tidak adil gender. Hal ini dikarenakan data yang diperoleh justru menunjukkan bahwa mayoritas guru pesantren, baik laki-laki maupun perempuan, setuju dengan pembatasan tersebut dengan berbagai alasan dan argumentasi.

In the pesantren environment, there is a pattern or a kind of unique and unique rule in allocating a teachers teaching role.It turns out that female teachers are only given permission to teach female student classes and may not teach in male student classes, but not for male teachers.Whereas in principle, men and women have an equal position in relation to being actors of human resource development through education.Of course, the regulations that limit the teaching role of women above create the impression that pesantren have marginalized the role of female teachers.To ascertain whether it is true that the pesantren regulations cause gender inequality or the opposite, it is necessary to conduct a deeper research of this phenomenon, especially from the perspective of the pesantren teachers themselves.Of the 70 pesantren teachers consisting of 35 male teachers and 35 female teachers who filled out the questionnaire, there were varied answers regarding the restriction.1% of teachers agree because it aims to minimize mudhorot in accordance with the principle of Daru al Mafasid Muqaddamun ala Jalbi al Mashalih, 20% disagree because it is not gender fair, and the rest of the answers are mixed with categorisation 71% of male teachers agree and 29% of them disagree, 65% of female teachers agree and 35% of them disagree and relatively.Second, if their relative answers are reduced, the results and that between disagreeing, they will consider several aspects, namely marital status, potential mudhorot, and the availability of teachers.Third, from the results of in-depth interviews, 3 interviewees stated that they agreed to the restriction because they considered the potential harm that could occur if female teachers taught in male student classes with the intention of applying the fiqh rule Darul Mafāsid Muqaddamun alā Jalbil Maşalih, namely rejecting mafsadah takes precedence over attracting benefits.Fourth, it is concluded that the mudhorot that the informants mean leads to several things, including the potential to disrupt the focus of male student learning and the vulnerability of female teachers to harmful treatment in the classroom so that the restrictions on teaching roles applied in pesantren actually have a positive impact in the form of saving pesantren policy makers from female teachers from potential dangers that are very likely to occur.Thus, from the many descriptions above, the authors concludes that the restrictions on teaching roles for female teachers made by pesantren policy makers (caregivers), should not be hastily seen as a form of gender inequality practices in pesantren.Because in reality in the field, the female teachers actually agree with the regulation because they feel ennobled by the restriction because they feel protected and kept away by the caregivers of the pesantren from things that have great potential to happen to them.

Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam tentang persepsi dan pengalaman guru perempuan di pesantren terkait dengan pembatasan peran mengajar mereka. Penelitian ini dapat menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi partisipan untuk memahami perspektif dan pengalaman mereka secara lebih komprehensif. Kedua, penelitian selanjutnya dapat fokus pada dampak pembatasan peran mengajar terhadap kualitas pendidikan di pesantren. Apakah pembatasan ini berdampak positif atau negatif terhadap proses belajar mengajar dan perkembangan siswa? Apakah ada alternatif kebijakan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tanpa mengabaikan aspek kesetaraan gender? Ketiga, penelitian lanjutan juga dapat mengeksplorasi faktor-faktor sosial, budaya, dan agama yang mempengaruhi kebijakan pembatasan peran mengajar guru perempuan di pesantren. Dengan memahami faktor-faktor ini, kita dapat mengembangkan strategi intervensi yang lebih efektif untuk mempromosikan kesetaraan gender dalam pendidikan pesantren.

  1. Bias Gender Dalam Masyarakat Muslim: Antara Ajaran Islam Dengan Tradisi Tempatan | Jurnal Fiqh. bias... doi.org/10.22452/fiqh.vol7no1.3Bias Gender Dalam Masyarakat Muslim Antara Ajaran Islam Dengan Tradisi Tempatan Jurnal Fiqh bias doi 10 22452 fiqh vol7no1 3
  2. KESETARAAN GENDER DI PESANTREN DALAM KAJIAN LITERATUR | Jauhari | Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah,... journal2.um.ac.id/index.php/sejarah-dan-budaya/article/view/6837KESETARAAN GENDER DI PESANTREN DALAM KAJIAN LITERATUR Jauhari Sejarah dan Budaya Jurnal Sejarah journal2 um ac index php sejarah dan budaya article view 6837
  3. Portal Jurnal LP2M SASBABEL. portal jurnal lp2m sasbabel akses artikel silahkan kunjungi web disini ilmiah... doi.org/10.32923/kjmp.v6i2.3949Portal Jurnal LP2M SASBABEL portal jurnal lp2m sasbabel akses artikel silahkan kunjungi web disini ilmiah doi 10 32923 kjmp v6i2 3949
  4. Vol. 1 No. 2 (2023): Mei : Jurnal Ilmu Hukum dan Administrasi Negara | Eksekusi : Jurnal Ilmu Hukum dan... doi.org/10.55606/eksekusi.v1i2Vol 1 No 2 2023 Mei Jurnal Ilmu Hukum dan Administrasi Negara Eksekusi Jurnal Ilmu Hukum dan doi 10 55606 eksekusi v1i2
  5. Pengembangan Keterampilan Abad Ke-21 Dalam Pembelajaran Geografi | Zenodo. pengembangan keterampilan... doi.org/10.5281/zenodo.8051738Pengembangan Keterampilan Abad Ke 21 Dalam Pembelajaran Geografi Zenodo pengembangan keterampilan doi 10 5281 zenodo 8051738
Read online
File size289.85 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test